Di latar Tugu Proklamasi, sejuta lilin duka dinyalakan mereka yang
mencintai Gus Dur, meski dalam rinai hujan yang turun rintik-rintik.
Mereka yang hadir malam itu memakai baju keyakinan yang berwarna-warni,
bagai pelangi, indah sekali. Semua menunduk, berdo’a ke Hadirat Yang
Maha Esa, tak peduli apa nama dan sebutan-Nya, untuk beliau; Gus Dur.
Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat dalam
ritual-ritual agama atau kepercayaan, tiba-tiba hanyut dalam emosi
melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika
rasional tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu.
Lihatlah, para bikhu (bhiksu) dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan do’a-do’a. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah seperti ini di manapun. Lihatlah, bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tujuh hari, memberi hormat padanya. Para pemimpin dari berbagai belahan dunia menyampaikan belasungkawa, terima kasih dan harapan agar cita-cita Gus Dur diteruskan oleh siapa saja. Do’a-do’a, wirid-wirid dan zikir mereka bergemuruh berhari-hari memenuhi ruang maya, menembus langit demi langit sampai ujung tanpa batas. Bukan hanya Yusuf Kalla, mantan wakil Presiden, tapi juga beribu-ribu orang, yang bersaksi : “Sepanjang sejarah bangsa ini tak ada orang yang kematiannya diantarkan dengan kehormatan dan do’a oleh beragam identitas orang dan dalam jumlah yang begitu masif, kecuali beliau”.
Bagaimana kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur seperti itu? Suara apakah gerangan yang membisikkan dan menggerakkan nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang ini?. Tak ada jawaban rasional. Ia hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi. Saya ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw :
إن الله اذا احب عبدا دعا جبريل .فقال إنى أحب فلانا فأحبه فيحبه جبريل. ثم ينادى فى السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه اهل السماء قال فيوضع له القبول فى الارض. رواه ابو هريرة. أخرجه مالك فى الموطأ, ص 209.
“Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”.
Atau seperti kata Nabi Muhammad Saw :
طوبى للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا, واذا غابوا لم يفتقدوا أولئك مصابيح الهدى تنجلى بهم كل فتنة ظلماء. رواه البيهقى)
“Aduhai, betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal (tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. al Baihaqi).
Atau seperti kata sang sufi besar Ibnu Athaillah al Sakandari :
تسبق انوار الحكماء أقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير
Cahaya orang-orang bijak bestari mendahului perkataannya. Maka ketika batin telah tercerahkan, kata-kata mereka sampai (ke lubuk hati pendengarnya).
Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Maka Dialah yang membimbingnya. Maka mereka mencintainya, karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih dahulu dengan tulus. Maka getaran-getaran cinta itu menebar dan menembus relung-relung jiwa mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang elektrik halus tetapi dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu menjadi terang benderang.
Segera sesudah itu, begitu reflektif dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna padanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih sejuta sebutan lainnya. Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar”. Gus Dur adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan kurang ajar”, kata hati saya, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, katanya menuntaskan. Dan suasana berubah menjadi mengharu-biru.
Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman masing-masing. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pengalaman adalah kebenaran sejati, meski tak bisa diraba, tak bisa dianalisis dengan nalar. Ia melampaui kecerdasan nalar. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar.
Tetapi saya meyakini Gus Dur tak akan pernah meminta diberi sebutan apapun. Ia akan mengatakan “aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hamba Allah”. Ia tak pernah terganggu oleh sebutan-sebutan duniawi. Lebih dari 10 gelar kehormatan akademis tertinggi yang diterimanya dari berbagai universitas prestisius dunia, tak pernah dipakainya dan tak pernah disandangnya, bahkan bingkai-bingkainya tak dipasang di rumahnya. Ketika saya, suatu hari, memasuki salah satu kamar di rumahnya, saya melihat, bingkai-bingkai bertuliskan kata “penghargaan” tersebut, hanya ditata rapi di atas meja. Gus Dur tak seperti yang lain yang mengejar gelar-gelar kehormatan itu untuk membesarkan dirinya, bahkan meski dengan membayar berapapun. Gus Dur sudah besar dan terhormat, meski tak diberi sebutan kebesaran dan kehormatan apapun, termasuk Pahlawan. Terhadap penyebutan kehormatan di atas, Gus Dur mungkin akan menyanyikan syair ini :
وكل يدعى وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذاك
Masing-masing boleh saja mengaku kekasih “Laila”
Tetapi “Laila” tak mengakui semua itu
Gus Dur bebas dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan kini. Ia tak menginginkan apapun dan tak iri hati pada siapapun. Ia tak mengharap-harap dan meminta puja-puji apapun dan dari siapapun. Ia menerima apapun yang terjadi . Ia ridha atas segala yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Jiwanya tak tergantung pada apa-apa dan pada siapa-siapa. Gelar-gelar kehormatan tak menjadikannya lebih besar. Gus Dur hanya akan mengatakan : “Aku sudah bekerja”. “Aku sudah berjuang”. “Aku sudah “berperang”. “Aku sudah membagi cinta” dan “Aku sudah memaafkan”. Itu sudah cukup. Selebihnya terserah Tuhan”.
Itu tentu karena Gus Dur telah membaca al Qur’an dan telah lama merenungkan maknanya : “Katakan (wahai Muhammad): “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(Q.S. al Taubah,[9:105).
Lalu adakah orang yang memberi makna sebaliknya?. Adakah orang yang membencinya dan senang atas kematiannya, atau paling tidak orang yang tak ambil peduli atas kepergiannya?. Seperti kehidupan yang warna-warni, Tuhan juga menciptakan keanekaragam individu dengan sifat kualitatif yang berbeda-beda. Keragaman ini akan terus ada sepanjang kehidupan belum selesai, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Keragaman adalah niscaya kealaman. Saya membaca di dunia maya beragam komentar sinis terhadapnya. Gus Dur yang sudah selesai menjalani hidup, tetap saja dicaci-maki dan dicemooh oleh sejumlah orang, seperti ketika ia masih dan sedang menjalaninya. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia tak pantas dipanggil Gus, karena ini panggilan untuk anak kiyai yang saleh. Lebih tepat ia disebut “Mr. Dur” atau sebutan lain. Bahkan Mr. Dur, kata mereka, tak layak disebut-sebut namanya lagi. Ia telah melukai hati umat dan menjual agamanya. Mereka mengingat apa yang pernah diucapkan dan dilakukan Gus Dur semasa hidupnya yang begitu banyak mengandung kekafiran kesesatan (bid’ah) dan kemusyrikan (menyekutukan Tjuhan). Kehadirannya di sejumlah gereja dan rumah ibadah lain, pendapatnya agar “Assalamu’alaikum” diganti dengan “Selamat pagi” atau “selamat siang”, persahabatannya dengan Yahudi, Israel, pembelaannya kepada non muslim adalah bentuk-bentuk kekafiran dan melukai umat Islam. Begitu juga prakarsanya untuk mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme dan Marxisme, serta konsistensinya yang luar biasa untuk menghargai keberagaman keyakinan manusia (Pluralisme) dan sejuta soal lainnya. Itu semua, kata mereka, adalah cacat-cacat Gus Dur yang tidak bisa dimaafkan. Untuk soal Pluralisme, mereka mengangap bahwa ia adalah paham yang sesat dan menyesatkan bahkan merupakan kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Ini karena pluralisme, menurut mereka, merupakan pengakuan atas kebenaran semua agama-agama dan semua keyakinan-keyakinan manusia. Dan ini dosa maha besar yang tidak akan diampuni.
Di kutub yang lain lagi, saya melihat ada sejumlah orang yang tak bicara apa-apa ketika Gus Dur wafat. Mereka diam, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi dan seakan-akan membiarkan Gus Dur pergi. Apakah makna diam mereka? Ah, dia orang biasa saja!. Peduli amat!. Tak mengerti apa-apa?. Kebencian yang tak bisa meledak?. Luapan senang atas kematiannya yang tersekat?. O, apakah sesungguhnya makna diam mereka?. Simbol terperangah?, terkejut-kejut?, terbengong-bengong? Atau memang karena mereka tak lagi mampu mau bicara apa sesudah menyaksikan peristiwa maha dahsyat itu?. Diam memang menyimpan sejuta makna yang tak bisa kita pahami hari ini. Mungkin kita akan menemukan makna diam mereka kelak. Kita tunggu saja.
Tokoh Besar Sanggup Melawan Luka
Caci maki dan sumpah serapah terhadap Gus Dur, tidaklah membuatnya menjadi rendah, menjadi kecil. Sikap seperti itu justeru semakin menguatkan kebesarannya. Kita sudah membaca sejarah umat manusia, sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradok: dikagumi dan dicemooh. Ka’ab al Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang :
ما كان رجل حكيم فى قومه قط الا بغوا عليه وحسدوه
“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu ada mereka yang mencaci-maki dan mendengki”.
Jalal al Din al Suyuthi, ulama besar, seorang einsiklopedis, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan bahasa yang sedikit berbeda:
ما كان كبير فى عصر قط الا كان له عدو من السفلة. إذ الاشراف لم تزل تبتلى بالاطراف فكان لآدم إبليس , وكان لنوح حام وغيره وكان لداود جالوت واضرابه وكان لسليمان صخر وكان لعيسى بختنصر وكان لابراهيم النمرود وكان لموسى فرعون وهكذا الى محمد صلى الله عليه وسلم فكان له ابو جهل.
“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nuh lawan Ham dan lainnya, Daud lawan Jalut dan pasukannya, Sulaiman lawan Sakhr, Isa lawan Bukhtanshir, Ibrahim lawan Namrud, Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad saw. Beliau dilawan Abu Jahal”.
Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarah mereka, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan dan dizindikkan (dituduh ateis) oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri dan buta pada kebenaran yang lain. Imam al Ghazali, sang sufi besar menyebut mereka “orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas. Seharusnya keterbatasan itu hanya bagi dirinya sendiri dan tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Mereka tak mengerti bahwa setiap kata-kata suci mengandung beribu makna”.(Baca: Ihya Ulum al Din).
Abd Allah Sahal al Tusturi, sufi agung, bilang :
لو أعطى العبد بكل حرف من القرآن الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى اية من كتابه لانه كلام الله وكلامه صفته . وكما ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه وإنما يفهم كل بمقدار ما يفتح عليه.
الزكشى, البرهان فى علوم القرآن, جزء 1 ص 9
“Andai hamba Tuhan dianugerahi seribu mengerti makna untuk satu huruf al Qur’an, dia tak bisa menjangkau seluruh tanda kehendak Tuhan yang ditinggalkan dalam kitab-Nya. Karena ia adalah “Kalam Allah”(firman) yang adalah Sifat-Nya. Oleh karena Tuhan tak terbatas, maka juga tak ada batas mengerti makna firman-Nya. Setiap orang hanya bisa mengerti sebatas yang diberikan-Nya”.(Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al Qur’an, I/9).
Boleh jadi, mereka yang mengaku benar sendiri sambil menololkan orang lain itu, melukai dan menyerang, sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih.
Lihatlah, tokoh sufi legendaris Abu Manshur al Hallaj. Ia harus berdiri di atas tiang gantungan untuk mengakhiri hidupnya. Hukuman ini dijatuhkan terhadapnya menyusul fatwa sejumlah Ulama yang berkolusi atau berselingkuh dengan para penguasa, konon, demi membela Tuhan. Mereka menilai pandangan al Hallaj tentang “Wahdah al Wujud”, atau “Hulul” (manunggal) sebagai kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan yang nyata. Dia antara lain pernah bilang begini :
مزجت روحك فى روحى كما
تمزج الخمرة بالماء الزلا ل
فإذا مسك شيئ مسنى
فإذا أنت أنا فى كل حال
Roh-Mu bercampur rohku
Bagai campuran khamr
dan air tawar bening
Bila sesuatu menyentuh-Mu
Ia menyentuhku
Engkau adalah aku
Dalam segala hal
Teorinya tentang Kesatuan Wujud pada dasarnya juga meniscayakan pengakuan terhadap eksistensi agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, keyakinan-keyakinan, dan pada saat yang sama memprovokasi keharusan untuk mentoleransi seluruh agama-agama yang ada di muka bumi. Al Hallaj kokoh dengan keyakinannya. Tetapi dia membiarkan yang lain punya pikiran atau keyakinan sendiri yang lain. Dia tidak punya minat menyerangnya, malah mendo’akan mereka. Sebelum ajal menjemput, di hadapan ribuan pasang mata yang merah-padam, al Hallaj mengadu kepada Tuhan :
الهى هؤلاء عبادك قد اجتمعوا لقتلى تعصبا لدينك وتقربا اليك, فاغفر لهم فإنك لو كشفت لهم ما كشفت لى لما فعلوا ما فعلوا. ولو سترت عنى ما سترت عنهم لما ابتليت ما ابتليت. فلك الحمد فيما تفعل ولك الحمد فيما تريد.
“O, Tuhanku, mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka telah berkumpul untuk membunuhku, karena semangat menggebu mereka untuk membela agama-Mu dan ingin dekat dengan-Mu. Ampunilah mereka. Andai saja Engkau singkapkan kepada mereka seperti apa yang telah Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Andai saja Engkau membutakan mataku, seperti membutakan mata mereka, niscaya aku tidak akan mengalami cobaan seperti ini. Hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau putuskan, dan hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Ibnu Arabi, sang Guru terbesar kaum sufi (al Syaikh al Akbar), juga harus menerima beragam tuduhan : kafir, musyrik, murtad dan sebagainya. Ketika sedang berada di pondokannya di Mesir, ratusan orang dengan pedang terhunus di tangan, menyerbunya untuk membunuhnya. Sahabatnya menyelematkan dia. Katanya kepada mereka yang marah: “Muhyiddin memang sedang “gila”. Kalian mau membunuh “orang gila?”. Tuduhan dan serbuan terhadapnya itu, gara-gara Ibnu Arabi mengemukakan pandangan pluralisme keagamaan yang diungkapkan dalam bait-bait puisi menawan. Ia menuliskannya dalam Diwan (kumpulan puisi) nya yang terkenal : “Tarjuman al Asywaq” (Senandung Kerinduan). Di situ ia bersenandung lagu rindu:
لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثا ن وكعبة طا ئف
والواح توراة ومصحف قرآن
ادين بدين الحب اين توجهت
ركائبه فا لحب دينى وايمانى
Jiwaku telah siap menjemput
Segala fenomena semesta
Padang rumput bagi kawanan rusa
Kuil-kuil para Rahib
Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang yang memutarinya
Lempengan-lempengan Taurat
Lembaran-lembaran suci Al Qur’an
O, Akulah penganut setia Cinta
Ke manapun gerobag
pembawa Cinta bergerak
Aku mengejarnya
Aku penganut Cinta-Mu
Abu Yazid al Bisthami diusir dari rumahnya sampai tujuh kali dan disiksa berkali-kali. Dzunnun al Mishri digiring dan diseret dengan tangan dirantai dari Mesir menuju Baghdad. Mereka menuduhnya “zindiq” (atheis). Samnun al Muhib, dilempari tulang belulang kotor kering. Sahl al Tusturi diusir dari rumahnya, dari tanah airnya ke Basrah. Abu al Qasim al Junaidi, berkali-kali dituduh kafir. Dia terpaksa tak keluar rumah selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun sampai kematian menjemputnya. Syeikh Abu al Hasan al Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah, diusir dari Mesir. Dia dituduh atheis. Taj al Din al Subki, ahli fiqh terkemuka, dikafirkan. Dia ditangkap lalu dengan tangan diborgol diarak ramai-ramai dari Syam (Siria) ke Mesir. Ibnu Rusyd al Hafid, diusir dan diasingkan ke Alisan, sebuah kampung dekat Cordoba, yang sempat menjadi perkampungan kaum Yahudi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam al Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Jalal al Din al Rumi, Syuhrawardi al Maqtul, Abu Sa’id al Kharraz, Abu Bakar al Syibli, Abu Bakar al Nablusi, Syeikh Abu Madyan, Izz al Din bin Abd al Salam, dan lain-lain juga mengalami “mihnah” (inkuisisi) dengan cara yang beragam. Mereka, seperti diketahui banyak orang, adalah tokoh-tokoh legendaries, para maha guru, sufi besar, para Imam besar, para Ulama, kaum cendikiawan, para pejuang kemanusiaan.
Dengarlah puisi ini :
وكفروا وزندقوا وبدعوا إذا دعاهم اللبيب الاورع
Mereka yang terbatas
begitu mudah mengkafirkan,
mensesatkan dan memusyrikkan
bila para bijak bestari mengajak
Dengarkan pula puisi elegi sang sufi besar Ali Zainal Abidin ini :
ويا رب جوهر علم لو ابوح به
لقيل لى انت ممن يعبد الوثنا
ولاستباح رجال مسلمون دمى
يرون اقبح ما يأتونه حسنا
Aduhai, betapa banyak mutiara pengetahuan
Andai aku sebarkan
Niscaya aku dibilang: “kau pemuja berhala!”
Niscaya mereka menghalalkan darahku
Mereka kira
Kerja buruk mereka
Adalah kebaikan semata
Meskipun para bijak-bestari itu harus mengalami nestapa karena pandangan-pandangan agamanya yang dinilai sesat oleh keputusan fatwa, atau vonis kekuasaan otoriterian dan despotik, mereka tetap saja tegar dan siap melawan sakit dan menanggung kengerian. Nama mereka tetap hidup sepanjang sejarah, sepanjang masa. Pikiran-pikirannya tak pernah usang dan terus menjadi inspirasi bagi banyak cendekiawan sesudahnya. Buku-buku dan tulisan-tulisan mereka terus dibaca, dikaji, dan didiskusikan atau diseminarkan, berabad dan berkurun-kurun. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang masih dikunjungi dan diziarahi, sampai hari ini dan untuk hari-hari depan yang panjang. Meski telah pergi, mereka tetap memberi berkah dan kegembiraan kepada orang-orang yang datang menjenguk dan yang menjaga pusaranya yang penuh bunga. Demi nilai-nilai yang luhur, demi kebenaran dan kejujuran, demi keadilan dan cinta, mereka melawan tirani dan melawan luka.
Seperti mereka, begitulah eksistensi Gus Dur. Ia dimaknai secara beragam dan controversial, baik ketika ia hadir di muka bumi maupun sesudah ia menghilang untuk pulang dan tak kembali lagi. Ia dikagumi, dicintai dan dihormati oleh begitu banyak manusia dan mereka memperoleh inspirasi dari gagasan-gagasannya. Dalam bahasa santri ; “Mereka memperoleh “barokah” Gus Dur”. Tetapi dalam waku yang sama juga disingkirkan, dikafirkan dan dimusyrikkan oleh orang-orang yang tak mengerti. Rumahnya pernah diteror orang tak dikenal. Alhamdulillah, Gus Dur selamat. “Al Insan A’daa-u ma Jahilu” (manusia memusuhi apa yang tak diketahuinya), kata pepatah bijak.
Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi
Gus Dur adalah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tidak suka dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur agar jika ia kelak wafat, nisannya ditulis “Di Sini dikubur Sang Pluralis”. Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tidak, dan tak peduli masyarakat memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin memandang manusia, siapapun dia dan di manapun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. Sejauh yang saya tahu, Gus Dur tak banyak bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Qur’an ini : “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”.
“Li Ta’arafu” (saling mengenal), tidak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah dan tubuh yang lain. Saling mengenal adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang berbeda, yang tak sama. Lebih dari segalanya “li ta’arafu” berarti agar kalian saling menjadi arif bagi yang lain.
Yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling taqwa, bukan yang paling gagah atau cantik, bukan yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa bukan sekedar sering datang ke masjid atau ke majlis ta’lim, membaca kitab suci, memutar-mutar tasbih, bangun malam, atau puasa saban hari. Tetapi lebih dari itu taqwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam.
Semua itulah makna taqwa yang dipahami Gus Dur. Maka Gus Dur bukan sekedar menghargai atau menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan juga menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Sebaliknya, ia akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan. Ketika para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bersama mereka. Ketika Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak “jangan”. Ketika Inul Daratisna dihujat ramai-ramai karena dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia “memeluk”nya dengan hangat. Ketika Dorce disoraki karena berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan lembut dan penuh kasih. “Jika itu adalah dirimu, teruslah bekerja”, katanya. Ketika urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diserahkan kepada Negara, ia berdemonstrasi bersama isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama mereka yang menghargai kemanusiaan. Ketika orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. Meski tak bisa melihat dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan. Gus Dur senang.
Seringkali kita melihat sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia harus mempertaruhkan jiwanya. Ia tak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang bikin heboh itu, misalnya, Gus Dur tak menemukan mata lain yang penuh pengertian. Ia berjalan sendiri. Seorang sufi mengatakan “ia yang jiwanya telah mencapai kesadaran yang matang, bantuan eksternal tak lagi diperlukan”. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, karena ia telah matang. “La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia tak pernah takut pada mata yang membenci). Kata Gus Dur; “Di tempatkan di urutan manapun, Muhammad bin Abdullah tetap saja sang penghulu para nabi dan utusan Tuhan, Insan Kamil”.
Bagi Gus Dur semua manusia adalah sama, tak peduli dari mana asal usulnya, apa jenis kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat adalah bahwa mereka manusia seperti dirinya dan yang lain. Yang ia lihat adalah niat baik dan perbuatannya, seperti kata Nabi ; “Tuhan tidak melihat tubuh dan wajahmu, melainkan amal dan hatimu”. Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tidak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Gus tetap saja nembela mereka. Ia membela karena tubuh mereka diserang dan dilukai hanya karena baju agamanya yang berwarna lain, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan dan kehormatan mereka diinjak-injak. Padahal mereka tak melakukan apa-apa. Membela kehormatan adalah perjuangan besar. Bagi Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, personal, individual, yang dianggap sebagian orang sebagai tak bermoral, tak boleh melibatkan Negara, tak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh, sampai khatam dan dengan ketulusan.
Bagi Gus Dur, keyakinan dan pikiran tak bisa dinamai tak bisa diberi tanda. Pikiran adalah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hamba-Nya. Dialah Pemilik nafas setiap yang hidup dan Dialah yang akan menanyainya kelak, bila tiba masanya. Karena itu, hanya Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tidak yang lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi :
ليس فى وسعك إبعاد تلك الفكر عنك بمأئة الف جهد وسعى
“Tak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat”.
Itulah sikap seorang yang telah memiliki batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya mampu menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Kata-kata-Nya memiliki dan menyimpan berjuta makna dan tak terbatas. Pemaksaan atas pikiran dan keyakinan orang tak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya menjadi sakit, menderita, dan menghambat kemajuan orang dan peradaban manusia. Tak ada cara lain untuk menundukkan orang lain kecuali melalui bicara manis, tanpa marah-marah dan dengan otak yang cerdas. Jika tak tunduk, biarkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri, sambil katakan saja : “anda adalah anda dan aku adalah aku. Wassalam”.
Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam dan para Nabi-nabi sejak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya adalah Al Mustashfa, karya Imam Abu Hamid al Ghazali. Sufi besar ini mengatakan bahwa tujuan aturan agama adalah memberikan jaminan keselamatan keyakinan orang, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al Ghazali menyebut lima prinsip dasar perlindungan ini sebagai “al Kulliyyat al Khams”. Orang sering menyebutnya “Maqashid al Syari’ah” (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada setiap manusia yang tak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah basis fundamental (al rukn al asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur. Meskipun Gus Dur membaca dan mengerti, tetapi ia tidak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, seperti dituduhkan sebagian orang. Ia menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia mampu menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan genuine, sejalan dengan konteks kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang sangat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya : bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan.
Melalui penjagaan atas lima prinsip dasar kemanusiaan universal tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan manusia atas dasar kemanusiaan (ukhuwwah Insaniyyah), tanpa dibatasi sekat-sekat primordial. Ini menurut saya sesungguhnya merupakan gagasan para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, adalah orang-orang yang paling vocal menyuarakan gagasan pluralisme dan persaudaraan universal itu. Tak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tidak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang kehadapan-Nya seluruh yang mawjud tunduk. Dan seluruh yang mawjud (ada) sejak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda.
عباراتنا شتى وحسنك واحد وكل الى ذاك الجمال يشير
Bahasa kita begitu beragam
tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah
Dan kita masing-masing menuju
kepada Keindahan Yang Satu itu
Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini seharusnya tidak menghalangi setiap manusia untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak manusia yang lainnya. Para sufi memandang alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan sebagai “tajalli” Tuhan, perwujudan rahmat dan keagungan-Nya di alam semesta. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Dialah Sang Penciptanya. Ibnu Athaillah, nama sufi besar yang dikagumi Gus Dur, banyak bicara soal Kesatuan Semesta, meneruskan gagasan Ibnu Arabi. Ibnu Ajibah mengomentari gagasan itu dalam syairnya yang indah:
أنظر جمالى شاهدا فى كل إنسان
الماء يجرى نافدا فى أس الاغصان
تجده ماء واحدا والزهر ألوان
Lihatlah Keindahan-Ku
Tampak pada semua manusia
Air mengalir,
menembus
pokok dahan dan ranting
Engkau mendapatinya
Berasal dari satu mata air
Padahal bunga berwarna-warni
Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik raksasa dan primer sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau dibaca tetapi hanya sampai kulit luar, yang tertulis, yang literal, harfiyah, dan tak khatam, tak selesai.
Lihatlah, para bikhu (bhiksu) dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan do’a-do’a. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah seperti ini di manapun. Lihatlah, bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tujuh hari, memberi hormat padanya. Para pemimpin dari berbagai belahan dunia menyampaikan belasungkawa, terima kasih dan harapan agar cita-cita Gus Dur diteruskan oleh siapa saja. Do’a-do’a, wirid-wirid dan zikir mereka bergemuruh berhari-hari memenuhi ruang maya, menembus langit demi langit sampai ujung tanpa batas. Bukan hanya Yusuf Kalla, mantan wakil Presiden, tapi juga beribu-ribu orang, yang bersaksi : “Sepanjang sejarah bangsa ini tak ada orang yang kematiannya diantarkan dengan kehormatan dan do’a oleh beragam identitas orang dan dalam jumlah yang begitu masif, kecuali beliau”.
Bagaimana kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur seperti itu? Suara apakah gerangan yang membisikkan dan menggerakkan nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang ini?. Tak ada jawaban rasional. Ia hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi. Saya ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw :
إن الله اذا احب عبدا دعا جبريل .فقال إنى أحب فلانا فأحبه فيحبه جبريل. ثم ينادى فى السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه اهل السماء قال فيوضع له القبول فى الارض. رواه ابو هريرة. أخرجه مالك فى الموطأ, ص 209.
“Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”.
Atau seperti kata Nabi Muhammad Saw :
طوبى للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا, واذا غابوا لم يفتقدوا أولئك مصابيح الهدى تنجلى بهم كل فتنة ظلماء. رواه البيهقى)
“Aduhai, betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal (tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. al Baihaqi).
Atau seperti kata sang sufi besar Ibnu Athaillah al Sakandari :
تسبق انوار الحكماء أقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير
Cahaya orang-orang bijak bestari mendahului perkataannya. Maka ketika batin telah tercerahkan, kata-kata mereka sampai (ke lubuk hati pendengarnya).
Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Maka Dialah yang membimbingnya. Maka mereka mencintainya, karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih dahulu dengan tulus. Maka getaran-getaran cinta itu menebar dan menembus relung-relung jiwa mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang elektrik halus tetapi dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu menjadi terang benderang.
Segera sesudah itu, begitu reflektif dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna padanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih sejuta sebutan lainnya. Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar”. Gus Dur adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan kurang ajar”, kata hati saya, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, katanya menuntaskan. Dan suasana berubah menjadi mengharu-biru.
Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman masing-masing. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pengalaman adalah kebenaran sejati, meski tak bisa diraba, tak bisa dianalisis dengan nalar. Ia melampaui kecerdasan nalar. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar.
Tetapi saya meyakini Gus Dur tak akan pernah meminta diberi sebutan apapun. Ia akan mengatakan “aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hamba Allah”. Ia tak pernah terganggu oleh sebutan-sebutan duniawi. Lebih dari 10 gelar kehormatan akademis tertinggi yang diterimanya dari berbagai universitas prestisius dunia, tak pernah dipakainya dan tak pernah disandangnya, bahkan bingkai-bingkainya tak dipasang di rumahnya. Ketika saya, suatu hari, memasuki salah satu kamar di rumahnya, saya melihat, bingkai-bingkai bertuliskan kata “penghargaan” tersebut, hanya ditata rapi di atas meja. Gus Dur tak seperti yang lain yang mengejar gelar-gelar kehormatan itu untuk membesarkan dirinya, bahkan meski dengan membayar berapapun. Gus Dur sudah besar dan terhormat, meski tak diberi sebutan kebesaran dan kehormatan apapun, termasuk Pahlawan. Terhadap penyebutan kehormatan di atas, Gus Dur mungkin akan menyanyikan syair ini :
وكل يدعى وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذاك
Masing-masing boleh saja mengaku kekasih “Laila”
Tetapi “Laila” tak mengakui semua itu
Gus Dur bebas dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan kini. Ia tak menginginkan apapun dan tak iri hati pada siapapun. Ia tak mengharap-harap dan meminta puja-puji apapun dan dari siapapun. Ia menerima apapun yang terjadi . Ia ridha atas segala yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Jiwanya tak tergantung pada apa-apa dan pada siapa-siapa. Gelar-gelar kehormatan tak menjadikannya lebih besar. Gus Dur hanya akan mengatakan : “Aku sudah bekerja”. “Aku sudah berjuang”. “Aku sudah “berperang”. “Aku sudah membagi cinta” dan “Aku sudah memaafkan”. Itu sudah cukup. Selebihnya terserah Tuhan”.
Itu tentu karena Gus Dur telah membaca al Qur’an dan telah lama merenungkan maknanya : “Katakan (wahai Muhammad): “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(Q.S. al Taubah,[9:105).
Lalu adakah orang yang memberi makna sebaliknya?. Adakah orang yang membencinya dan senang atas kematiannya, atau paling tidak orang yang tak ambil peduli atas kepergiannya?. Seperti kehidupan yang warna-warni, Tuhan juga menciptakan keanekaragam individu dengan sifat kualitatif yang berbeda-beda. Keragaman ini akan terus ada sepanjang kehidupan belum selesai, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Keragaman adalah niscaya kealaman. Saya membaca di dunia maya beragam komentar sinis terhadapnya. Gus Dur yang sudah selesai menjalani hidup, tetap saja dicaci-maki dan dicemooh oleh sejumlah orang, seperti ketika ia masih dan sedang menjalaninya. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia tak pantas dipanggil Gus, karena ini panggilan untuk anak kiyai yang saleh. Lebih tepat ia disebut “Mr. Dur” atau sebutan lain. Bahkan Mr. Dur, kata mereka, tak layak disebut-sebut namanya lagi. Ia telah melukai hati umat dan menjual agamanya. Mereka mengingat apa yang pernah diucapkan dan dilakukan Gus Dur semasa hidupnya yang begitu banyak mengandung kekafiran kesesatan (bid’ah) dan kemusyrikan (menyekutukan Tjuhan). Kehadirannya di sejumlah gereja dan rumah ibadah lain, pendapatnya agar “Assalamu’alaikum” diganti dengan “Selamat pagi” atau “selamat siang”, persahabatannya dengan Yahudi, Israel, pembelaannya kepada non muslim adalah bentuk-bentuk kekafiran dan melukai umat Islam. Begitu juga prakarsanya untuk mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme dan Marxisme, serta konsistensinya yang luar biasa untuk menghargai keberagaman keyakinan manusia (Pluralisme) dan sejuta soal lainnya. Itu semua, kata mereka, adalah cacat-cacat Gus Dur yang tidak bisa dimaafkan. Untuk soal Pluralisme, mereka mengangap bahwa ia adalah paham yang sesat dan menyesatkan bahkan merupakan kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Ini karena pluralisme, menurut mereka, merupakan pengakuan atas kebenaran semua agama-agama dan semua keyakinan-keyakinan manusia. Dan ini dosa maha besar yang tidak akan diampuni.
Di kutub yang lain lagi, saya melihat ada sejumlah orang yang tak bicara apa-apa ketika Gus Dur wafat. Mereka diam, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi dan seakan-akan membiarkan Gus Dur pergi. Apakah makna diam mereka? Ah, dia orang biasa saja!. Peduli amat!. Tak mengerti apa-apa?. Kebencian yang tak bisa meledak?. Luapan senang atas kematiannya yang tersekat?. O, apakah sesungguhnya makna diam mereka?. Simbol terperangah?, terkejut-kejut?, terbengong-bengong? Atau memang karena mereka tak lagi mampu mau bicara apa sesudah menyaksikan peristiwa maha dahsyat itu?. Diam memang menyimpan sejuta makna yang tak bisa kita pahami hari ini. Mungkin kita akan menemukan makna diam mereka kelak. Kita tunggu saja.
Tokoh Besar Sanggup Melawan Luka
Caci maki dan sumpah serapah terhadap Gus Dur, tidaklah membuatnya menjadi rendah, menjadi kecil. Sikap seperti itu justeru semakin menguatkan kebesarannya. Kita sudah membaca sejarah umat manusia, sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradok: dikagumi dan dicemooh. Ka’ab al Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang :
ما كان رجل حكيم فى قومه قط الا بغوا عليه وحسدوه
“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu ada mereka yang mencaci-maki dan mendengki”.
Jalal al Din al Suyuthi, ulama besar, seorang einsiklopedis, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan bahasa yang sedikit berbeda:
ما كان كبير فى عصر قط الا كان له عدو من السفلة. إذ الاشراف لم تزل تبتلى بالاطراف فكان لآدم إبليس , وكان لنوح حام وغيره وكان لداود جالوت واضرابه وكان لسليمان صخر وكان لعيسى بختنصر وكان لابراهيم النمرود وكان لموسى فرعون وهكذا الى محمد صلى الله عليه وسلم فكان له ابو جهل.
“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nuh lawan Ham dan lainnya, Daud lawan Jalut dan pasukannya, Sulaiman lawan Sakhr, Isa lawan Bukhtanshir, Ibrahim lawan Namrud, Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad saw. Beliau dilawan Abu Jahal”.
Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarah mereka, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan dan dizindikkan (dituduh ateis) oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri dan buta pada kebenaran yang lain. Imam al Ghazali, sang sufi besar menyebut mereka “orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas. Seharusnya keterbatasan itu hanya bagi dirinya sendiri dan tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Mereka tak mengerti bahwa setiap kata-kata suci mengandung beribu makna”.(Baca: Ihya Ulum al Din).
Abd Allah Sahal al Tusturi, sufi agung, bilang :
لو أعطى العبد بكل حرف من القرآن الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى اية من كتابه لانه كلام الله وكلامه صفته . وكما ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه وإنما يفهم كل بمقدار ما يفتح عليه.
الزكشى, البرهان فى علوم القرآن, جزء 1 ص 9
“Andai hamba Tuhan dianugerahi seribu mengerti makna untuk satu huruf al Qur’an, dia tak bisa menjangkau seluruh tanda kehendak Tuhan yang ditinggalkan dalam kitab-Nya. Karena ia adalah “Kalam Allah”(firman) yang adalah Sifat-Nya. Oleh karena Tuhan tak terbatas, maka juga tak ada batas mengerti makna firman-Nya. Setiap orang hanya bisa mengerti sebatas yang diberikan-Nya”.(Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al Qur’an, I/9).
Boleh jadi, mereka yang mengaku benar sendiri sambil menololkan orang lain itu, melukai dan menyerang, sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih.
Lihatlah, tokoh sufi legendaris Abu Manshur al Hallaj. Ia harus berdiri di atas tiang gantungan untuk mengakhiri hidupnya. Hukuman ini dijatuhkan terhadapnya menyusul fatwa sejumlah Ulama yang berkolusi atau berselingkuh dengan para penguasa, konon, demi membela Tuhan. Mereka menilai pandangan al Hallaj tentang “Wahdah al Wujud”, atau “Hulul” (manunggal) sebagai kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan yang nyata. Dia antara lain pernah bilang begini :
مزجت روحك فى روحى كما
تمزج الخمرة بالماء الزلا ل
فإذا مسك شيئ مسنى
فإذا أنت أنا فى كل حال
Roh-Mu bercampur rohku
Bagai campuran khamr
dan air tawar bening
Bila sesuatu menyentuh-Mu
Ia menyentuhku
Engkau adalah aku
Dalam segala hal
Teorinya tentang Kesatuan Wujud pada dasarnya juga meniscayakan pengakuan terhadap eksistensi agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, keyakinan-keyakinan, dan pada saat yang sama memprovokasi keharusan untuk mentoleransi seluruh agama-agama yang ada di muka bumi. Al Hallaj kokoh dengan keyakinannya. Tetapi dia membiarkan yang lain punya pikiran atau keyakinan sendiri yang lain. Dia tidak punya minat menyerangnya, malah mendo’akan mereka. Sebelum ajal menjemput, di hadapan ribuan pasang mata yang merah-padam, al Hallaj mengadu kepada Tuhan :
الهى هؤلاء عبادك قد اجتمعوا لقتلى تعصبا لدينك وتقربا اليك, فاغفر لهم فإنك لو كشفت لهم ما كشفت لى لما فعلوا ما فعلوا. ولو سترت عنى ما سترت عنهم لما ابتليت ما ابتليت. فلك الحمد فيما تفعل ولك الحمد فيما تريد.
“O, Tuhanku, mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka telah berkumpul untuk membunuhku, karena semangat menggebu mereka untuk membela agama-Mu dan ingin dekat dengan-Mu. Ampunilah mereka. Andai saja Engkau singkapkan kepada mereka seperti apa yang telah Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Andai saja Engkau membutakan mataku, seperti membutakan mata mereka, niscaya aku tidak akan mengalami cobaan seperti ini. Hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau putuskan, dan hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Ibnu Arabi, sang Guru terbesar kaum sufi (al Syaikh al Akbar), juga harus menerima beragam tuduhan : kafir, musyrik, murtad dan sebagainya. Ketika sedang berada di pondokannya di Mesir, ratusan orang dengan pedang terhunus di tangan, menyerbunya untuk membunuhnya. Sahabatnya menyelematkan dia. Katanya kepada mereka yang marah: “Muhyiddin memang sedang “gila”. Kalian mau membunuh “orang gila?”. Tuduhan dan serbuan terhadapnya itu, gara-gara Ibnu Arabi mengemukakan pandangan pluralisme keagamaan yang diungkapkan dalam bait-bait puisi menawan. Ia menuliskannya dalam Diwan (kumpulan puisi) nya yang terkenal : “Tarjuman al Asywaq” (Senandung Kerinduan). Di situ ia bersenandung lagu rindu:
لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثا ن وكعبة طا ئف
والواح توراة ومصحف قرآن
ادين بدين الحب اين توجهت
ركائبه فا لحب دينى وايمانى
Jiwaku telah siap menjemput
Segala fenomena semesta
Padang rumput bagi kawanan rusa
Kuil-kuil para Rahib
Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang yang memutarinya
Lempengan-lempengan Taurat
Lembaran-lembaran suci Al Qur’an
O, Akulah penganut setia Cinta
Ke manapun gerobag
pembawa Cinta bergerak
Aku mengejarnya
Aku penganut Cinta-Mu
Abu Yazid al Bisthami diusir dari rumahnya sampai tujuh kali dan disiksa berkali-kali. Dzunnun al Mishri digiring dan diseret dengan tangan dirantai dari Mesir menuju Baghdad. Mereka menuduhnya “zindiq” (atheis). Samnun al Muhib, dilempari tulang belulang kotor kering. Sahl al Tusturi diusir dari rumahnya, dari tanah airnya ke Basrah. Abu al Qasim al Junaidi, berkali-kali dituduh kafir. Dia terpaksa tak keluar rumah selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun sampai kematian menjemputnya. Syeikh Abu al Hasan al Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah, diusir dari Mesir. Dia dituduh atheis. Taj al Din al Subki, ahli fiqh terkemuka, dikafirkan. Dia ditangkap lalu dengan tangan diborgol diarak ramai-ramai dari Syam (Siria) ke Mesir. Ibnu Rusyd al Hafid, diusir dan diasingkan ke Alisan, sebuah kampung dekat Cordoba, yang sempat menjadi perkampungan kaum Yahudi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam al Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Jalal al Din al Rumi, Syuhrawardi al Maqtul, Abu Sa’id al Kharraz, Abu Bakar al Syibli, Abu Bakar al Nablusi, Syeikh Abu Madyan, Izz al Din bin Abd al Salam, dan lain-lain juga mengalami “mihnah” (inkuisisi) dengan cara yang beragam. Mereka, seperti diketahui banyak orang, adalah tokoh-tokoh legendaries, para maha guru, sufi besar, para Imam besar, para Ulama, kaum cendikiawan, para pejuang kemanusiaan.
Dengarlah puisi ini :
وكفروا وزندقوا وبدعوا إذا دعاهم اللبيب الاورع
Mereka yang terbatas
begitu mudah mengkafirkan,
mensesatkan dan memusyrikkan
bila para bijak bestari mengajak
Dengarkan pula puisi elegi sang sufi besar Ali Zainal Abidin ini :
ويا رب جوهر علم لو ابوح به
لقيل لى انت ممن يعبد الوثنا
ولاستباح رجال مسلمون دمى
يرون اقبح ما يأتونه حسنا
Aduhai, betapa banyak mutiara pengetahuan
Andai aku sebarkan
Niscaya aku dibilang: “kau pemuja berhala!”
Niscaya mereka menghalalkan darahku
Mereka kira
Kerja buruk mereka
Adalah kebaikan semata
Meskipun para bijak-bestari itu harus mengalami nestapa karena pandangan-pandangan agamanya yang dinilai sesat oleh keputusan fatwa, atau vonis kekuasaan otoriterian dan despotik, mereka tetap saja tegar dan siap melawan sakit dan menanggung kengerian. Nama mereka tetap hidup sepanjang sejarah, sepanjang masa. Pikiran-pikirannya tak pernah usang dan terus menjadi inspirasi bagi banyak cendekiawan sesudahnya. Buku-buku dan tulisan-tulisan mereka terus dibaca, dikaji, dan didiskusikan atau diseminarkan, berabad dan berkurun-kurun. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang masih dikunjungi dan diziarahi, sampai hari ini dan untuk hari-hari depan yang panjang. Meski telah pergi, mereka tetap memberi berkah dan kegembiraan kepada orang-orang yang datang menjenguk dan yang menjaga pusaranya yang penuh bunga. Demi nilai-nilai yang luhur, demi kebenaran dan kejujuran, demi keadilan dan cinta, mereka melawan tirani dan melawan luka.
Seperti mereka, begitulah eksistensi Gus Dur. Ia dimaknai secara beragam dan controversial, baik ketika ia hadir di muka bumi maupun sesudah ia menghilang untuk pulang dan tak kembali lagi. Ia dikagumi, dicintai dan dihormati oleh begitu banyak manusia dan mereka memperoleh inspirasi dari gagasan-gagasannya. Dalam bahasa santri ; “Mereka memperoleh “barokah” Gus Dur”. Tetapi dalam waku yang sama juga disingkirkan, dikafirkan dan dimusyrikkan oleh orang-orang yang tak mengerti. Rumahnya pernah diteror orang tak dikenal. Alhamdulillah, Gus Dur selamat. “Al Insan A’daa-u ma Jahilu” (manusia memusuhi apa yang tak diketahuinya), kata pepatah bijak.
Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi
Gus Dur adalah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tidak suka dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur agar jika ia kelak wafat, nisannya ditulis “Di Sini dikubur Sang Pluralis”. Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tidak, dan tak peduli masyarakat memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin memandang manusia, siapapun dia dan di manapun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. Sejauh yang saya tahu, Gus Dur tak banyak bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Qur’an ini : “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”.
“Li Ta’arafu” (saling mengenal), tidak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah dan tubuh yang lain. Saling mengenal adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang berbeda, yang tak sama. Lebih dari segalanya “li ta’arafu” berarti agar kalian saling menjadi arif bagi yang lain.
Yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling taqwa, bukan yang paling gagah atau cantik, bukan yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa bukan sekedar sering datang ke masjid atau ke majlis ta’lim, membaca kitab suci, memutar-mutar tasbih, bangun malam, atau puasa saban hari. Tetapi lebih dari itu taqwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam.
Semua itulah makna taqwa yang dipahami Gus Dur. Maka Gus Dur bukan sekedar menghargai atau menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan juga menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Sebaliknya, ia akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan. Ketika para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bersama mereka. Ketika Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak “jangan”. Ketika Inul Daratisna dihujat ramai-ramai karena dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia “memeluk”nya dengan hangat. Ketika Dorce disoraki karena berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan lembut dan penuh kasih. “Jika itu adalah dirimu, teruslah bekerja”, katanya. Ketika urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diserahkan kepada Negara, ia berdemonstrasi bersama isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama mereka yang menghargai kemanusiaan. Ketika orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. Meski tak bisa melihat dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan. Gus Dur senang.
Seringkali kita melihat sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia harus mempertaruhkan jiwanya. Ia tak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang bikin heboh itu, misalnya, Gus Dur tak menemukan mata lain yang penuh pengertian. Ia berjalan sendiri. Seorang sufi mengatakan “ia yang jiwanya telah mencapai kesadaran yang matang, bantuan eksternal tak lagi diperlukan”. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, karena ia telah matang. “La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia tak pernah takut pada mata yang membenci). Kata Gus Dur; “Di tempatkan di urutan manapun, Muhammad bin Abdullah tetap saja sang penghulu para nabi dan utusan Tuhan, Insan Kamil”.
Bagi Gus Dur semua manusia adalah sama, tak peduli dari mana asal usulnya, apa jenis kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat adalah bahwa mereka manusia seperti dirinya dan yang lain. Yang ia lihat adalah niat baik dan perbuatannya, seperti kata Nabi ; “Tuhan tidak melihat tubuh dan wajahmu, melainkan amal dan hatimu”. Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tidak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Gus tetap saja nembela mereka. Ia membela karena tubuh mereka diserang dan dilukai hanya karena baju agamanya yang berwarna lain, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan dan kehormatan mereka diinjak-injak. Padahal mereka tak melakukan apa-apa. Membela kehormatan adalah perjuangan besar. Bagi Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, personal, individual, yang dianggap sebagian orang sebagai tak bermoral, tak boleh melibatkan Negara, tak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh, sampai khatam dan dengan ketulusan.
Bagi Gus Dur, keyakinan dan pikiran tak bisa dinamai tak bisa diberi tanda. Pikiran adalah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hamba-Nya. Dialah Pemilik nafas setiap yang hidup dan Dialah yang akan menanyainya kelak, bila tiba masanya. Karena itu, hanya Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tidak yang lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi :
ليس فى وسعك إبعاد تلك الفكر عنك بمأئة الف جهد وسعى
“Tak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat”.
Itulah sikap seorang yang telah memiliki batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya mampu menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Kata-kata-Nya memiliki dan menyimpan berjuta makna dan tak terbatas. Pemaksaan atas pikiran dan keyakinan orang tak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya menjadi sakit, menderita, dan menghambat kemajuan orang dan peradaban manusia. Tak ada cara lain untuk menundukkan orang lain kecuali melalui bicara manis, tanpa marah-marah dan dengan otak yang cerdas. Jika tak tunduk, biarkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri, sambil katakan saja : “anda adalah anda dan aku adalah aku. Wassalam”.
Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam dan para Nabi-nabi sejak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya adalah Al Mustashfa, karya Imam Abu Hamid al Ghazali. Sufi besar ini mengatakan bahwa tujuan aturan agama adalah memberikan jaminan keselamatan keyakinan orang, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al Ghazali menyebut lima prinsip dasar perlindungan ini sebagai “al Kulliyyat al Khams”. Orang sering menyebutnya “Maqashid al Syari’ah” (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada setiap manusia yang tak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah basis fundamental (al rukn al asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur. Meskipun Gus Dur membaca dan mengerti, tetapi ia tidak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, seperti dituduhkan sebagian orang. Ia menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia mampu menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan genuine, sejalan dengan konteks kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang sangat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya : bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan.
Melalui penjagaan atas lima prinsip dasar kemanusiaan universal tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan manusia atas dasar kemanusiaan (ukhuwwah Insaniyyah), tanpa dibatasi sekat-sekat primordial. Ini menurut saya sesungguhnya merupakan gagasan para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, adalah orang-orang yang paling vocal menyuarakan gagasan pluralisme dan persaudaraan universal itu. Tak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tidak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang kehadapan-Nya seluruh yang mawjud tunduk. Dan seluruh yang mawjud (ada) sejak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda.
عباراتنا شتى وحسنك واحد وكل الى ذاك الجمال يشير
Bahasa kita begitu beragam
tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah
Dan kita masing-masing menuju
kepada Keindahan Yang Satu itu
Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini seharusnya tidak menghalangi setiap manusia untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak manusia yang lainnya. Para sufi memandang alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan sebagai “tajalli” Tuhan, perwujudan rahmat dan keagungan-Nya di alam semesta. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Dialah Sang Penciptanya. Ibnu Athaillah, nama sufi besar yang dikagumi Gus Dur, banyak bicara soal Kesatuan Semesta, meneruskan gagasan Ibnu Arabi. Ibnu Ajibah mengomentari gagasan itu dalam syairnya yang indah:
أنظر جمالى شاهدا فى كل إنسان
الماء يجرى نافدا فى أس الاغصان
تجده ماء واحدا والزهر ألوان
Lihatlah Keindahan-Ku
Tampak pada semua manusia
Air mengalir,
menembus
pokok dahan dan ranting
Engkau mendapatinya
Berasal dari satu mata air
Padahal bunga berwarna-warni
Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik raksasa dan primer sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau dibaca tetapi hanya sampai kulit luar, yang tertulis, yang literal, harfiyah, dan tak khatam, tak selesai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar