Kamis, 29 November 2018
DESTINASI DESA WISATA CEMPAKA BUMIJAWATEGAL
Pasar Slumpring, Potensi Wisata Ekonomi Kreatif di Kaki Gunung Slamet
ENAM JAM – Pasar Slumpring di Desa Cempaka, Bumijawa, Kabupaten Tegal menjadi destinasi wisata baru di kaki Gunung Slamet. (poncho)
BUMIJAWA - Desa Cempaka di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal, saat ini tidak hanya masyhur di Tanah Air. Keelokan alami suasana pedesaan dan gestur warga masyarakatnya, ternyata sudah terkenal hingga ke manca negara.
Daya tarik Desa Cempaka mulai memikat animo wisatawan, setelah dilaunching sebagai desa wisata oleh Bupati Tegal Enthus Susmono, Minggu (3/2) silam. Launching dilakukan bersamaan dengan gelaran Bumijawa Festival, dengan mempromosikan keunikan Pasar Slumpring, eksotika Bukit Bulak Cempaka (BBC), dan keasrian Tuk Mudal.
Kepala Desa Cempaka Abdul Khayyi, Minggu (7/10), tak menampik pengembangan desanya sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Tegal, saat ini mulai membuahkan hasil. Tidak hanya sumber daya alam (SDA) desanya yang dikenal luas, ekonomi kerakyatan di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes itu pun mulai menggeliat.
Pasar Slumpring sebagai magnet utama wisata Desa Cempaka, papar Kades, lambat laun sangat dirasakan manfaatnya. Bagaimana tidak, pasar yang menjual beraneka macam jajanan dan kuliner tradisional khas Tegal dan sekitarnya itu, sekarang sudah berkembang besar dengan nilai transaksi rata-rata Rp9-12 juta.
“Pasar Slumpring ini hanya ada setiap hari Minggu antara pukul 07.00 sampai 12.00 WIB. Sekarang yang berjualan sudah mencapai 30 orang, dari awalnya hanya 9 pedagang,” kata Abdul Khayyi.
Keunikan Pasar Slumpring membuatnya semakin diminati wisatawan. Di antaranya selain para penjual menggelar dagangannya di bawah rimbunnya tanaman bambu, selama proses jual beli, pedagang dan pembeli juga disuguhi alunan musik bambu yang dipersembahkan remaja-remaja setempat. Mereka tergabung dalam Grup Musik Amuba, dengan memainkan alat musik dari tanaman beruas seperti angklung, kentongan, seruling, dan lainnya.
Model transaksinya pun, tambah Kades, mengadopsi sistem perdagangan kuno dengan menggunakan koin yang juga terbuat dari bambu. Dijelaskan Kades, setiap koin bernilai Rp2.500,00. Rinciannya Rp2.000,00 untuk keuntungan pedagang, sisanya Rp500,00 diserahkan ke Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cempaka Mas. Slumpring sendiri diambil dari nama kulit bambu yang menutupi rosan bambu, biasanya berwarna coklat muda.
Pokdarwis, papar Kades, adalah kepanjangan tangan Pemdes Cempaka sebagai embrio badan usaha milik desa (bumdes), yang akan dipatenkan akhir tahun ini. Oleh pokdarwis, dana itu dikumpulkan untuk membiayai pembangunan fasilitas maupun pengembangan sarana wisata di Desa Cempaka. Semuanya dilakukan mandiri, karena belum mendapatkan bantuan dari Pemkab Tegal maupun Pemprov Jawa Tengah.
Ketua Pokdarwis Cempaka Mas Ikhsanudin mengakui pemberdayaan masyarakat untuk sadar wisata di daerahnya sangat penting. Dia teringat saat muncul penentangan dari para kiai dan ustaz, saat akan membangun destniasi wisata di sekitar Sumber Mata Air Tuk Mudal. Tokoh-tokoh agama itu kuatir nanti malah akan memunculkan potensi kemaksiatan baru.
Akhirnya dengan difasilitasi Pemdes, ungkap Ikhsanudin, dilakukan kunjungan ke Umbul Ponggok di Desa Ponggok Kecamatan Polanharjo Kabupaten Sleman tiga tahun lalu. Di sana perwakilan RT, tokoh agama, masyarakat, dan pemuda, serta ustaz yang mengikuti studi banding membuktikan sendiri, pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata ternyata bisa meningkatkan taraf kehidupan dan perekonomian masyarakatnya.
“Akhirnya disepakati pariwisatalah salah satu alternatif untuk memberdayakan masayarakat, baik sosial maupun ekonominya,” ujar Ikhsanudin.
Menurut Ikhsanudin, kali pertama yang dilakukan adalah membangun talut senilai Rp100 juta untuk mencegah masuknya lumpur ke Sumber Mata Air Tuk Mudal di 2016. Ini penting, karena Tuk Mudal merupakan kolam penampungan dari tujuh sumber mata air untuk mengairi sawah-sawah warga yang luasnya mecapai 200 hektare. Apalagi Tuk Mudal persis berada di lokasi yang rencananya akan dikembangkan sebagai destinasi wisata utama.
Selesai pembangunan talut, revitalisasi Tuk Mudal dilanjutkan dengan membangun jembatan kayu dan penghijauan. Pemdes Cempaka dan Pokdarwis sepakat membentuk Cempala, yakni organisasi pecinta alam yang mayoritas anggotanya pemuda-pemuda desa, untuk diserahi tanggung jawab konservasi air, dengan tugas utama menjaga pemeliharaan sumber-sumber mata air sebagai menyuplai kebutuhan debit air Tuk Mudal.
Upaya-upaya lainnya pun terus dilakukan seperti mengikutkan pemuda-pemuda desa melalui pelatihan pembuatan suvenir, tour guide, pengelolaan home stay, hingga mengundang guru bahasa inggris dari Pare, Kediri, Jawa Timur. Sedangkan dari sisi politik anggaran, melalui dana desa dan alokasi dana desa tahun 2017, dialokasikan pembangunan embung dan normalisasi Rp200 juta, penguatan kelembagaan dan pelatihan Rp15 juta, serta pelatihan-pelatihan lain bekerjasama dengan instansi-instansi terkait di Pemkab Tegal.
“Hasilnya Tuk Mudal sekarang menjadi salah satu tujuan utama wisata air di Kabupaten Tegal. Selain murah, pengunjung juga bisa menikmati keindahan alami pegunungan sepuasnya,” timpal Ikhsanudin.
Saat ini untuk masuk ke Tuk Mudal yang masih satu kompleks dengan Pasar Slumpring di atas tanah kas desa, wisatawan hanya dikenai tarif Rp10.000,00 per roda empat, sudah termasuk ongkos parkir. Sedangkan roda dua Rp5.000,00. Semua orang yang terlibat pengelolaannya merupakan waga asli Desa Cempaka.
Selain terlibat aktif sebagai penyedia jasa wisata, warga sekitar juga mulai kreatif menjadikan rumah-rumahnya sebagai tempat penginapan sewaktu-waktu atau home stay. Ada pula ibu-ibu yang dikoordinasikan pokdarwis, agar giat memproduksi suvenir maupun jajanan khas untuk para wisatawan. Sedangkan 35 anggota pokdarwis, rata-rata sudah pandai berbahasa inggris, sehingga tak canggung lagi saat melayani kunjungan wisatawan asing.
“Alhamdulillah semua warga bisa terlibat dalam pengelolaan wisata di sini. Sehingga petani, ibu-ibu, pemuda, dan lainnya ikut merasakan keuntungannya, dan bisa memperoleh tambahan pendapatan,” aku Sairoh, salah seorang penjual nasi jagung di Pasar Slumpring.
Klaim Sairoh bukan tanpa bukti, karena nasi jagung yang dia jajakan pun bahan utamanya diambil dari para petani di desanya. Juga penjual serabi, bubur sungsum, candil, jagung bakar, dan lain-lainnya, semua bahan baku utamanya berasal dari warga Desa Cempaka. Apalagi syarat utama berjualan di Pasar Slumpring adalah harus ber-KTP Desa Cempaka.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Suharinto menyambut baik pengembangan desa wisata di wilayahnya. Menurutnya, cara itu terbukti mampu berangsur-angsur meningkatkan taraf perekonomian masyarakat sekitar daerah wisata. Suharinto mencontohkan penjual nasi jagung di Pasar Slumpring yang bisa menjual habis 45-50 kilogram hanya dalam waktu 6 jam, kemudian bakul serabi yang mengaku mendapatkan penghasilan tetap setiap minggunya.
“Silakan setiap desa mengembangkan potensi wisata sesuai karakteristiknya. Misalnya Desa Cikura Kecamatan Bojong sebagai desa wisata religi atau Desa Sigedong Kecamatan Bumijawa yang menjadi sentra wisata sayur mayur,” terangnya.
Nantinya, tambah Suharinto, Pemkab Tegal melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan membantu mempromosikan keunggulan potensi-potensi wisatanya. Yang sudah dilakukan selama ini antara lain membuat situs www.tegaltourism.id, launching desa wisata, festival-festival wisata, serta pelatihan-pelatihan pengelolaan kepariwisataan.
Ditambahkan Suharinto, instansinya sedang berusaha mewujudkan keinginan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat berkesempatan mengunjungi Tuk Mudal. Gubernur, menurut Suharinto, optimis destinasi wisata di Desa Cempaka bisa berkembang lebih maju dan naik kelas. Apalagi banyak spot yang bisa dinikmati seperti Pasar Slumpring, Bukit Atas Awan, Bukit Bulak Cempaka (BBC), Pohon Kembang Cempaka, dan Pertemuan Tuk Pitu. (zuhlifar arrisandy
KISAH SEORANG LELAKI ULAMA TABI'IN HAFAL QUR'AN 30 JUZ YANG HILANG KARENA TERPESONA DENGAN WANITA
KISAH SEORANG LELAKI ULAMA TABI'IN HAFAL QUR'AN 30 JUZ YANG HILANG KARENA TERPESONA DENGAN WANITA
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas satu demi satu tubuh pasukan Romawi. Dahulunya dia termasuk dari Tabi’in (270 H) yang hafal Al-Qur’an.
Namanya adalah sebaik-baik nama, ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim.
Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang mujahid yang hafal Al-Qur’an, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa Daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya?
Namun tak dinyangka terjadi musibah di akhir hayatnya. Dia mati dengan tidak membawa iman Islamnya. Murtad sebagai Nasrani. Padahal dahulunya ia hafal semua isi Al-Qur’an, namun semua hilang tak tersisa kecuali dua ayat saja.
Ayat apakah itu? Apa yang melatarbelakangi dia keluar dari Diinullah.?
Inilah kisahnya:
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang Romawi. Ia hantarkan orang Romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita Romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung Romawi. Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita Romawi di dalam benteng.
Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorang pun dijamin lolos su’ul khatimah.
Tak tahan, ia pun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama Nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa akan imannya, tuli peringatan dan buta Al-Qur’an. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
ﺧَﺘَﻢَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺳَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻏِﺸَﺎﻭَﺓٌ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah: 7) . Astaghfirullah , ma’adzallah.
Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan Islam.
Menikahlah dia di dalam benteng.
Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al-Qur’an meninggalkan Allah.
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab, “Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali dua ayat saja yaitu :
ﺭُﺑَﻤَﺎ ﻳَﻮَﺩُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”
ﺫَﺭْﻫُﻢْ ﻳَﺄْﻛُﻠُﻮﺍ ﻭَﻳَﺘَﻤَﺘَّﻌُﻮﺍ ﻭَﻳُﻠْﻬِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺄَﻣَﻞُ ۖﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Nashrani. Dalam keadaan seperti itulah hingga ajal menjemputnya. Mati dalam keadaan di luar agama Islam.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﺃَﺿَﺮَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ
“Tidak pernah kutinggalkan setelahku fitnah yang lebih dahsyat bahayanya bagi kaum pria daripada fitnah wanita.” (Muttafaqun Alaih)
Saudara-saudariku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita/fitnah manusia dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk di akhir hayat.
Semoga para suami, para anak-anak laki, saudara-saudara laki kita. keluarga kita semua,teman-teman lelaki sesama muslim, selalu dalam lindungan Allah,dijauhkan dari syahwat dan maksiat,selamat dunia akhirat. Aamiin..
Langganan:
Komentar (Atom)