Sabtu, 23 Januari 2016
MENGINTIP NILAI ESTETIKA SYAIR ALFIYAH IBNU MALIK DALAM KACAMATA TAFSIR HERMENEUTIK-SUFISTIK
Ahmad Shofi Muhyiddin
Episode 1
Bahasa Arab (diakui) sebagai satu-satunya bahasa dunia yang paling komprehensif; ia memiliki kekayaan metodologi dan kosa kata yag melimpah ruah.
(Gustave E. Von Gruenebaum, Medieval Islam; A Study in Cultural Orentation)
Abstrak
Tulisan ini berupaya mengungkapkan beberapa karakteristik syair-syair “Alfiyah Ibnu Malik” dengan menggunakan metode hermeneutika dan wacana hermeneutika dalam perspektif tasawuf (ta’wil). Dapat dikemukakan bahwa syair-syair Ibnu Malik al-Andalusy merupakan sebuah karya sastra yang kaya dengan pengalaman ruhani berkenaan dengan keindahan dan cinta Illahiyah, syair Ibnu Malik memiliki kesamaan tematik dengan puisi tradisi sufi tentang kerinduan, mistisme cinta, tingkatan-tingkatan ruhani menuju makrifat, dan bahkan penyatuan cinta dalam fana.
Potret Estetika dalam Karya Sastra; Sebuah Pendahuluan.
Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika yang dominan.(1) Dalam hal ini, estetika dalam karya sastra menjadi suatu elemen penting yang eksistensinya berperan dalam menentukan kiblat baiknya sebuah karya sastra. Estetika dalam karya sastra selalu berdiri sejajar dengan etika. Dalam diskursus kesusastraan, etika dapat ditafsirkan sebagai nilai moral, sedangkan estetika sebagai nilai keindahan dalam karya sastra.(2)
Dalam sajak, estetika menjadi semakin penting peranannya karena sajak adalah genre sastra yang mengemas peristiwa dalam diksi yang padat dan secara total memberdayakan dengan penuh aspek estetikanya. Estetika dalam sajak berdiri sejajar dengan makna. Tidak mengherankan bila kesempurnaan sajak sangat ditentukan oleh bangunan estetikanya. Pentingnya peran estetika dalam sajak ini karena secara umum merupakan makna dari nilai-nilai keindahan dan keagungan pemikiran yang terdapat di dalam sajak.
Dalam Tulisan sederhana ini, penulis akan mencoba melakukan penafsiran makna syair-syair Ibnu Malik al-Andalusy, dikaji dengan membahas estetika sajak kaitannya dengan makna simbol dalam bait-bait syair tersebut (penafsiran dalam kaca mata hermeneutik-sufistik).
Ibnu Malik dan Kultur Andalusia; Secarik Curiculum Vitae.
Beliaulah Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah bin Malik at-Thoy al-Jayyany. Beliau lahir pada tahun 600 H atau bertepatan dengan 21 Februari 1203 M di sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol) yang bernama Jayyan.(3) Pada saat itu, penduduk Negeri ini sangat cinta akan ilmu, dan mereka pun berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam menelorkan beberapa kitab.
Pada masa kecil, Ibnu Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syekh al-Syalaubini (w. 645 H). Beliau memulai perjalanan intelektualnya dengan menghafal al-Quran beserta qiroat-qiroatnya dari sang guru yang bernama Tsabit bin Khiyar al-Kalaa’i seorang penduduk Lubbah, mempelajari disiplin ilmu nahwu, fiqh madzhab Maliki.(4) Setelah menginjak dewasa, beliau berangkat ke Timur untuk menuaikan ibadah Haji, dan selanjutnya diteruskan menuntut ilmu di Damaskus. Di sana beliau belajar ilmu dari beberapa ulama’ setempat, misalnya al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana, kemudian beliau melanjutkan rihlah intelektualnya di Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syekh Ibnu Ya’isy al-Hallaby (w. 643 H).(5)
Di kawasan dua kota ini, nama Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuwan, karena beliau termasuk orang yang cerdas dan pemikirannya yang jernih. Beliau banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori madzhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh masyarakat Syiria kala itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya seperti Imam al-Nawawi, Ibnu al-Athar, al-Mizzi, al-Dhahabi, al-Shairafi, dan Qodhi Qudhot ibnu Jama’ah.(6) Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini senantiasa mengambil syahid atau dalil atas teorinya itu dari al-Quran, kalau tidak didapatkan, beliau menyajikan dari teks Hadits, dan kalau tidak menemukan lagi, maka beliau menyajikan dalil dari syair-syair para sastrawan Arab kenamaan.(7)
Estetika dalam Sastra; Sebuah Pengenalan.
Sebagai cabang filsafat dan ilmu yang berdiri sendiri, estetika terlepas dari metafisika, logika, etika, dan teologi, terjadi sejak abad ke-18, dan pandangan sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagian masih dipertahankan sampai masa kini. Buku paling awal yang membahas estetika sebagai ilmu tersendiri ialah karya Baumgarten, seorang filsuf rasionalis Jerman, buku itu diberi judul Aesthetica (1950).(8)
Kata “aesthetica” diambil dari kata Yunani “aesthesis”, yang artinya pengamatan indera atau sesuatu yang merangsang indera. Dari arti perkataan itu, Baumgarten mengartikan estetika sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang dapat diamati dan merangsang indera, khususnya karya seni. Dalam perkataan “aesthesis” juga tercakup pengertian sensasi atau reaksi organisme tubuh manusia terhadap rangsangan luar. Begitulah, dalam pengertian tersebut tercakup reaksi perasaan terhadap objek pengamatan inderawi, kecenderungan jiwa manusia terhadap segala sesuatu yang menjadi sasaran.(9) Secara umum kajian dalam estetika ini mengandung tiga unsur utama, yaitu:
1. Pembicaraan tentang hakikat karya seni dan objek-objek indah buatan manusia.
2. Pembicaraan tentang maksud dan tujuan penciptaan karya seni, serta cara bagaimana memahami dan menafsirkannya.
3. Mencari tolak-ukur penilaian karya seni dengan kaidah-kaidah tertentu. Tolak ukur bobot dan keindahan karya seni juga harus dikaitkan dengan besar-kecilnya kesempurnaan yang ditampilkan karya seni.
Dalam hal ini, para ahli estetika melihat besar-kecilnya kesempurnaan dalam karya seni secara umum memberikan patokan, yaitu:
(1) Sempurna dilihat dari sudut bobot gagasan, konsep, dan wawasannya.
(2) Sempurna dilihat dari besarnya fungsi sebuah karya seni dalam kehidupan manusia.
(3) Sempurna dilihat dari sudut nilai-nilai yang ditawarkan karya seni dan relevansinya bagi perkembangan kebudayaan.
(4) Sempurna dilihat dari sudut kesesuaian karya seni dengan cita-cita kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan atau keruhanian yang hendak ditegakkan manusia. dan
(5) Sempurna dilihat dari sudut kegunaan.(10)
Keterkaitannya dengan sastra, estetika menjadi suatu elemen penting yang mengemas makna yang akan dikomunikasikan dalam karya sastra. Estetika kedudukannya seperti tubuh atau wadah yang menyimpan makna, gagasan, pemikiran, dan amanat. Kedudukan estetika dalam sastra dikemas dalam bentuk kata-kata (bahasa) yang berwujud ungkapan. Hal inilah yang membedakan antara estetika dalam seni sastra dan seni-seni lainnya. Estetika dalam sastra melesap dalam bahasa, estetika seni lukis melesap dalam warna dan garis, estetika seni musik melesap dalam bunyi atau suara, sedangkan estetika seni tari melesap dalam gerak. Dengan demikian, estetika dalam sastra bisa ditafsirkan setelah karya sastra direkuperasi arti atau bahkan maknanya secara menyeluruh. Akhirnya memahami estetika dalam sastra sama kedudukannya seperti kita memahami makna dalam sastra. Oleh karena itu, antara makna dan estetika dalam karya sastra menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Estetika pada akhirnya menjadi idiosinkrasi dari seni (seni sastra), di mana estetika sering menjadi hal yang paling ditonjolkan dalam karya sastra.(11)
Sastrawan dalam menciptakan karya sastra selalu mengindahkan nilai-nilai estetikanya. Nilai estetika pada gilirannya menjadi corak yang khas dalam karya sastra. Tidak mengherankan jika T.S. Elliot (sastrawan ternama dari Inggris) menafsirkan bahwa keindahan karya sastra sangat ditentukan oleh aspek kesastraannya atau estetikanya, sedangkan keagungannya sangat ditentukan oleh pemikirannya. Namun, pemikiran dalam karya sastra selalu melembaga di dalam aspek estetikanya. Oleh karena itu, estetika dan pemikiran dalam sastra tidak bisa dijauhkan eksistensinya. Keduanya menjadi bagian penting yang membangun karya sastra. Menafsirkan dan meretas nilai estetika di dalam karya sastra sama halnya dengan menafsirkan makna pemikiran yang terdapat di dalam karya sastra.(12)
Tafsir Hermeneutik-Sufistik; Tranfaransi Kitab Alfiyah Ibnu Malik.
a). Terminologi Hermeneutik-Sufistik.
Pada awalnya keberadaan hermeneutika itu merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan oleh mereka yang berhubungan dengan kitab suci, terutama Injil. Hermeneutika diberdayakan sebagai ilmu untuk menafsirkan kehendak Tuhan kepada manusia, model ini hanya milik kaum penafsir kitab suci, kemudian hermeneutika berkembang dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang luas. Kajian terhadap hermeneutika sebagai sebuah bidang keilmuan mulai marak pada abad ke-20, di mana kajian hermeneutika semakin berkembang. Hermeneutika tidak hanya mencakup kajian terhadap kitab suci saja (teks keagamaan) dan teks klasik, melainkan berkembang jauh kepada ilmu yang lain. Adapun ilmu-ilmu yang terkait erat dengan hermeneutika adalah ilmu sejarah, filsafat, hukum, kesusastraan, dan bidang ilmu yang terkait dengan pengetahuan tentang kemanusiaan.
Secara etimologis kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, yaitu hermeneuein, yang berarti “menafsirkan, menerjemahkan, dan mengartikan”. Dari kata hermeneuein ini dapat ditarik kata benda hermeneia yang berarti “penafsiran” atau “interpretasi”, dan kata hermeneutes yang berarti “penafsir”. Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah seorang dewa Yunani Hermes yang dianggap sebagai utusan dewa langit.(13) Kedudukan Hermes adalah dewa yang menyampaikan pesan para dewa kepada manusia sehingga dapat dikatakan ia tidak hanya mengumumkan kepada mereka kata demi kata saja, melainkan bertindak sebagai penerjemah yang menjadikan kata-kata para dewa dapat dimengerti dengan jelas dan bermakna; di samping itu, dapat memunculkan penjelasan terhadapnya atau hal lainnya sebagai tambahan, yang hal itu disebut sebagai tafsiran hermeneutika. Dari sinilah hermeneutika terikat kepada dua tugas yaitu, pertama, memastikan isi dan makna sebuah kata atau kalimat dalam teks; kedua, menemukan instruksi-instruksi yang terdapat di dalam bentuk simbolisasi.
Di sini ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pertama, karya sastra, yang dalam hal ini penulis lebih mengerucutkan pada syair-syair sufistik, karena tradisi para sufi adalah menyusun gagasan-gagasan mereka dalam bentuk puisi, kebiasaan membuat nadhom (puitisasi) untuk mempermudah mempelajari ilmu-ilmu fiqih, nahwu-shorf (gramatikal arab), dan ilmu-ilmu lain yang terwariskan hingga kini di lingkungan pesantren-pesantren Salafiyah (konvensional-tradisional) merupakan sebuah contoh nyata. Karya Sastra adalah sebuah simbolisasi yang berarti bukan sekadar mimesis (tiruan) atas kenyataan inderawi, tetapi pengkiasan (mitsal) atau salinan menggunakan kias atau simbol terhadap gagasan yang lahir dari pengalaman batin penulis, jadi merupakan salinan daripada sesuatu yang terdapat dalam alam rohani. Kedua, fakulti yang dapat memahami gagasan yang terdapat dalam alam rohani dan transformasinya ke dalam ungkapan estetik yang simbolik ialah akal kontemplatif dan imaginasi kreatif.(14)
Mengenai peranan imaginasi kreatif, Abdul Karim al-Jili dalam Kitab “al-Insan al-Kamil” mengatakan bahwa imaginasi merupakan asas dan sumber dari kewujudan sesuatu yang berkaitan dengan kreativitas manusia. Ia adalah intipati pengalaman batin, yang di dalamnya kehadiran ucapan teofani dan pancaran alam kerohanian dapat dimungkinkan keberadaannya (Corbin, 1977). Dalam kaitannya dengan teks sebagai peristiwa bahasa dan sekaligus model dari tindakan pemikiran dan perenungan, imaginasi jelas sangat diperlukan. Pertama-tama karena kedudukan kata-kata dan ungkapan kunci tertentu dalam teks sangat unik, bukan semata-mata sebagai penuturan logis, melainkan sebagai penuturan simbolik yang penuh nuansa. Sebagaimana imaginasi kreatif, dunia yang ditempati makna terdalam teks adalah alam yang lebih tinggi dari alam perasaan dan pikiran biasa.(15)
Membincang seputar imaginasi kreatif, kita dapat mengambil contoh pendekatan Iqbal(16) yang bersumber dari tradisi hermeneutik-sufistik dan dilandasi oleh semangat profetik, bisa dipertemukan dengan pandangan Heidegger seperti terlihat dalam bukunya “The Origin of Work of Art”, yang dijadikan acuan pendekatan hermeneutik Hans Georg-Gadamer. Pendekatan Iqbal dan Heidegger terhadap sastra, khususnya puisi atau syair, ternyata berfaedah sebagai landasan untuk memahami berbagai ragam karya spiritualistik, sufistik, dan profetik yang muncul selama beberapa dasawarsa ini di Timur maupun Barat.(17) Bahkan Iqbal lebih jauh lagi ke depan, dengan mengatakan bahwa sastra yang sejati semestinya mampu menjadi pembimbing kemanusiaan dengan pesan keruhanian dan profetiknya. Jika Heidegger menunjuk puisi-puisi Hoerderlin sebagai contoh karya sastra yang membawakan pesan dan semangat profetik, suatu semangat vital yang telah ditinggalkan oleh cita-cita ilmu pengetahuan modern, maka Iqbal menunjukkan Jalaludin Rumi sebagai idola baru bagi kemanusiaan karena puisi-puisinya yang agung dalam Matsnawi.
Gagasan ini selaras dengan apa yang berlaku dalam tradisi Islam, yang selalu menghubungkan puisi dengan spiritualitas, yang hubungan puisi dengan metafisika dan logika tidak terpisahkan dan keduanya menjadi bagian yang utuh dalam puisi, sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Islamic Art and Spirituality (1987), khususnya dalam bab “Metaphysics, Logic dan Poetry in the Orient”. Menurut Nasr, dalam tradisi Islam puisi merupakan bagian dari upaya mencapai apa yang disebut hikmah, dan sebagai upaya kerohanian ia membantu mengajak manusia kembali ke wujudnya yang lebih tinggi dan ke kesadaran yang lebih tinggi pula.(18)
Syahdan, dari beberapa pendapat yang penulis counter di atas, tafsir hermeneutik-sufistik atas karya monumental pujangga Andalus abad 13 ini, mempunyai maksud bahwasanya penulis ingin mengintip substansi dari konstruksi epistemologis syair-syair master piece sang pujangga dalam kitab alfiyah Ibnu Malik dengan kaca mata hermeneutik-sufistik, untuk dapat menelorkan sebuah pemahaman terhadap simbol-simbol yang terdapat dalam syair tersebut, khususnya dalam dunia tasawuf.
b). Konstruksi Epistemologis Alfiyah Ibnu Malik; Sebuah Perpaduan Dimensi Eksoteris dan Esoteris.
Pembahasan ini terinspirasi saat penulis sedang dalam keadaan “mabuk” berat, saat penulis sedang tenggelam dalam genangan samudera cinta, dan terseret oleh ombak-ombak kerinduan terhadap “Sang Kekasih”. Dengan tanpa sengaja, dalam syauq yang begitu memuncak, penulis melontarkan salah satu bait dari syair master piecenya Ibnu Malik. Dan kemudian timbullah hasrat untuk mengupas syair-syair Alfiyah Ibnu Malik dengan pisau analisa tasawuf.
Melakukan analisa terhadap syair Alfiyah dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik seperti pemahaman di atas, tidak saja akan menemukan pesan awal yang terkandung dalam konstruksi syair tersebut, melainkan juga akan menemukan satu sisi penting yang tersimpan dalam simbol-simbol kasusastraan sebuah karya sastra, dan pembacaan seperti itu tidak akan bisa terlaksana kecuali dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik.
Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab yang berisi kurang lebih 1000 bait syair gramatikal, yakni syair yang mengulas seputar pembahasan ilmu gramatikal (nahwu-shorf). Namun, menurut penulis kitab Alfiyah ini merupakan sebuah rajutan yang memadukan genre eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris terlihat dari pembacaan biasa (pembacaan seputar nahwu-shorf) kita atas syair-syair itu, sedangkan dimensi esoteris hanya akan kita temukan jika kita mau melakukan pembacaan hermeneutik atas syair-syair itu. Dimensi esoteris Alfiyah Ibnu Malik mendapuk peran perasa batin (mistisisme cinta), dan penyingkapan intuitif (mistisisme makrifat) dalam mengencani teks-teks agama.
c). Mistisime Makrifat menurut Ibnu Malik.
c.1. Manusia Makhluk Makrokosmos.
“نكرة قابل آل مؤثرا أو واقع موقع ما قد ذكرا”
Artinya: semua makhluk hidup sejatinya bersifat umum (nakiroh), yang dapat menerima sebuah keistimewaan (al ta’rif) yang sangat berpengaruh dari sang pencipta jagad, selain itu, makhluk juga merupakan sesuatu yang bertempat dalam jagadnya (bumi) Dzat yang maha pencipta sebagaimana telah disebutkan.
Dalam syair di atas, sang pujangga Andalus menjelaskan bahwasanya kita (manusia) merupakan makhluk yang tiada beda antara satu dengan yang lainnya, kita tak ada bedanya dengan hewan, kita tak ada bedanya dengan Jin, bahkan kita tak ada bedanya dengan Malaikat. Namun sebagai manusia kita harus bersyukur, karena kita memiliki sebuah keistimewaan (al ta’rif) yang bisa kita banggakan dibanding Malaikat, Jin, maupun hewan. Kita (manusia) dianugerahi akal-pikiran, sehingga -selain dapat membedakan dirinya dengan makhluk lainya- kita dapat mencari cahaya kebenaran yang sejati. Karena –perlu diingat- jika manusia mampu menemukan cahaya kebenaran tersebut, maka sejatinya ia lebih mulia dari Malaikat, sebab dengan menemukan cahaya kebenaran, hal itu merupakan sebuah pertanda bahwa manusia mampu melawan hawa nafsunya, sedangkan Malaikat tercipta dengan tanpa hawa nafsu, maka tak heran jika mereka selalu taat beribadah. Namun jika ia (manusia) terjerumus dalam jurang nafsu, maka ia tak jauh bedanya dengan hewan, bahkan ia lebih hina dari hewan, sebab ia sudah diberikan akal-pikiran, tapi tidak ia pergunakan, sedangkan hewan tidak diberikan akal-pikiran, maka tak heran jika hewan tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Selain itu, manusia merupakan makhluk makrokosmos, kenapa? Ada beberapa alasan mengapa manusia penulis sebut sebagai makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos(19):
Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad alam semesta ini. Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang sudah ditakdirkan Tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmos alam semesta. Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta.
Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak.
Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini. Justru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir. Contoh kecil yang bisa penulis ambil, coba kalian pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama atau dalam istilah Jawa sering disebut meditasi, maka kalian akan menemukan dan merasakan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini.
Manusia memang bertempat, karena ia hanyalah sebuah materi yang tersusun dari banyak partikel, ia hanyalah sebuah benda yang dapat berfikir, namun dengan berfikir itulah, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan berfikir itulah manusia merupakan makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos. Mengingat akan hal itu, tidak sewajarnya jika kita terjebak dalam dunia yang sempit ini, tidak patut makhluk seperti manusia terjerumus dalam fatamorgana dunia, karena manusia merupakan kholifah dalam dunia ini, maka sepatutnya ia menjadi penerang, bahkan pemegang kuasa atas dunia, bukan malah terjebak dalam fatamorgana sesaat.
Mulai sekarang, mungkin kita harus memulai hidup dengan mengunakan akal kita, kita harus mulai bertafakkur atas segala kejadian yang ada di jagad raya ini, karena dengan bertafakkur, kita akan belajar apa arti kehidupan, kita juga akan menyadari kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yang ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi (perbuatan) yg bermanfaat, maka dengan demikian kita aka berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi (asal kejadian kita). Adapun untuk mecapai ajaran sangkan paraning dumadi, dalam buku “cipta brata manunggal” karangan Ki Bratakesawa disebutkan, manusia harus:
1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo ing pandum (menerima apa adanya)
2. Jaga kesucian lahir batin
3. Olah raga
4. Olah nafas
5. Berpakaian yang pantas dan bersih.
7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan
8. Bekerja rajin
9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan
10. Makan teratur, makan seperlunya saja.
11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam
13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.
14. Perasaan dan pikiran terarah.
16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.(20)
Dan terakhir, setelah kita mencapai ajaran sangkan paraning dumadi, kita akan memahami tingkatan-tingkatan untuk mencapai sembah rasa (makrifat), dan kita akan sadar bahwasanya “sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu”, yakni sebagaimana ungkapan ibnu Athoilah dalam al-hikamnya “pada hakekatnya semua yang ada di alam ini adalah fana’, dan yang nyata serta abadi hanyalah kuasa Tuhan pencipta Jagad”.(21)
c.2). Tangga-tangga Makrifat.
“وغيره معرفة كهم وذى وهند وابنى والغلم والذى”
Artinya: dan selain nakiroh (orang-orang pada umumnya) adalah orang makrifat billahi Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat seperti lafadz hum (isim dhomir), lafadz dzi (isim isyaroh), lafadz hinda (alam asma/alam jenis), lafadz ibny (isim yang dimudhofkan), lafadz al-ghulaami (al-ta’rif), dan lafadz alladzi (isim mausul).
Keterangan syair:
Syair sang pujangga Andalus di atas, mengajarkan pada kita untuk mencapai derajat makrifat, karena derajat makrifat –menurut sebagian besar ulama’ sufi- merupakan derajat yang paling tinggi di sisi Tuhan, makrifat merupakan tujuan akhir dari suatu pendekatan diri kepada sang Pencipta, karena makrifat hanya bisa dicapai setelah manusia melewati tangga-tangga “istana Tuhan” yang meliputi Syariat, Thoriqot, Hakekat, baru kemudian Makrifat billahi Ta’ala.
Berbicara soal Makrifat, penulis ingat sebuah wejangan yang tertulis dalam seratan sang Guru bathin Ibnu Athoilah; al-Hikam yang artinya “sesuatu yang sangat diinginkan oleh sang Arif (orang yang makrifat) dari Allah swt adalah kejujuran dalam beribadah kepada-Nya serta mendirikan hak-hak-Nya”,(22) dalam artian, seseorang yang makrifat billah tiada lain tujuan dalam ibadahnya melainkan hanya untuk menembus kejujuran hatinya dalam beribadah, ia beribadah hanya semata-mata mengharapkan ridho Illahi Robby, ia melaksanakan segala sesuatu yang menjadi hak Allah karena semata-mata hanya mengharap ridho-Nya, bukan karena sebuah tuntutan ataupun mengharap imbalan dari-Nya.
Oleh sebab itulah (sebab tingginya derajat Makrifat), -dalam pandangan penulis- Ibnu Malik al-Andalus pun mencoba menjelaskan “tangga-tangga istana Tuhan” melalui rangkaian kata-kata dalam sebuah syair karangan beliau “alfiyah ibnu malik”. Adapun tangga-tangga yang harus dilalui oleh seorang salik (pencari Makrifat) sebagaimana dalam syair di atas adalah:
1. Pertama-tama seorang salik harus mempunyai sifat seperti lafadz hum (isim dhomir), yakni si salik harus bisa menata hatinya (dhomir) terlebih dahulu, karena sebagaimana sabda kanjeng Nabi saw yang artinya “dalam sebuah jasad ada segumpal daging (mudghoh), apabila baik benda itu, maka akan baiklah seluruh jasad (tingkah laku manusia), dan apabila rusak benda itu, maka akan rusaklah seluruh jasad (tingkah laku manusia), benda itu tak lain adalah hati”.(23) Dari sabda kanjeng Nabi saw tersebut, dapat dipahami bahwasanya semua pekerjaan manusia adalah bersumber dari hati, baik buruknya tingkah polah manusia juga bersumber dari hati. Nah dari situ, sebelum melaksanakan titah Tuhan yang terkemas dalam Syariat-syariat-Nya, sudah seharusnya kita menata hati terlebih dahulu, karena walaupun sesering apapun kita melaksanakan Syariat Tuhan –baik itu sholat, puasa, zakat, haji, dll-, jika hati kita tidak tertata menuju kepada satu titik; Tuhan pencipta jagad, maka apa yang kita kerjakan pun akan sia-sia. Dikeluarkan oleh Imam Bukhori, bahwasanya Kanjeng Nabi bersabda “innama al-a’malu bi al-niyat wa innama lukulli imriin maa nawaa”(24), yakni segala sesuatu itu tergantung dari niatnya, dan perlu diketahui bahwasanya niat itu adanya hanya dalam hati, maka jika hati belum ditata dengan benar, maka niat pun akan salah, dan jika niat sudah salah, maka suatu pekerjaan pun akan bertujuan salah.
Selain penafsiran di atas (seseorang harus menata hatinya), dapat juga diartikan bahwasanya seseorang harus mampu menghadirkan Tuhan dalam hatinya dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun ia berada. Karena hanya dengan menghadirkan-Nya dalam hati, kita baru bisa yakin bahkan merasakan kedekatan-Nya dengan kita, hal ini tercermin dalam pemaparan kanjeng Sunan Kalijaga tentang makrifat billah dalam “Serat Siti Jenar” yang berbunyi: “Den waspada ing mangkene, Sampun nganggo kumalamat, Den awas ing pangeran, Kadya paran awasipun, Pangeran pan ora rupa, Nora arah nora warni, Tan ana ing wujudira, Tanpa mangsa tanpa enggon, Sajatine nora nana, Lamun ora anaa, Dadi jagadipun suwung, Nora nana wujudira”, yang artinya (Hendaknya waspada pada yang berikut ini, Janganlah ragu-ragu, Lihatlah Tuhan secara jelas. Tapi, bagaimana melihat-Nya. Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa. Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna. Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat. Sebenarnya Ada-Nya itu tiada. Seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya).(25) Inti dari pemaparan Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut, Tuhan hanya bisa dilihat dari keyakinan kita akan keberadaan-Nya, dan keyakinan itu hanya bisa didapatkan jika kita mampu menghadirkan-Nya dalam hati, hal ini sebagaimana wejangan mbah Ibnu Athoilah dalam al-Hikamnya “pekerjaan/ ibadah seseorang tidak akan membuahkan sebuah pengharapan kepada Allah (ibadahnya hanya sebuah formalitas) tanpa adanya kesaksian dalam hati dan sebuah rasa butuh atas keberadaan-Nya dalam hati”(26), jadi kalau kita belum bisa menata hati kita, maka kita akan sulit untuk mencapai derajat Makrifat kepada Allah Ta’ala, karena sebagaimana wejangan Ibnu Araby “man a’rafa nafsahu ‘arafa Rabbahu”.
2. Setelah salik (pencari makrifat) mampu menata hatinya, ia kemudian harus seperti lafadz dzi (isim isyaroh), yakni ia harus membuktikan keyakinan dalam hatinya tersebut dengan isyaroh. Isyaroh terhadap Allah swt cukup dengan kita melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Jika dalam al-Quran Allah mewajibkan kita untuk melaksanakan sholat, puasa, zakat, haji, dll, maka tak cukup bagi kita hanya dengan meyakini keberadaan-Nya dan mengingat-Nya saja, namun kita juga harus melaksanakan perintah-Nya tersebut dengan sebuah isyaroh/perbuatan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda kita, kanjeng Nabi Muhammad saw.
Ada sebuah contoh yang bisa dijadikan sebuah pelajaran, katakanlah si A terkenal orang yang sakti dan keramat di kampungnya, konon menurut warga kampung ia adalah seorang yang makrifat, nah benar tidaknya berita ke-makrifatan si A dapat kita lihat dari kegiatan dia setiap harinya, yakni apakah ia dalam kesehariannya melaksanakan titah Allah (sholat, puasa, dll), kalau memang dia tidak melaksanakan semua kewajiban tersebut, walaupun dengan dalih apapun, ke-makrifatannya hanyalah tipuan setan semata, karena sebagaimana kita tau, para Wali Songo yang ke-keramatannya mampu mengguncang tanah jawa saja masih melaksanakan syariat Allah, bahkan kanjeng Nabi saw sendiri yang sudah tidak diragukan lagi ke-makrifatannya (lewat peristiwa isra’ mi’roj, dll), beliau setiap harinya juga melaksanakan syariat sebagaimana hamba Allah pada umumnya.
Nah apa yang dikerjakan oleh Wali Songo dan Kanjeng Nabi itu tak lain karena pentingnya isyaroh dengan cara melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, karena ibaratnya kita ingin pergi ke suatu tempat, kita tahu dimana tempatnya, namun jika kita hanya sekedar tahu tapi tidak berusaha untuk bisa ke sana, maka kita tidak mungkin bisa sampai ke tempat itu.
Jadi, orang tidak akan bisa mencapai derajat makrifat sebelum membuktikan kecintaannya pada Allah dengan sebuah isyaroh dan perbuatan yang konkrit, karena Allah hanya akan di kenal oleh orang-orang yang mampu mengenal dirinya sendiri, dan pengenalan diri sendiri hanya bisa diperoleh dengan melihat apa yang sudah dia kerjakan selama ini, sebagaimana wejangan Ibnu Athoilah “jika kamu ingin mengetahui derajatmu di sisi Allah, maka lihatlah apa yang sudah kamu kerjakan selama ini”.(27)
3. Setelah salik membuktikan keyakinannya yang terpatri dalam hati dengan isyaroh atau perbuatan (beribadah), maka tangga selanjutnya yang harus ditempuh oleh salik adalah harus seperti lafadz hinda (alam asma/jenis), yakni dalam proses menuju tangga berikutnya (alam asma/jenis), si salik harus mencari seorang guru khos (mursyid) untuk membimbingnya dalam penyerahan diri kepada Allah, karena sifat alami manusia yang mudah lupa dan melakukan kesalahan sehingga mengharuskan manusia harus mempunyai pendamping (mursyid). Alasan penting lain untuk mendapatkan pendampingan (mursyid) yang tepat ialah bahwa kita selalu merupakan produk dari saat yang terakhir, dan karena saat itu dilahirkan dari saat sebelumnya, dan begitu seterusnya, ada suatu kesinambungan. Seseorang yang berdiri sendiri tak dapat menyadari seberapa jauh ia telah menyimpang dari jalan pengetahuan-diri atau penyadaran-diri. Dengan demikian, seorang pencari memerlukan teman untuk menggambarkan kepadanya, seperti cermin, tentang keadaan atau kedudukannya.
Sebagaimana dalam kasus ilmu fisika atau ilmu alam, di mana tak diragukan lagi kita akan cenderung mengikuti seseorang yang mempunyai pengalaman dan kualifikasi yang lebih banyak dalam ilmu-ilmu tersebut, maka prinsip ini pun berlaku pada ilmu tentang Tuhan (Makrifat). Pada tingkat fisik, kita secara konstan berusaha ke arah keselarasan dan tindakan yang benar, dan kita mengikuti orang yang ahli dalam bidang ini. Demikian pula bagi keselarasan batin, orang yang paling memenuhi syarat adalah syekh spriritual sufi yang sejati. Namun, ada suatu perbedaan antara ilmu lahir dan ilmu batin. Dalam ilmu lahir, segala cacat dan kekurangsempurnaan dapat dideteksi dengan mudah. Tidak demikian halnya dengan ilmu batin, misalnya, dimana seseorang dapat tersenyum padahal sebenarnya ia sangat resah. Pengetahuan tentang ilmu batin memerlukan spesialisasi yang lebih dalam. Yang diperlukan adalah obat “hati”, yang tidak mudah diperoleh atau diberikan, sedang penyembuhan fisik dapat ditentukan, dianalisis dan logis, sehingga lebih mudah dicapai.
Hakekat batin berhubungan dengan esensi dan sumber. Apabila hakikat batin mendatangi sumber, maka terjadilah kesatuan. Apabila orang bergerak menjauhi sumber cahaya, maka ia akan membeda-bedakan dan melihat berbagai bayangan yang berbeda serta profil yang berbeda-beda. Makin dekat orang mendatangi sumber cahaya, makin sedikit ia melihat perbedaan, sampai ia silau dan tenggelam serta terliputi oleh cahaya itu sendiri. Dalam artian, apabila seseorang telah mengambil seorang guru sufi sejati secara benar maka pada hakikatnya ia telah mengambil semua guru sufi. Dan sangatlah keliru jika kita mengira bahwa orang dapat membuang satu guru sufi lalu pergi kepada guru lainnya, kecuali apabila yang pertama tidak becus. Kemudian ketika si salik berkembang dan bergerak maju, ia akan selalu dapat melihat dirinya diawasi oleh sang guru rohani serta para guru-guru beliau karena rasa hormat sang guru rohani sendiri kepada guru-gurunya. Pencari yang cerdas akan selalu hidup dan berperilaku seakan-akan semua syekh sufi yang telah ditemui sedang mengawasinya, sedang benar-benar ada bersama dia dan menjadi pembimbing, pemberi peringatan, dan sahabatnya.
Atas dasar itulah, maka selain dua tangga di atas, si salik juga harus mempunyai guru rohani khos agar selalu mengawasi serta membimbing segala tingkah laku salik dalam proses penyerahan diri kepada Allah Ta’ala.
4. Perjuangan salik tidak langsung berhenti sebab sudah menaiki tiga tangga di atas, namun setelah itu masih banyak lagi tangga-tangga menuju istana Tuhan, tidak mudah memang untuk mendapatkan maqom makrifat, karena semakin tinggi tangga yang kita naiki, maka tingkat kesulitan pun semakin berat, ibaratnya semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin berat resikonya kalau kita terjatuh. Tangga ke empat yang harus dilalui salik adalah seperti lafadz ibny (isim yang dimudhofkan), yakni seorang salik harus bisa memudhofkan dan menyandarkan dirinya dengan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Dalam setiap waktu dan setiap perbuatan, salik harus mampu menyandarkannya kepada Dzat yang maha kuasa, saat dia makan, ia harus sadar bahwa itu bisa dilakukan karena nikmat-Nya, saat ia sakit, ia harus sadar bahwa sakitnya itu merupakan bukti kasih sayang-Nya, pokoknya dalam keadaan apapun ia harus sadar bahwa semuanya berasal dari Dzat kang ngeratuni jagad.
Dalam hal ini, penulis ingat wejangan mbah guru Ibnu Athoilah “barang siapa yang menjadikan selain Allah (pahala, surga, dll) sebagai sebab dalam beribadah, maka sejatinya itu merupakan syahwat ringan, namun jika seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab atas ibadahnya, maka itulah sebuah kemulyaan yang tinggi di sisi-Nya”.(28) Dari wejangan mbah guru batin tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya segala sesuatu itu haruslah didasari atas keikhlasan, khususnya keikhlasan kepada Allah swt, karena hanya keikhlasan yang mampu membuat apa yang kita lakukan memiliki arti tersendiri, karena keikhlasan merupakan ruh dari segala amal perbuatan, tanpa adanya keikhlasan, apa yang telah kita lakukan -terlebih untuk-Nya- akan menjadi sia-sia belaka sebagaimana debu di atas batu licin yang tersiram oleh air hujan. Dalam al-Hikam, mbah Ibnu Athoilah berkata “al-a’maalu: shuwarun qooimatun, wa arwaakhuha: wujuudu sirri al-ikhlaasi fiihaa”.
Selain itu, pengajaran tentang penyandaran diri kepada Allah pun tertuang dalam Layang Djoyoboyo disana disebutkan bahwasanya manusia harus selalu ingat dan menyandarkan segala sesuatu yang kita kerjakan disepanjang siang dan malam hanya kepada Gusti kang maha witjaksono, karena hanya Beliaulah (Allah)yang patut mendapatkan penghargaan tinggi seperti itu. (Djoborolo 13: Duh Gusti engkang moho witjaksono. Tjahyonipon rino pandjenengan sampon sirno, bali marang udjute wengi sangkeng kuwoso pandjenengan. Slametake Ingsoen ing dalu meniko, sirnakake bebayan kang tansah anggudo kawulo, slamet sangkeng kuwasanipon pandjenengan. Opo kuwi pantes kanggone siro bongoso Djowo, ora nyembah Gusti kang pareng sabdho kanggone siro. Lan sabdhoning Gusti kang uwes temuron kanggo djalmo manungso kang ono ing djagat iki, ora bakal biso diowahi. Lan semono ugo ukumane Gusti kanggone bongoso Djowo.)
Oleh sebab itulah, untuk mencapai maqom makrifat, seorang salik harus menanamkan rasa ikhlas dalam dirinya, ikhlas yang dimaksud adalah dengan menyandarkan segala sesuatu yang ia kerjakan hanya kepada Allah swt saja, dengan tanpa adanya embel-embel (qoyyid) dalam setiap ibadahnya.
5. Tangga selanjutnya yang harus ditempuh oleh si salik dalam mencapai maqom makrifat adalah si salik harus mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding dengan orang-orang awam pada umumnya, salik harus bisa seperti lafadz al-ghulaami (al ta’rif), yakni al yang mampu memakrifatkan isim nakiroh.
Keistimewaan yang harus dimiliki oleh salik tercermin dalam usaha-usaha pendekatan diri kepada Allah swt, hal itu bisa jadi dari segi keilmuan, dengan kata lain keilmuan salik harus lebih istimewa dari orang umum, atau dari segi ritual ibadah, dengan kata lain salik harus mempunyai nilai lebih dalam beribadah, mungkin dengan sering melakukan sholat sunnah, atau bahkan puasa sunnah dll, atau mungkin juga dari segi akhlaq, yakni salik harus mempunyai nilai akhlaq karimah, baik itu terpatri dalam diri salik ataupun tercermin dalam tindakan-tindakan social, dan masih banyak lagi keistimewaan yang bisa diusahakan oleh salik dalam proses menuju makrifat.
Sebenarnya yang harus dilakukan salik agar medapat keistimewaan atau lebih menonjol dibanding orang pada umumnya, ia harus berusaha keras memperbaiki sifat-sifatnya, karena sifatnya lah yang mencerminkan tingkah ibadah, social, pribadi dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya. Dalam diktat kuliyah penulis yang berjudul al-Misbah al-Munir, penulis buku ini; Dr.Misbah Mansur Musa mengatakan bahwasanya sifat dasar manusia itu meliputi sifat imaniyah, sifat akhlaqiyah, dan sifat da’awiyah.(29)
Sifat Imaniyah mencakup beberapa sifat seperti, taqwa dengan kata lain salik harus berusaha menanamkan rasa taqwa kepada Allah dalam dirinya, rasa taqwanya harus lebih dalam daripada orang-orang pada umumnya, usaha-usaha dalam taqorrub ila Allah juga harus disertai dengan rasa ikhlas, ikhlas dalam artian segala amal ibadahnya semata-mata hanya tertuju pada Allah swt dengan tanpa mengharap apa-apa dari-Nya, sehingga dalam kesehariannya pun salik bisa mengoreksi dirinya sendiri tentang apa yang sudah ia lakukan setiap harinya, apakah semua yang ia lakukan sudah semata-mata karena Allah ataukah karena yang lain. Selain taqwa salik juga harus ridho dengan qodho dan qodar Allah, dengan kata lain, ia harus menerima apapun yang Allah takdirkan untuknya, walaupun usaha yang dilakukan tidak sepadan dengan hasil yang ia dapatkan, ia harus mampu menerimanya, walaupun diberi cobaan dengan kemiskinan yang amat sangat lama, ia juga mampu menerimanya dengan ikhlas dan sabar, pokoknya ia harus mampu menerimana apapun pemberian Allah swt dengan lapang dada. Selanjutnya salik juga harus mampu menanamkan rasa jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan, dan yang paling utama adalah rasa jujur dalam hati, karena manusia tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh hawa nafsu jika ia selalu menanamkan rasa jujur dalam hatinya, dalam surat al-taubah ayat 119 Allah berfirman, yang artinya “wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian semua kepada Allah, dan bersamalah kalian semua dengan orang-orang yang benar”.
Sifat manusia yang kedua adalah Sifat Akhlaqiyah yang meliputi kesabaran, ketabahan dan lapang dada, dengan kata lain salik harus mampu menghadapi cobaan yang Allah berikan kepadanya dengan sabar, tabah dan lapang dada, Nabi saw dalam sebuah riwayatnya bersabda, yang arinya kurang lebih sebagai berikut “barang siapa yang mampu menahan hal-hal yang menyebabkan amarah, maka Allah akan selalu menjaganya dan menjaga keimanannya”. Selain itu, salik juga harus mempunyai sifat amanah, dengan kata lain ia harus mampu bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan setiap harinya, baik itu tanggung jawab pada diri sendiri, orang lain, bahkan pada Allah swt, ia harus mempertanggung jawabkan ibadahnya seperti sholat ,zakat, puasa dan lain sebagainya, apakah semua ibadahnya sudah semata-mata karena Allah Ta’ala. Karena menurut sabda Nabi dalam salah satu riwayatnya, kita semua adalah pemimpin dan harus mempertanggung jawabkan apa yang ia pimpin. Pemimpin dalam hadits tersebut dapat kita artikan pemimpin umat di bumi, atau lebih spesifiknya pemimpin hatinya masing-masing, jadi ia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan hatinya setiap hatinya, apakah itu ikhlas karena Allah, ataukah merasakan sifat yang tidak terpuji seperti riya’ dan lain sebagainya.
Sifat kodrati manusia yang terakhir adalah Sifat Da’awiyah, dengan kata lain, salik harus mampu mengajak hatinya bahkan semua amal perbuatannya kepada satu titik, Allah Ta’ala. Kapanpun, bagaimanapun kondisinya, ia harus mampu mengajak pribadinya untuk taqorrub ila Allah. Nah jika ketiga sifat kodrati manusia-sebagaimana termaktub di atas- dapat dimiliki oleh seorang salik, maka ia pun akan memiliki suatu keistimewaan, baik keistimewaan di depan masyarakat, bahkan keistimewaan di hadapan Tuhan pencipta alam, Allah Ta’ala, dan dengan demikian maka lambat laum ia pun akan mencapai maqom tertinggi yakni maqom makrifat biilahi Ta’ala.
6. Pada tangga yang terakhir ini, seorang salik harus mampu seperti lafadz alladzi (isim mausul), dengan kata lain salik harus mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap amal ibadahnya, pikiran dan jiwanya harus bisa terpusat pada satu titik, Allah pencipta jagad, saat ia melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupannya, ia harus mampu wusul dengan Allah swt, merasakan kehadiran Allah dalam setiap pekerjaannya, bahkan kalau bisa ia harus mampu manunggaling kawulo Gusti, yakni dengan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, karena sebagaimana wejangan kanjeng Sunan Kalijaga dalam Serat Siti Jenar ia mengatakan bahwa sejatinya Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna, tidak ada wujud-Nya, tidak terikat oleh waktu dan tempat, sebenarnya Ada-Nya itu tiada, seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya. Nah maka dari itu untuk bisa melihat Tuhan, manusia harus bisa mengenal Tuhan, menghadirkan-Nya dalam semua amal perbuatannya, bahkan manusia harus bisa menyatukan-Nya dalam hati.
Membincang seputar wusul ila Allah (manunggaling kawulo Gusti), penulis ingat dengan sebuah perkataan ulama sufi yang dianggap gila oleh penduduk sekitarnya, al-Hallaj, dalam kehidupannya ia sering mengatakan “aku lah yang Maha Benar di mana kebenaran tersebut adalah milik Tuhan dan aku mengenakan Esensi-Nya, sehingga tidak ada perbedaan di antara Kami”,(30) dan jika kita amati, statemen ini sejalan dengan statemen Ibnu Arabi “fa in qulta huwa huwa fahuwa huwa, wain qulta laisa huwa huwa falaisa huwa huwa”,(31) menurut pemahaman penulis, sebenarnya kita harus bisa menjadi seperti apa yang dikatakan al-Hallaj, yakni kita harus menghadirkan Tuhan dalam jiwa kita, kita harus menyatukan sukma kita dengan Dzat Tuhan, karena kebenaran yang nyata hanyalah milik Tuhan, sehingga kalau kita tidak mampu bersatu dengan-Nya (menghadirkan-Nya dalam hati), maka kita tidak akan mampu melihat kebenaran yang sejati, kita tidak mampu merasakan sinar kebenaran yang abadi, sehingga kita akan terjebak dalam kegelapan dunia, karena sejatinya yang ada dan bersinar hanyalah cahaya Tuhan, sebagaimana kata sesepuh Jawa Ki Soedjonoredjo dalam salah satu seratannya “sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu”.(32)
Masih dalam Tahap ini, untuk memanunggaling kawulo Gusti (wusul ila Allah), manusia harus mampu mengarahkan dirinya ke “dalam” dirinya sendiri. Dengan kata lain manusia sudah tinggal aku sejatinya saja. Bersemayam, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah melekat menjadi cahaya bersama-Nya. ia dapat merasakan hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian, karena menurutnya yang ada hanyalah Tuhan. ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada dalam kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.
Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah berubah bermetamorfosis menjadi satu wujud dengan-Nya, karena kawulo sudah manunggal dengan Gustinya, yakni manunggal dalam kesempurnaannya. kalau sudah demikian, ia akan menjadi Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri, karena telah memanifestasikan dirinya dengan Dzat yang kuasa, ia mengalami suwung, fana’ dalam kesatuan-Nya. dan pada tahap inilah manusia benar-benar “menjadi Gusti Allah”. Dan ini hanya dapat dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sebuah pribadi yang telah mendaki tangga-tangga yang telah termaktub di atas, sebuah pribadi yang sudah wusul kehadirat Sang Illahi Robby. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.
Demikianlah enam tangga (yang disuguhkan Syekh Ibnu Malik al-Andalusy dalam sebuah kitabnya yang berjudul alfiyah ibnu malik) untuk menuju maqom makrifat billah, maqom tertinggi di sisi Allah. Bila manusia sudah menaiki tangga-tangga sebagaimana termaktub di atas, maka manusia pun akan sampai pada maqom ini, dan jika sudah demikian, ia akan merasakan bahwa sudah tidak ada lagi sesuatu di dunia ini melainkan Allah, ia akan menguap, mencair, dan menyatu bersama Gusti, bahkan seluruh ciptaan Gusti pun sudah menyatu dalam dirinya.
Bersambung …!
Catatan kaki :
Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000), hal. 12.
2 Heru Kurniawan, “Etika dan Estetika dalam Sastra Sufi” (Semarang: Wawasan, 22 Mei 2005), hal. 17.
3 Ibnu Malik, “Tashiil al-Qowa’idi wa Takmiili al-Maqoosidi”, (misr: wizaroh el-tsaqofah, 1999), hal 5.
4 Dairoh al-Ma’arif al-Islamiyah (Encyclopedia of Islam)
5 Aleppo adalah nama sebuah kota di utara Syiria. Aleppo juga merupakan sebuah kota tertua di dunia (lihat Wikipedia-Aleppo)
6 Ibnu Malik, “Tashiil al-Qowa’idi wa Takmiili al-Maqoosidi”,op. cit. hal 6.
7 ibid, op. cit. hal 7.
8 Heru Kurniawan, “estetika perpuisian Abdul Wachid B.S.” (sebuah makalah “Mengkritisi Perpuisian dan Kepenyairan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, pada tanggal 8 Februari 2005), hal 3.
9 Abdul Hadi W.M., Hermeneutika, Estetika, dan Religiositas (Yogyakarta: Mahatari, 2004), hal. 33.
10 ibid, hal 34-35.
11 Heru Kurniawan, op. cit, hal 5.
12 ibid, hal 7.
13 Nasr Hamid Abu Zayd, “Isykaliyat al-Qiroah”, maktabah madbouli cairo, 1996, hlm 145. bandingkan Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qurani: antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi (Yogyakarta: Qalam, 2003), hal. 20.
14 Abdul Hadi W.M. sebuah makalah ilmiyah yang berjudul “Takwil sebagai Asas Teori Sastra dan Bentuk Hermeneutika Islam”, hal 8.
15 ibid, hal 9.
16 Muhammad Iqbal adalah seorang pujangga, filosof muslim dari sialkot, punjab, british raj (daerah pakistan)…lihat (wikipedia muhammad iqbal)
17 Abdul Hadi W.M. sebuah karya ilmiyah yang berjudul “Hermeneutik Modern”. hal 4.
18 ibid, hal 7.
19 “al-Futuuhat al-Makkiyah”, Muhyiddin Ibn Arabi, (1972; Maktabah Usrah, Kairo). j.4/h.345
20 Neils Mulder, “Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia”, (Yogyakarta, LKiS, 2011). h.78.
21 Ibnu Athaillah as-Syakandari, “al-Hikam al-Athaiyah”, (Kairo, dar wabil ashaid, 2007), h.67.
22 Ibid, h.68
23 HR. Imam Bkhari
24 As-Suyuthi, “al-Asbah wa an-Nadha’ir”, (Kairo, Dar as-Salam, 2010), h.7
25 Achmad Chodjim, “Syekh Siti Jenar; Makna Kematian”, (Yogyakarta, Serambi, 2009), h.45
26 “al-hikam …”, h.34
27 Ibid, h.45
28 Ibid, h.20
29 Dr.Misbah Mansur Musa, “al-Misbah al-Munir”, (Kairo, Maktabah Azhariyah, 2005), h.56
30 “The Crucifixion of a mystic”, Abu Mansur al-Hallaj, terj. Eric Schoroeder, (Oxford University, 1997), h.12
31 “at-Tadbirrat al-Ilahiyyah”, Muhyiddin Ibnu Arabi, (Kairo, Hai’ah Ammah Misriyah, 1977), h.20
32 Selengkapnya bisa di lihat di http://alangalangkumitir.files.wordpress.com/2011/05/serat-suluk-ngabdulsalam.pd
Langganan:
Komentar (Atom)