Motto: Tegal Kota Bahari
Provinsi Jawa Tengah
Luas 12,67 km²
Penduduk
· Jumlah 242.000 (2003)
· Kepadatan 19.100 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 4
· Desa/kelurahan 27
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Walikota Adi Winarso, SSos
Kode area telepon 0283
DAU Rp. 178.273.000.000
Situs web resmi: http://kota-tegal.go.id/
Kota Tegal,
adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota ini berbatasan
dengan Kabupaten Brebes di sebelah barat, Laut Jawa di sebelah utara,
serta Kabupaten Tegal di sebelah timur dan selatan. Hari jadi kota Tegal
adalah 12 April 1580.Provinsi Jawa Tengah
Luas 12,67 km²
Penduduk
· Jumlah 242.000 (2003)
· Kepadatan 19.100 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 4
· Desa/kelurahan 27
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Walikota Adi Winarso, SSos
Kode area telepon 0283
DAU Rp. 178.273.000.000
Situs web resmi: http://kota-tegal.go.id/
Kota Tegal juga merupakan cikal bakal kelahiran Korps Marinir TNI Angkatan Laut lahir pada 15 November 1945, seperti tercantum dalam Pangkalan IV ALRI Tegal nama Corps Mariniers. Status lembaga TNI AL di Tegal mengalami beberapa perubahan, mulai dari Detasemen AL (Denal), Landasan TNI AL (Lanal), dan Stasion AL (Sional). Untuk pertama kalinya, putra daerah yang menjabat sebagai Dan Sional adalah Letkol (Laut) Nurhidayat, asal Desa Kaligayam, kabupaten Tegal.
Pemerintahan
Kota Tegal terdiri 4 kecamatan, yakni Tegal Barat, Tegal Timur, Tegal Selatan, dan Margadana.
Balai
kota Tegal semula menempati gedung yang kini digunakan untuk gedung
DPRD Kota Tegal. Namun sejak tahun 1985, pusat pemerintahan dipindahkan
ke bekas pendopo Kabupaten Tegal, yakni di kawasan alun-alun.
Geografi
Tegal
terletak 165 km sebelah barat Kota Semarang, atau 329 km sebelah timur
Jakarta. Tegal memiliki lokasi yang strategis, karena berada di jalur
pantai utara (pantura) Jawa Tengah , serta terdapat persimpangan jalur
utama yang menghubungkan pantura dengan kota-kota di bagian selatan
Pulau Jawa.
Kota
Tegal berbatasan langsung dengan ibukota Kabupaten Brebes. Pertumbuhan
kota Tegal juga berkembang ke arah selatan di wilayah Kabupaten Tegal,
yakni di kecamatan Dukuhturi, Talang, Adiwerna, dan Slawi.
Stasiun
kereta api Tegal menghubungkan kota ini dengan kota-kota lain di Pulau
Jawa. Beberapa kereta api yang singgah di stasiun ini adalah: Senja
Utama dan Fajar Utama (Jakarta-Semarang), Sembrani dan Argo Dwipangga
(Jakarta-Surabaya), Matarmaja (Jakarta-Malang), Bangunkarta
(Jakarta-Jombang), Harina (Bandung-Semarang), dan Kaligung
(Tegal-Semarang). Pada era 1960-an kota Tegal pernah memiliki landasan
udara Martoloyo yang diresmikan oleh Presiden Sukarno.
Jika
diukur dengan jarak tempuh antara Jakarta dan Surabaya, kota Tegal
kira-kira berada di tengah-tengahnya. Posisi strategis yang didukung
dengan infrastruktur yang memadai menjadikan kota Tegal sebagai kota
transit. Hal tersebut berdampak pada hidupnya usaha di bidang jasa
pariwisata, terutama perhotelan.
Perekonomian
Perdagangan
dan jasa merupakan sektor utama perekonomian kota Tegal. Kota ini
menjadi tempat pengolahan akhir dan pemasaran berbagai produk dari
kawasan Jawa Tengah bagian barat. Usaha kecil dan menengah yang cukup
pesat kemajuannya adalah industri logam rumahan di kawasan jalan
Cempaka, dan kerajinan batik Tegalan di kelurahan Kalinyamat. Untuk
mendukung denyut perekonomian, pemerintah Kota Tegal telah membangun
Pusat Promosi dan Informasi Bisnis (PPIB).
Iklim
investasi yang cukup sejuk mengundang banyak investor luar daerah
menanamkan modalnya di kota ini. Maka tak mengherankan, dalam kurun
waktu 5 tahun sejak 2001, telah berdiri beberapa pusat perbelanjaan
antara lain Pacific Mall, Rita Mall, Dedy Jaya Plaza, Marina Plaza, dan
Pusat grosir Moro.
Wisata
Beberapa obyek wisata kota Tegal yang dapat dikunjungi antara lain:
-
Pantai Alam Indah (PAI) yang dilengkapi anjungan, gardu pemantau, dan panggung hiburan.
-
Wisata makanan antara lain: pondok makan jalan teri (pokanjari), lesehan di seputaran Jalan A Yani (pada waktu malam hari), rumah makan masakan laut di kawasan PAI, rumah makan Miraos, rumah makan Sari Laguna, dan lain-lain.
-
Hotel berbintang di kota Tegal: Bahari Inn, Karlita International Hotel, Plaza Hotel, Alexander, Susana Baru, Paramesti, Riez Palace. Di samping itu masih ada puluhan hotel berkelas melati.
-
Pusat perbelanjaan: Pacific Mall, Dedy Jaya Plaza, Rita Super Mall, Marina Plaza, dan pusat grosir Moro.
-
Wisata hobi: pasar burung di pasar senggol kawasan alun-alun.
-
Taman Poci : Taman kecil yang terletak di depan Stasiun KA Tegal dilengkapi dengan permainan anak2 dan dihiasi lampu hias, cocok buat keluarga yang ingin “jagongan” karena banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan khas Tegal + Teh Poci
Budaya
Meskipun
kota Tegal tidak diakui sebagai pusat budaya Jawa, namun kesenian di
sini berkembang cukup pesat. Berbagai macam diskusi budaya digelar
dengan menghadirkan budayawan nasional dan lokal. Kesenian asli kota
Tegal adalah tari endel dan balo-balo. Ibu Sawitri merupakan generasi
pertama penari endel. Selain itu seni sastra juga juga merupakan andalah
kota Tegal. Penyair Tegal yang termasuk dalam angkatan 66 adalah Piek
Ardijanto Suprijadi. Sementara Widjati digolongkan ke dalam penyair
angkatan ’00′. Kota Tegal tercatat memiliki dua tokoh perfilman nasional
yang cukup produktif yaitu Imam Tantowi (sutradara dan penulis
skenario), dan Chaerul Umam (sutradara).
Beberapa
teater yang kiprahnya menjadi konsumsi berita nasional adalah teater
RSPD (Yono Daryono), teater Puber (Nurhidayat Poso), teater Wong (M
Enthieh Mudakir), teater Hisbuma (Dwi Eri Santoso), Teater Q (Rudi
Itheng) dan lain-lain. Di bidang musik tercatat beberapa nama yang
menjadi cikal bakal lahirnya musik Tegalan yaitu Hadi Utomo,
Nurngudiono, dan Lanang Setiawan. Keberadaan Gedung kesenian (bekas
Gedung Wanita) di jalan Setiabudi cukup menjadi wahana ekspresi para
seniman kota Tegal. Kesenian di kota ini cukup menarik perhatian para
peneliti dari luar negeri, antara lain Richard Curtis (Australia), dan
Anton Lucas (Australia, penulis buku Peristiwa Tiga Daerah). Yang unik
dari denyut kesenian di kota Tegal adalah hampir setiap pergelaran seni,
entah di gedung kesenian atau sekadar di halaman sebuah sanggar, selalu
diliput oleh media massa, baik lokal maupun nasional (cetak dan
elektronik), hingga mengundang minat grup kesenian dari luar Tegal yang
ingin berpentas di kota itu.
Masyarakat
Tegal dikenal memiliki kerakter cenderung terbuka. Maka mampu
melahirkan keakraban pergaulan. Salah satu keunikan wong Tegal adalah
cara menyapa kepada sesama teman sebaya yang menggunakan panggilan
sedap, dan bikin geli: ‘Jon’ dan ‘Jack’. Pendatang baru di kota Tegal
tidak perlu heran dengan cara ini. Orang terbiasa saling sapa dengan
‘Jon’, kepada rekannya. Sebutan ‘Jon’ selain lebih terkesan manusiawi
dapat melahirkan keakraban dalam pergaulan sehari-hari. Bandingkan
dengan kota lain. Tak jarang kita jumpai untuk menyapa sesama rekan
seseorang cukup menggunakan sebutan Dus (wedhus-kambing), Thek
(kethek-monyet) atau Su (asu-anjing). Pemakai sebutan ini pun tidak
hanya berlaku bagi masyarakat bawah saja. Kalangan eksekutif, legislatif
dan usahawan di Kota Tegal pun terbiasa menggunakan. (Joshua Igho BG,
Kompas Rabu, 25 September 2002)
Mantu poci
Mantu
Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah),
dengan cara inti melangsungkan ‘pesta perkawinan’ antara sepasang poci
tanah berukuran raksasa.
Mantu
poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah
lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. Seperti
layaknya pesta perkawinan, mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan
ribuan undangan. Lengkap dengan dekorasi, sajian makanan, dan beraneka
pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. Tak lupa pula, di
pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah.
Selain
sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan,
mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi
layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka,
kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara, dan
relasi.
Dewasa
ini Mantu Poci sudah jarang digelar di Tegal. Salah satu repertoar yang
diusung oleh Dewan Kesenian Kota Tegal di Anjungan Jawa Tengah, Taman
Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 2003 adalah mementaskan drama berjudul
Kang Daroji Mantu Poci, dikemas secara komedi.
Bahasa
Bahasa
Tegal memiliki kemiripan dengan bahasa Banyumas (ngapak) yaitu dalam
kosa kata. Namun kebanyakan masyarakat Tegal enggan disebut sebagai
orang ngapak, sebab nyata-nyata dialeknya berbeda. Masyarakat yang
menggunakan bahasa Tegal meliputi: bagian utara kabupaten Tegal, kota
Tegal, bagian barat kabupaten Pemalang, dan bagian timur kabupaten
Brebes. Kongres bahasa Tegal pertama digelar oleh pemerintah kota Tegal
pada tanggal 4 April 2006, di hotel Bahari Inn. Acara yang digagas oleh
Yono Daryono tersebut menghadirkan beberapa tokoh antara lain SN Ratmana
(cerpenis), Ki Enthus Susmono (dalang Tegal), Eko Tunas (penyair
Tegal), Dwi Ery Santoso (Puisi dan Sutradara).Tujuan digelarnya kongres
itu adalah untuk mengangkat status dialek Tegalan menjadi bahasa Tegal.
Bangunan bersejarah
Bangunan
besejarah yang ada di kota Tegal kebanyakan berarsitektur Belanda.
Berikut data bangunan yang masih dapat kita saksikan:
-
Stasiun Kereta Api
-
Gedung DPRD
-
Balai Kota dan rumah dinas Walikota
-
Kantor pos
-
Markas TNI AL
-
Pasar pagi
-
Menara air di jalan Pancasila
-
Gedung Universitas Pancasakti
-
Kelenteng jalan Veteran
-
Sebagian rumah tinggal di jalan Veteran, A Yani, Sudirman, kelurahan Kauman
Rupa-rupa
Rekor
MURI yang telah diraih oleh pemerintah kota Tegal adalah: tahu
terpanjang (425 meter) pada tahun 2005, dan minum teh poci bareng (5.000
peserta) pada tahun 2006.
olih ngopy mbuhapa
salam: Afidz
olih ngopy mbuhapa
salam: Afidz

Tidak ada komentar:
Posting Komentar