selamat datang di blog orang yang gak pengin go blog

Sabtu, 23 Januari 2016

MENGINTIP NILAI ESTETIKA SYAIR ALFIYAH IBNU MALIK DALAM KACAMATA TAFSIR HERMENEUTIK-SUFISTIK

Ahmad Shofi Muhyiddin Episode 1 Bahasa Arab (diakui) sebagai satu-satunya bahasa dunia yang paling komprehensif; ia memiliki kekayaan metodologi dan kosa kata yag melimpah ruah. (Gustave E. Von Gruenebaum, Medieval Islam; A Study in Cultural Orentation) Abstrak Tulisan ini berupaya mengungkapkan beberapa karakteristik syair-syair “Alfiyah Ibnu Malik” dengan menggunakan metode hermeneutika dan wacana hermeneutika dalam perspektif tasawuf (ta’wil). Dapat dikemukakan bahwa syair-syair Ibnu Malik al-Andalusy merupakan sebuah karya sastra yang kaya dengan pengalaman ruhani berkenaan dengan keindahan dan cinta Illahiyah, syair Ibnu Malik memiliki kesamaan tematik dengan puisi tradisi sufi tentang kerinduan, mistisme cinta, tingkatan-tingkatan ruhani menuju makrifat, dan bahkan penyatuan cinta dalam fana. Potret Estetika dalam Karya Sastra; Sebuah Pendahuluan. Estetika dalam karya sastra (puisi) begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinatif yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika yang dominan.(1) Dalam hal ini, estetika dalam karya sastra menjadi suatu elemen penting yang eksistensinya berperan dalam menentukan kiblat baiknya sebuah karya sastra. Estetika dalam karya sastra selalu berdiri sejajar dengan etika. Dalam diskursus kesusastraan, etika dapat ditafsirkan sebagai nilai moral, sedangkan estetika sebagai nilai keindahan dalam karya sastra.(2) Dalam sajak, estetika menjadi semakin penting peranannya karena sajak adalah genre sastra yang mengemas peristiwa dalam diksi yang padat dan secara total memberdayakan dengan penuh aspek estetikanya. Estetika dalam sajak berdiri sejajar dengan makna. Tidak mengherankan bila kesempurnaan sajak sangat ditentukan oleh bangunan estetikanya. Pentingnya peran estetika dalam sajak ini karena secara umum merupakan makna dari nilai-nilai keindahan dan keagungan pemikiran yang terdapat di dalam sajak. Dalam Tulisan sederhana ini, penulis akan mencoba melakukan penafsiran makna syair-syair Ibnu Malik al-Andalusy, dikaji dengan membahas estetika sajak kaitannya dengan makna simbol dalam bait-bait syair tersebut (penafsiran dalam kaca mata hermeneutik-sufistik). Ibnu Malik dan Kultur Andalusia; Secarik Curiculum Vitae. Beliaulah Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah bin Malik at-Thoy al-Jayyany. Beliau lahir pada tahun 600 H atau bertepatan dengan 21 Februari 1203 M di sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol) yang bernama Jayyan.(3) Pada saat itu, penduduk Negeri ini sangat cinta akan ilmu, dan mereka pun berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam menelorkan beberapa kitab. Pada masa kecil, Ibnu Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syekh al-Syalaubini (w. 645 H). Beliau memulai perjalanan intelektualnya dengan menghafal al-Quran beserta qiroat-qiroatnya dari sang guru yang bernama Tsabit bin Khiyar al-Kalaa’i seorang penduduk Lubbah, mempelajari disiplin ilmu nahwu, fiqh madzhab Maliki.(4) Setelah menginjak dewasa, beliau berangkat ke Timur untuk menuaikan ibadah Haji, dan selanjutnya diteruskan menuntut ilmu di Damaskus. Di sana beliau belajar ilmu dari beberapa ulama’ setempat, misalnya al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana, kemudian beliau melanjutkan rihlah intelektualnya di Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syekh Ibnu Ya’isy al-Hallaby (w. 643 H).(5) Di kawasan dua kota ini, nama Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuwan, karena beliau termasuk orang yang cerdas dan pemikirannya yang jernih. Beliau banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori madzhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh masyarakat Syiria kala itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya seperti Imam al-Nawawi, Ibnu al-Athar, al-Mizzi, al-Dhahabi, al-Shairafi, dan Qodhi Qudhot ibnu Jama’ah.(6) Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini senantiasa mengambil syahid atau dalil atas teorinya itu dari al-Quran, kalau tidak didapatkan, beliau menyajikan dari teks Hadits, dan kalau tidak menemukan lagi, maka beliau menyajikan dalil dari syair-syair para sastrawan Arab kenamaan.(7) Estetika dalam Sastra; Sebuah Pengenalan. Sebagai cabang filsafat dan ilmu yang berdiri sendiri, estetika terlepas dari metafisika, logika, etika, dan teologi, terjadi sejak abad ke-18, dan pandangan sebagai ilmu yang berdiri sendiri sebagian masih dipertahankan sampai masa kini. Buku paling awal yang membahas estetika sebagai ilmu tersendiri ialah karya Baumgarten, seorang filsuf rasionalis Jerman, buku itu diberi judul Aesthetica (1950).(8) Kata “aesthetica” diambil dari kata Yunani “aesthesis”, yang artinya pengamatan indera atau sesuatu yang merangsang indera. Dari arti perkataan itu, Baumgarten mengartikan estetika sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan objek yang dapat diamati dan merangsang indera, khususnya karya seni. Dalam perkataan “aesthesis” juga tercakup pengertian sensasi atau reaksi organisme tubuh manusia terhadap rangsangan luar. Begitulah, dalam pengertian tersebut tercakup reaksi perasaan terhadap objek pengamatan inderawi, kecenderungan jiwa manusia terhadap segala sesuatu yang menjadi sasaran.(9) Secara umum kajian dalam estetika ini mengandung tiga unsur utama, yaitu: 1. Pembicaraan tentang hakikat karya seni dan objek-objek indah buatan manusia. 2. Pembicaraan tentang maksud dan tujuan penciptaan karya seni, serta cara bagaimana memahami dan menafsirkannya. 3. Mencari tolak-ukur penilaian karya seni dengan kaidah-kaidah tertentu. Tolak ukur bobot dan keindahan karya seni juga harus dikaitkan dengan besar-kecilnya kesempurnaan yang ditampilkan karya seni. Dalam hal ini, para ahli estetika melihat besar-kecilnya kesempurnaan dalam karya seni secara umum memberikan patokan, yaitu: (1) Sempurna dilihat dari sudut bobot gagasan, konsep, dan wawasannya. (2) Sempurna dilihat dari besarnya fungsi sebuah karya seni dalam kehidupan manusia. (3) Sempurna dilihat dari sudut nilai-nilai yang ditawarkan karya seni dan relevansinya bagi perkembangan kebudayaan. (4) Sempurna dilihat dari sudut kesesuaian karya seni dengan cita-cita kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan atau keruhanian yang hendak ditegakkan manusia. dan (5) Sempurna dilihat dari sudut kegunaan.(10) Keterkaitannya dengan sastra, estetika menjadi suatu elemen penting yang mengemas makna yang akan dikomunikasikan dalam karya sastra. Estetika kedudukannya seperti tubuh atau wadah yang menyimpan makna, gagasan, pemikiran, dan amanat. Kedudukan estetika dalam sastra dikemas dalam bentuk kata-kata (bahasa) yang berwujud ungkapan. Hal inilah yang membedakan antara estetika dalam seni sastra dan seni-seni lainnya. Estetika dalam sastra melesap dalam bahasa, estetika seni lukis melesap dalam warna dan garis, estetika seni musik melesap dalam bunyi atau suara, sedangkan estetika seni tari melesap dalam gerak. Dengan demikian, estetika dalam sastra bisa ditafsirkan setelah karya sastra direkuperasi arti atau bahkan maknanya secara menyeluruh. Akhirnya memahami estetika dalam sastra sama kedudukannya seperti kita memahami makna dalam sastra. Oleh karena itu, antara makna dan estetika dalam karya sastra menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan. Estetika pada akhirnya menjadi idiosinkrasi dari seni (seni sastra), di mana estetika sering menjadi hal yang paling ditonjolkan dalam karya sastra.(11) Sastrawan dalam menciptakan karya sastra selalu mengindahkan nilai-nilai estetikanya. Nilai estetika pada gilirannya menjadi corak yang khas dalam karya sastra. Tidak mengherankan jika T.S. Elliot (sastrawan ternama dari Inggris) menafsirkan bahwa keindahan karya sastra sangat ditentukan oleh aspek kesastraannya atau estetikanya, sedangkan keagungannya sangat ditentukan oleh pemikirannya. Namun, pemikiran dalam karya sastra selalu melembaga di dalam aspek estetikanya. Oleh karena itu, estetika dan pemikiran dalam sastra tidak bisa dijauhkan eksistensinya. Keduanya menjadi bagian penting yang membangun karya sastra. Menafsirkan dan meretas nilai estetika di dalam karya sastra sama halnya dengan menafsirkan makna pemikiran yang terdapat di dalam karya sastra.(12) Tafsir Hermeneutik-Sufistik; Tranfaransi Kitab Alfiyah Ibnu Malik. a). Terminologi Hermeneutik-Sufistik. Pada awalnya keberadaan hermeneutika itu merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan oleh mereka yang berhubungan dengan kitab suci, terutama Injil. Hermeneutika diberdayakan sebagai ilmu untuk menafsirkan kehendak Tuhan kepada manusia, model ini hanya milik kaum penafsir kitab suci, kemudian hermeneutika berkembang dalam berbagai bidang disiplin ilmu yang luas. Kajian terhadap hermeneutika sebagai sebuah bidang keilmuan mulai marak pada abad ke-20, di mana kajian hermeneutika semakin berkembang. Hermeneutika tidak hanya mencakup kajian terhadap kitab suci saja (teks keagamaan) dan teks klasik, melainkan berkembang jauh kepada ilmu yang lain. Adapun ilmu-ilmu yang terkait erat dengan hermeneutika adalah ilmu sejarah, filsafat, hukum, kesusastraan, dan bidang ilmu yang terkait dengan pengetahuan tentang kemanusiaan. Secara etimologis kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, yaitu hermeneuein, yang berarti “menafsirkan, menerjemahkan, dan mengartikan”. Dari kata hermeneuein ini dapat ditarik kata benda hermeneia yang berarti “penafsiran” atau “interpretasi”, dan kata hermeneutes yang berarti “penafsir”. Kata ini sering diasosiasikan dengan nama salah seorang dewa Yunani Hermes yang dianggap sebagai utusan dewa langit.(13) Kedudukan Hermes adalah dewa yang menyampaikan pesan para dewa kepada manusia sehingga dapat dikatakan ia tidak hanya mengumumkan kepada mereka kata demi kata saja, melainkan bertindak sebagai penerjemah yang menjadikan kata-kata para dewa dapat dimengerti dengan jelas dan bermakna; di samping itu, dapat memunculkan penjelasan terhadapnya atau hal lainnya sebagai tambahan, yang hal itu disebut sebagai tafsiran hermeneutika. Dari sinilah hermeneutika terikat kepada dua tugas yaitu, pertama, memastikan isi dan makna sebuah kata atau kalimat dalam teks; kedua, menemukan instruksi-instruksi yang terdapat di dalam bentuk simbolisasi. Di sini ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pertama, karya sastra, yang dalam hal ini penulis lebih mengerucutkan pada syair-syair sufistik, karena tradisi para sufi adalah menyusun gagasan-gagasan mereka dalam bentuk puisi, kebiasaan membuat nadhom (puitisasi) untuk mempermudah mempelajari ilmu-ilmu fiqih, nahwu-shorf (gramatikal arab), dan ilmu-ilmu lain yang terwariskan hingga kini di lingkungan pesantren-pesantren Salafiyah (konvensional-tradisional) merupakan sebuah contoh nyata. Karya Sastra adalah sebuah simbolisasi yang berarti bukan sekadar mimesis (tiruan) atas kenyataan inderawi, tetapi pengkiasan (mitsal) atau salinan menggunakan kias atau simbol terhadap gagasan yang lahir dari pengalaman batin penulis, jadi merupakan salinan daripada sesuatu yang terdapat dalam alam rohani. Kedua, fakulti yang dapat memahami gagasan yang terdapat dalam alam rohani dan transformasinya ke dalam ungkapan estetik yang simbolik ialah akal kontemplatif dan imaginasi kreatif.(14) Mengenai peranan imaginasi kreatif, Abdul Karim al-Jili dalam Kitab “al-Insan al-Kamil” mengatakan bahwa imaginasi merupakan asas dan sumber dari kewujudan sesuatu yang berkaitan dengan kreativitas manusia. Ia adalah intipati pengalaman batin, yang di dalamnya kehadiran ucapan teofani dan pancaran alam kerohanian dapat dimungkinkan keberadaannya (Corbin, 1977). Dalam kaitannya dengan teks sebagai peristiwa bahasa dan sekaligus model dari tindakan pemikiran dan perenungan, imaginasi jelas sangat diperlukan. Pertama-tama karena kedudukan kata-kata dan ungkapan kunci tertentu dalam teks sangat unik, bukan semata-mata sebagai penuturan logis, melainkan sebagai penuturan simbolik yang penuh nuansa. Sebagaimana imaginasi kreatif, dunia yang ditempati makna terdalam teks adalah alam yang lebih tinggi dari alam perasaan dan pikiran biasa.(15) Membincang seputar imaginasi kreatif, kita dapat mengambil contoh pendekatan Iqbal(16) yang bersumber dari tradisi hermeneutik-sufistik dan dilandasi oleh semangat profetik, bisa dipertemukan dengan pandangan Heidegger seperti terlihat dalam bukunya “The Origin of Work of Art”, yang dijadikan acuan pendekatan hermeneutik Hans Georg-Gadamer. Pendekatan Iqbal dan Heidegger terhadap sastra, khususnya puisi atau syair, ternyata berfaedah sebagai landasan untuk memahami berbagai ragam karya spiritualistik, sufistik, dan profetik yang muncul selama beberapa dasawarsa ini di Timur maupun Barat.(17) Bahkan Iqbal lebih jauh lagi ke depan, dengan mengatakan bahwa sastra yang sejati semestinya mampu menjadi pembimbing kemanusiaan dengan pesan keruhanian dan profetiknya. Jika Heidegger menunjuk puisi-puisi Hoerderlin sebagai contoh karya sastra yang membawakan pesan dan semangat profetik, suatu semangat vital yang telah ditinggalkan oleh cita-cita ilmu pengetahuan modern, maka Iqbal menunjukkan Jalaludin Rumi sebagai idola baru bagi kemanusiaan karena puisi-puisinya yang agung dalam Matsnawi. Gagasan ini selaras dengan apa yang berlaku dalam tradisi Islam, yang selalu menghubungkan puisi dengan spiritualitas, yang hubungan puisi dengan metafisika dan logika tidak terpisahkan dan keduanya menjadi bagian yang utuh dalam puisi, sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Islamic Art and Spirituality (1987), khususnya dalam bab “Metaphysics, Logic dan Poetry in the Orient”. Menurut Nasr, dalam tradisi Islam puisi merupakan bagian dari upaya mencapai apa yang disebut hikmah, dan sebagai upaya kerohanian ia membantu mengajak manusia kembali ke wujudnya yang lebih tinggi dan ke kesadaran yang lebih tinggi pula.(18) Syahdan, dari beberapa pendapat yang penulis counter di atas, tafsir hermeneutik-sufistik atas karya monumental pujangga Andalus abad 13 ini, mempunyai maksud bahwasanya penulis ingin mengintip substansi dari konstruksi epistemologis syair-syair master piece sang pujangga dalam kitab alfiyah Ibnu Malik dengan kaca mata hermeneutik-sufistik, untuk dapat menelorkan sebuah pemahaman terhadap simbol-simbol yang terdapat dalam syair tersebut, khususnya dalam dunia tasawuf. b). Konstruksi Epistemologis Alfiyah Ibnu Malik; Sebuah Perpaduan Dimensi Eksoteris dan Esoteris. Pembahasan ini terinspirasi saat penulis sedang dalam keadaan “mabuk” berat, saat penulis sedang tenggelam dalam genangan samudera cinta, dan terseret oleh ombak-ombak kerinduan terhadap “Sang Kekasih”. Dengan tanpa sengaja, dalam syauq yang begitu memuncak, penulis melontarkan salah satu bait dari syair master piecenya Ibnu Malik. Dan kemudian timbullah hasrat untuk mengupas syair-syair Alfiyah Ibnu Malik dengan pisau analisa tasawuf. Melakukan analisa terhadap syair Alfiyah dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik seperti pemahaman di atas, tidak saja akan menemukan pesan awal yang terkandung dalam konstruksi syair tersebut, melainkan juga akan menemukan satu sisi penting yang tersimpan dalam simbol-simbol kasusastraan sebuah karya sastra, dan pembacaan seperti itu tidak akan bisa terlaksana kecuali dengan menggunakan kaca mata hermeneutik-sufistik. Kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan kitab yang berisi kurang lebih 1000 bait syair gramatikal, yakni syair yang mengulas seputar pembahasan ilmu gramatikal (nahwu-shorf). Namun, menurut penulis kitab Alfiyah ini merupakan sebuah rajutan yang memadukan genre eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris terlihat dari pembacaan biasa (pembacaan seputar nahwu-shorf) kita atas syair-syair itu, sedangkan dimensi esoteris hanya akan kita temukan jika kita mau melakukan pembacaan hermeneutik atas syair-syair itu. Dimensi esoteris Alfiyah Ibnu Malik mendapuk peran perasa batin (mistisisme cinta), dan penyingkapan intuitif (mistisisme makrifat) dalam mengencani teks-teks agama. c). Mistisime Makrifat menurut Ibnu Malik. c.1. Manusia Makhluk Makrokosmos. “نكرة قابل آل مؤثرا أو واقع موقع ما قد ذكرا” Artinya: semua makhluk hidup sejatinya bersifat umum (nakiroh), yang dapat menerima sebuah keistimewaan (al ta’rif) yang sangat berpengaruh dari sang pencipta jagad, selain itu, makhluk juga merupakan sesuatu yang bertempat dalam jagadnya (bumi) Dzat yang maha pencipta sebagaimana telah disebutkan. Dalam syair di atas, sang pujangga Andalus menjelaskan bahwasanya kita (manusia) merupakan makhluk yang tiada beda antara satu dengan yang lainnya, kita tak ada bedanya dengan hewan, kita tak ada bedanya dengan Jin, bahkan kita tak ada bedanya dengan Malaikat. Namun sebagai manusia kita harus bersyukur, karena kita memiliki sebuah keistimewaan (al ta’rif) yang bisa kita banggakan dibanding Malaikat, Jin, maupun hewan. Kita (manusia) dianugerahi akal-pikiran, sehingga -selain dapat membedakan dirinya dengan makhluk lainya- kita dapat mencari cahaya kebenaran yang sejati. Karena –perlu diingat- jika manusia mampu menemukan cahaya kebenaran tersebut, maka sejatinya ia lebih mulia dari Malaikat, sebab dengan menemukan cahaya kebenaran, hal itu merupakan sebuah pertanda bahwa manusia mampu melawan hawa nafsunya, sedangkan Malaikat tercipta dengan tanpa hawa nafsu, maka tak heran jika mereka selalu taat beribadah. Namun jika ia (manusia) terjerumus dalam jurang nafsu, maka ia tak jauh bedanya dengan hewan, bahkan ia lebih hina dari hewan, sebab ia sudah diberikan akal-pikiran, tapi tidak ia pergunakan, sedangkan hewan tidak diberikan akal-pikiran, maka tak heran jika hewan tak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Selain itu, manusia merupakan makhluk makrokosmos, kenapa? Ada beberapa alasan mengapa manusia penulis sebut sebagai makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos(19): Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad alam semesta ini. Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang sudah ditakdirkan Tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmos alam semesta. Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta. Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak. Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini. Justru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir. Contoh kecil yang bisa penulis ambil, coba kalian pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama atau dalam istilah Jawa sering disebut meditasi, maka kalian akan menemukan dan merasakan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini. Manusia memang bertempat, karena ia hanyalah sebuah materi yang tersusun dari banyak partikel, ia hanyalah sebuah benda yang dapat berfikir, namun dengan berfikir itulah, manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan berfikir itulah manusia merupakan makhluk makrokosmos dan bukan mikrokosmos. Mengingat akan hal itu, tidak sewajarnya jika kita terjebak dalam dunia yang sempit ini, tidak patut makhluk seperti manusia terjerumus dalam fatamorgana dunia, karena manusia merupakan kholifah dalam dunia ini, maka sepatutnya ia menjadi penerang, bahkan pemegang kuasa atas dunia, bukan malah terjebak dalam fatamorgana sesaat. Mulai sekarang, mungkin kita harus memulai hidup dengan mengunakan akal kita, kita harus mulai bertafakkur atas segala kejadian yang ada di jagad raya ini, karena dengan bertafakkur, kita akan belajar apa arti kehidupan, kita juga akan menyadari kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yang ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi (perbuatan) yg bermanfaat, maka dengan demikian kita aka berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi (asal kejadian kita). Adapun untuk mecapai ajaran sangkan paraning dumadi, dalam buku “cipta brata manunggal” karangan Ki Bratakesawa disebutkan, manusia harus: 1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo ing pandum (menerima apa adanya) 2. Jaga kesucian lahir batin 3. Olah raga 4. Olah nafas 5. Berpakaian yang pantas dan bersih. 7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan 8. Bekerja rajin 9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan 10. Makan teratur, makan seperlunya saja. 11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam 13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam. 14. Perasaan dan pikiran terarah. 16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.(20) Dan terakhir, setelah kita mencapai ajaran sangkan paraning dumadi, kita akan memahami tingkatan-tingkatan untuk mencapai sembah rasa (makrifat), dan kita akan sadar bahwasanya “sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu”, yakni sebagaimana ungkapan ibnu Athoilah dalam al-hikamnya “pada hakekatnya semua yang ada di alam ini adalah fana’, dan yang nyata serta abadi hanyalah kuasa Tuhan pencipta Jagad”.(21) c.2). Tangga-tangga Makrifat. “وغيره معرفة كهم وذى وهند وابنى والغلم والذى” Artinya: dan selain nakiroh (orang-orang pada umumnya) adalah orang makrifat billahi Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat seperti lafadz hum (isim dhomir), lafadz dzi (isim isyaroh), lafadz hinda (alam asma/alam jenis), lafadz ibny (isim yang dimudhofkan), lafadz al-ghulaami (al-ta’rif), dan lafadz alladzi (isim mausul). Keterangan syair: Syair sang pujangga Andalus di atas, mengajarkan pada kita untuk mencapai derajat makrifat, karena derajat makrifat –menurut sebagian besar ulama’ sufi- merupakan derajat yang paling tinggi di sisi Tuhan, makrifat merupakan tujuan akhir dari suatu pendekatan diri kepada sang Pencipta, karena makrifat hanya bisa dicapai setelah manusia melewati tangga-tangga “istana Tuhan” yang meliputi Syariat, Thoriqot, Hakekat, baru kemudian Makrifat billahi Ta’ala. Berbicara soal Makrifat, penulis ingat sebuah wejangan yang tertulis dalam seratan sang Guru bathin Ibnu Athoilah; al-Hikam yang artinya “sesuatu yang sangat diinginkan oleh sang Arif (orang yang makrifat) dari Allah swt adalah kejujuran dalam beribadah kepada-Nya serta mendirikan hak-hak-Nya”,(22) dalam artian, seseorang yang makrifat billah tiada lain tujuan dalam ibadahnya melainkan hanya untuk menembus kejujuran hatinya dalam beribadah, ia beribadah hanya semata-mata mengharapkan ridho Illahi Robby, ia melaksanakan segala sesuatu yang menjadi hak Allah karena semata-mata hanya mengharap ridho-Nya, bukan karena sebuah tuntutan ataupun mengharap imbalan dari-Nya. Oleh sebab itulah (sebab tingginya derajat Makrifat), -dalam pandangan penulis- Ibnu Malik al-Andalus pun mencoba menjelaskan “tangga-tangga istana Tuhan” melalui rangkaian kata-kata dalam sebuah syair karangan beliau “alfiyah ibnu malik”. Adapun tangga-tangga yang harus dilalui oleh seorang salik (pencari Makrifat) sebagaimana dalam syair di atas adalah: 1. Pertama-tama seorang salik harus mempunyai sifat seperti lafadz hum (isim dhomir), yakni si salik harus bisa menata hatinya (dhomir) terlebih dahulu, karena sebagaimana sabda kanjeng Nabi saw yang artinya “dalam sebuah jasad ada segumpal daging (mudghoh), apabila baik benda itu, maka akan baiklah seluruh jasad (tingkah laku manusia), dan apabila rusak benda itu, maka akan rusaklah seluruh jasad (tingkah laku manusia), benda itu tak lain adalah hati”.(23) Dari sabda kanjeng Nabi saw tersebut, dapat dipahami bahwasanya semua pekerjaan manusia adalah bersumber dari hati, baik buruknya tingkah polah manusia juga bersumber dari hati. Nah dari situ, sebelum melaksanakan titah Tuhan yang terkemas dalam Syariat-syariat-Nya, sudah seharusnya kita menata hati terlebih dahulu, karena walaupun sesering apapun kita melaksanakan Syariat Tuhan –baik itu sholat, puasa, zakat, haji, dll-, jika hati kita tidak tertata menuju kepada satu titik; Tuhan pencipta jagad, maka apa yang kita kerjakan pun akan sia-sia. Dikeluarkan oleh Imam Bukhori, bahwasanya Kanjeng Nabi bersabda “innama al-a’malu bi al-niyat wa innama lukulli imriin maa nawaa”(24), yakni segala sesuatu itu tergantung dari niatnya, dan perlu diketahui bahwasanya niat itu adanya hanya dalam hati, maka jika hati belum ditata dengan benar, maka niat pun akan salah, dan jika niat sudah salah, maka suatu pekerjaan pun akan bertujuan salah. Selain penafsiran di atas (seseorang harus menata hatinya), dapat juga diartikan bahwasanya seseorang harus mampu menghadirkan Tuhan dalam hatinya dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun ia berada. Karena hanya dengan menghadirkan-Nya dalam hati, kita baru bisa yakin bahkan merasakan kedekatan-Nya dengan kita, hal ini tercermin dalam pemaparan kanjeng Sunan Kalijaga tentang makrifat billah dalam “Serat Siti Jenar” yang berbunyi: “Den waspada ing mangkene, Sampun nganggo kumalamat, Den awas ing pangeran, Kadya paran awasipun, Pangeran pan ora rupa, Nora arah nora warni, Tan ana ing wujudira, Tanpa mangsa tanpa enggon, Sajatine nora nana, Lamun ora anaa, Dadi jagadipun suwung, Nora nana wujudira”, yang artinya (Hendaknya waspada pada yang berikut ini, Janganlah ragu-ragu, Lihatlah Tuhan secara jelas. Tapi, bagaimana melihat-Nya. Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa. Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna. Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat. Sebenarnya Ada-Nya itu tiada. Seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya).(25) Inti dari pemaparan Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut, Tuhan hanya bisa dilihat dari keyakinan kita akan keberadaan-Nya, dan keyakinan itu hanya bisa didapatkan jika kita mampu menghadirkan-Nya dalam hati, hal ini sebagaimana wejangan mbah Ibnu Athoilah dalam al-Hikamnya “pekerjaan/ ibadah seseorang tidak akan membuahkan sebuah pengharapan kepada Allah (ibadahnya hanya sebuah formalitas) tanpa adanya kesaksian dalam hati dan sebuah rasa butuh atas keberadaan-Nya dalam hati”(26), jadi kalau kita belum bisa menata hati kita, maka kita akan sulit untuk mencapai derajat Makrifat kepada Allah Ta’ala, karena sebagaimana wejangan Ibnu Araby “man a’rafa nafsahu ‘arafa Rabbahu”. 2. Setelah salik (pencari makrifat) mampu menata hatinya, ia kemudian harus seperti lafadz dzi (isim isyaroh), yakni ia harus membuktikan keyakinan dalam hatinya tersebut dengan isyaroh. Isyaroh terhadap Allah swt cukup dengan kita melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Jika dalam al-Quran Allah mewajibkan kita untuk melaksanakan sholat, puasa, zakat, haji, dll, maka tak cukup bagi kita hanya dengan meyakini keberadaan-Nya dan mengingat-Nya saja, namun kita juga harus melaksanakan perintah-Nya tersebut dengan sebuah isyaroh/perbuatan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh baginda kita, kanjeng Nabi Muhammad saw. Ada sebuah contoh yang bisa dijadikan sebuah pelajaran, katakanlah si A terkenal orang yang sakti dan keramat di kampungnya, konon menurut warga kampung ia adalah seorang yang makrifat, nah benar tidaknya berita ke-makrifatan si A dapat kita lihat dari kegiatan dia setiap harinya, yakni apakah ia dalam kesehariannya melaksanakan titah Allah (sholat, puasa, dll), kalau memang dia tidak melaksanakan semua kewajiban tersebut, walaupun dengan dalih apapun, ke-makrifatannya hanyalah tipuan setan semata, karena sebagaimana kita tau, para Wali Songo yang ke-keramatannya mampu mengguncang tanah jawa saja masih melaksanakan syariat Allah, bahkan kanjeng Nabi saw sendiri yang sudah tidak diragukan lagi ke-makrifatannya (lewat peristiwa isra’ mi’roj, dll), beliau setiap harinya juga melaksanakan syariat sebagaimana hamba Allah pada umumnya. Nah apa yang dikerjakan oleh Wali Songo dan Kanjeng Nabi itu tak lain karena pentingnya isyaroh dengan cara melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah, karena ibaratnya kita ingin pergi ke suatu tempat, kita tahu dimana tempatnya, namun jika kita hanya sekedar tahu tapi tidak berusaha untuk bisa ke sana, maka kita tidak mungkin bisa sampai ke tempat itu. Jadi, orang tidak akan bisa mencapai derajat makrifat sebelum membuktikan kecintaannya pada Allah dengan sebuah isyaroh dan perbuatan yang konkrit, karena Allah hanya akan di kenal oleh orang-orang yang mampu mengenal dirinya sendiri, dan pengenalan diri sendiri hanya bisa diperoleh dengan melihat apa yang sudah dia kerjakan selama ini, sebagaimana wejangan Ibnu Athoilah “jika kamu ingin mengetahui derajatmu di sisi Allah, maka lihatlah apa yang sudah kamu kerjakan selama ini”.(27) 3. Setelah salik membuktikan keyakinannya yang terpatri dalam hati dengan isyaroh atau perbuatan (beribadah), maka tangga selanjutnya yang harus ditempuh oleh salik adalah harus seperti lafadz hinda (alam asma/jenis), yakni dalam proses menuju tangga berikutnya (alam asma/jenis), si salik harus mencari seorang guru khos (mursyid) untuk membimbingnya dalam penyerahan diri kepada Allah, karena sifat alami manusia yang mudah lupa dan melakukan kesalahan sehingga mengharuskan manusia harus mempunyai pendamping (mursyid). Alasan penting lain untuk mendapatkan pendampingan (mursyid) yang tepat ialah bahwa kita selalu merupakan produk dari saat yang terakhir, dan karena saat itu dilahirkan dari saat sebelumnya, dan begitu seterusnya, ada suatu kesinambungan. Seseorang yang berdiri sendiri tak dapat menyadari seberapa jauh ia telah menyimpang dari jalan pengetahuan-diri atau penyadaran-diri. Dengan demikian, seorang pencari memerlukan teman untuk menggambarkan kepadanya, seperti cermin, tentang keadaan atau kedudukannya. Sebagaimana dalam kasus ilmu fisika atau ilmu alam, di mana tak diragukan lagi kita akan cenderung mengikuti seseorang yang mempunyai pengalaman dan kualifikasi yang lebih banyak dalam ilmu-ilmu tersebut, maka prinsip ini pun berlaku pada ilmu tentang Tuhan (Makrifat). Pada tingkat fisik, kita secara konstan berusaha ke arah keselarasan dan tindakan yang benar, dan kita mengikuti orang yang ahli dalam bidang ini. Demikian pula bagi keselarasan batin, orang yang paling memenuhi syarat adalah syekh spriritual sufi yang sejati. Namun, ada suatu perbedaan antara ilmu lahir dan ilmu batin. Dalam ilmu lahir, segala cacat dan kekurangsempurnaan dapat dideteksi dengan mudah. Tidak demikian halnya dengan ilmu batin, misalnya, dimana seseorang dapat tersenyum padahal sebenarnya ia sangat resah. Pengetahuan tentang ilmu batin memerlukan spesialisasi yang lebih dalam. Yang diperlukan adalah obat “hati”, yang tidak mudah diperoleh atau diberikan, sedang penyembuhan fisik dapat ditentukan, dianalisis dan logis, sehingga lebih mudah dicapai. Hakekat batin berhubungan dengan esensi dan sumber. Apabila hakikat batin mendatangi sumber, maka terjadilah kesatuan. Apabila orang bergerak menjauhi sumber cahaya, maka ia akan membeda-bedakan dan melihat berbagai bayangan yang berbeda serta profil yang berbeda-beda. Makin dekat orang mendatangi sumber cahaya, makin sedikit ia melihat perbedaan, sampai ia silau dan tenggelam serta terliputi oleh cahaya itu sendiri. Dalam artian, apabila seseorang telah mengambil seorang guru sufi sejati secara benar maka pada hakikatnya ia telah mengambil semua guru sufi. Dan sangatlah keliru jika kita mengira bahwa orang dapat membuang satu guru sufi lalu pergi kepada guru lainnya, kecuali apabila yang pertama tidak becus. Kemudian ketika si salik berkembang dan bergerak maju, ia akan selalu dapat melihat dirinya diawasi oleh sang guru rohani serta para guru-guru beliau karena rasa hormat sang guru rohani sendiri kepada guru-gurunya. Pencari yang cerdas akan selalu hidup dan berperilaku seakan-akan semua syekh sufi yang telah ditemui sedang mengawasinya, sedang benar-benar ada bersama dia dan menjadi pembimbing, pemberi peringatan, dan sahabatnya. Atas dasar itulah, maka selain dua tangga di atas, si salik juga harus mempunyai guru rohani khos agar selalu mengawasi serta membimbing segala tingkah laku salik dalam proses penyerahan diri kepada Allah Ta’ala. 4. Perjuangan salik tidak langsung berhenti sebab sudah menaiki tiga tangga di atas, namun setelah itu masih banyak lagi tangga-tangga menuju istana Tuhan, tidak mudah memang untuk mendapatkan maqom makrifat, karena semakin tinggi tangga yang kita naiki, maka tingkat kesulitan pun semakin berat, ibaratnya semakin tinggi kita mendaki gunung, semakin berat resikonya kalau kita terjatuh. Tangga ke empat yang harus dilalui salik adalah seperti lafadz ibny (isim yang dimudhofkan), yakni seorang salik harus bisa memudhofkan dan menyandarkan dirinya dengan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Dalam setiap waktu dan setiap perbuatan, salik harus mampu menyandarkannya kepada Dzat yang maha kuasa, saat dia makan, ia harus sadar bahwa itu bisa dilakukan karena nikmat-Nya, saat ia sakit, ia harus sadar bahwa sakitnya itu merupakan bukti kasih sayang-Nya, pokoknya dalam keadaan apapun ia harus sadar bahwa semuanya berasal dari Dzat kang ngeratuni jagad. Dalam hal ini, penulis ingat wejangan mbah guru Ibnu Athoilah “barang siapa yang menjadikan selain Allah (pahala, surga, dll) sebagai sebab dalam beribadah, maka sejatinya itu merupakan syahwat ringan, namun jika seseorang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebab atas ibadahnya, maka itulah sebuah kemulyaan yang tinggi di sisi-Nya”.(28) Dari wejangan mbah guru batin tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya segala sesuatu itu haruslah didasari atas keikhlasan, khususnya keikhlasan kepada Allah swt, karena hanya keikhlasan yang mampu membuat apa yang kita lakukan memiliki arti tersendiri, karena keikhlasan merupakan ruh dari segala amal perbuatan, tanpa adanya keikhlasan, apa yang telah kita lakukan -terlebih untuk-Nya- akan menjadi sia-sia belaka sebagaimana debu di atas batu licin yang tersiram oleh air hujan. Dalam al-Hikam, mbah Ibnu Athoilah berkata “al-a’maalu: shuwarun qooimatun, wa arwaakhuha: wujuudu sirri al-ikhlaasi fiihaa”. Selain itu, pengajaran tentang penyandaran diri kepada Allah pun tertuang dalam Layang Djoyoboyo disana disebutkan bahwasanya manusia harus selalu ingat dan menyandarkan segala sesuatu yang kita kerjakan disepanjang siang dan malam hanya kepada Gusti kang maha witjaksono, karena hanya Beliaulah (Allah)yang patut mendapatkan penghargaan tinggi seperti itu. (Djoborolo 13: Duh Gusti engkang moho witjaksono. Tjahyonipon rino pandjenengan sampon sirno, bali marang udjute wengi sangkeng kuwoso pandjenengan. Slametake Ingsoen ing dalu meniko, sirnakake bebayan kang tansah anggudo kawulo, slamet sangkeng kuwasanipon pandjenengan. Opo kuwi pantes kanggone siro bongoso Djowo, ora nyembah Gusti kang pareng sabdho kanggone siro. Lan sabdhoning Gusti kang uwes temuron kanggo djalmo manungso kang ono ing djagat iki, ora bakal biso diowahi. Lan semono ugo ukumane Gusti kanggone bongoso Djowo.) Oleh sebab itulah, untuk mencapai maqom makrifat, seorang salik harus menanamkan rasa ikhlas dalam dirinya, ikhlas yang dimaksud adalah dengan menyandarkan segala sesuatu yang ia kerjakan hanya kepada Allah swt saja, dengan tanpa adanya embel-embel (qoyyid) dalam setiap ibadahnya. 5. Tangga selanjutnya yang harus ditempuh oleh si salik dalam mencapai maqom makrifat adalah si salik harus mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding dengan orang-orang awam pada umumnya, salik harus bisa seperti lafadz al-ghulaami (al ta’rif), yakni al yang mampu memakrifatkan isim nakiroh. Keistimewaan yang harus dimiliki oleh salik tercermin dalam usaha-usaha pendekatan diri kepada Allah swt, hal itu bisa jadi dari segi keilmuan, dengan kata lain keilmuan salik harus lebih istimewa dari orang umum, atau dari segi ritual ibadah, dengan kata lain salik harus mempunyai nilai lebih dalam beribadah, mungkin dengan sering melakukan sholat sunnah, atau bahkan puasa sunnah dll, atau mungkin juga dari segi akhlaq, yakni salik harus mempunyai nilai akhlaq karimah, baik itu terpatri dalam diri salik ataupun tercermin dalam tindakan-tindakan social, dan masih banyak lagi keistimewaan yang bisa diusahakan oleh salik dalam proses menuju makrifat. Sebenarnya yang harus dilakukan salik agar medapat keistimewaan atau lebih menonjol dibanding orang pada umumnya, ia harus berusaha keras memperbaiki sifat-sifatnya, karena sifatnya lah yang mencerminkan tingkah ibadah, social, pribadi dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya. Dalam diktat kuliyah penulis yang berjudul al-Misbah al-Munir, penulis buku ini; Dr.Misbah Mansur Musa mengatakan bahwasanya sifat dasar manusia itu meliputi sifat imaniyah, sifat akhlaqiyah, dan sifat da’awiyah.(29) Sifat Imaniyah mencakup beberapa sifat seperti, taqwa dengan kata lain salik harus berusaha menanamkan rasa taqwa kepada Allah dalam dirinya, rasa taqwanya harus lebih dalam daripada orang-orang pada umumnya, usaha-usaha dalam taqorrub ila Allah juga harus disertai dengan rasa ikhlas, ikhlas dalam artian segala amal ibadahnya semata-mata hanya tertuju pada Allah swt dengan tanpa mengharap apa-apa dari-Nya, sehingga dalam kesehariannya pun salik bisa mengoreksi dirinya sendiri tentang apa yang sudah ia lakukan setiap harinya, apakah semua yang ia lakukan sudah semata-mata karena Allah ataukah karena yang lain. Selain taqwa salik juga harus ridho dengan qodho dan qodar Allah, dengan kata lain, ia harus menerima apapun yang Allah takdirkan untuknya, walaupun usaha yang dilakukan tidak sepadan dengan hasil yang ia dapatkan, ia harus mampu menerimanya, walaupun diberi cobaan dengan kemiskinan yang amat sangat lama, ia juga mampu menerimanya dengan ikhlas dan sabar, pokoknya ia harus mampu menerimana apapun pemberian Allah swt dengan lapang dada. Selanjutnya salik juga harus mampu menanamkan rasa jujur dalam setiap ucapan dan perbuatan, dan yang paling utama adalah rasa jujur dalam hati, karena manusia tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh hawa nafsu jika ia selalu menanamkan rasa jujur dalam hatinya, dalam surat al-taubah ayat 119 Allah berfirman, yang artinya “wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian semua kepada Allah, dan bersamalah kalian semua dengan orang-orang yang benar”. Sifat manusia yang kedua adalah Sifat Akhlaqiyah yang meliputi kesabaran, ketabahan dan lapang dada, dengan kata lain salik harus mampu menghadapi cobaan yang Allah berikan kepadanya dengan sabar, tabah dan lapang dada, Nabi saw dalam sebuah riwayatnya bersabda, yang arinya kurang lebih sebagai berikut “barang siapa yang mampu menahan hal-hal yang menyebabkan amarah, maka Allah akan selalu menjaganya dan menjaga keimanannya”. Selain itu, salik juga harus mempunyai sifat amanah, dengan kata lain ia harus mampu bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan setiap harinya, baik itu tanggung jawab pada diri sendiri, orang lain, bahkan pada Allah swt, ia harus mempertanggung jawabkan ibadahnya seperti sholat ,zakat, puasa dan lain sebagainya, apakah semua ibadahnya sudah semata-mata karena Allah Ta’ala. Karena menurut sabda Nabi dalam salah satu riwayatnya, kita semua adalah pemimpin dan harus mempertanggung jawabkan apa yang ia pimpin. Pemimpin dalam hadits tersebut dapat kita artikan pemimpin umat di bumi, atau lebih spesifiknya pemimpin hatinya masing-masing, jadi ia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan hatinya setiap hatinya, apakah itu ikhlas karena Allah, ataukah merasakan sifat yang tidak terpuji seperti riya’ dan lain sebagainya. Sifat kodrati manusia yang terakhir adalah Sifat Da’awiyah, dengan kata lain, salik harus mampu mengajak hatinya bahkan semua amal perbuatannya kepada satu titik, Allah Ta’ala. Kapanpun, bagaimanapun kondisinya, ia harus mampu mengajak pribadinya untuk taqorrub ila Allah. Nah jika ketiga sifat kodrati manusia-sebagaimana termaktub di atas- dapat dimiliki oleh seorang salik, maka ia pun akan memiliki suatu keistimewaan, baik keistimewaan di depan masyarakat, bahkan keistimewaan di hadapan Tuhan pencipta alam, Allah Ta’ala, dan dengan demikian maka lambat laum ia pun akan mencapai maqom tertinggi yakni maqom makrifat biilahi Ta’ala. 6. Pada tangga yang terakhir ini, seorang salik harus mampu seperti lafadz alladzi (isim mausul), dengan kata lain salik harus mampu menghadirkan Tuhan dalam setiap amal ibadahnya, pikiran dan jiwanya harus bisa terpusat pada satu titik, Allah pencipta jagad, saat ia melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupannya, ia harus mampu wusul dengan Allah swt, merasakan kehadiran Allah dalam setiap pekerjaannya, bahkan kalau bisa ia harus mampu manunggaling kawulo Gusti, yakni dengan merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, karena sebagaimana wejangan kanjeng Sunan Kalijaga dalam Serat Siti Jenar ia mengatakan bahwa sejatinya Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna, tidak ada wujud-Nya, tidak terikat oleh waktu dan tempat, sebenarnya Ada-Nya itu tiada, seandainya Dia tidak ada, maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya. Nah maka dari itu untuk bisa melihat Tuhan, manusia harus bisa mengenal Tuhan, menghadirkan-Nya dalam semua amal perbuatannya, bahkan manusia harus bisa menyatukan-Nya dalam hati. Membincang seputar wusul ila Allah (manunggaling kawulo Gusti), penulis ingat dengan sebuah perkataan ulama sufi yang dianggap gila oleh penduduk sekitarnya, al-Hallaj, dalam kehidupannya ia sering mengatakan “aku lah yang Maha Benar di mana kebenaran tersebut adalah milik Tuhan dan aku mengenakan Esensi-Nya, sehingga tidak ada perbedaan di antara Kami”,(30) dan jika kita amati, statemen ini sejalan dengan statemen Ibnu Arabi “fa in qulta huwa huwa fahuwa huwa, wain qulta laisa huwa huwa falaisa huwa huwa”,(31) menurut pemahaman penulis, sebenarnya kita harus bisa menjadi seperti apa yang dikatakan al-Hallaj, yakni kita harus menghadirkan Tuhan dalam jiwa kita, kita harus menyatukan sukma kita dengan Dzat Tuhan, karena kebenaran yang nyata hanyalah milik Tuhan, sehingga kalau kita tidak mampu bersatu dengan-Nya (menghadirkan-Nya dalam hati), maka kita tidak akan mampu melihat kebenaran yang sejati, kita tidak mampu merasakan sinar kebenaran yang abadi, sehingga kita akan terjebak dalam kegelapan dunia, karena sejatinya yang ada dan bersinar hanyalah cahaya Tuhan, sebagaimana kata sesepuh Jawa Ki Soedjonoredjo dalam salah satu seratannya “sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu”.(32) Masih dalam Tahap ini, untuk memanunggaling kawulo Gusti (wusul ila Allah), manusia harus mampu mengarahkan dirinya ke “dalam” dirinya sendiri. Dengan kata lain manusia sudah tinggal aku sejatinya saja. Bersemayam, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah melekat menjadi cahaya bersama-Nya. ia dapat merasakan hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian, karena menurutnya yang ada hanyalah Tuhan. ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada dalam kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi. Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah berubah bermetamorfosis menjadi satu wujud dengan-Nya, karena kawulo sudah manunggal dengan Gustinya, yakni manunggal dalam kesempurnaannya. kalau sudah demikian, ia akan menjadi Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri, karena telah memanifestasikan dirinya dengan Dzat yang kuasa, ia mengalami suwung, fana’ dalam kesatuan-Nya. dan pada tahap inilah manusia benar-benar “menjadi Gusti Allah”. Dan ini hanya dapat dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sebuah pribadi yang telah mendaki tangga-tangga yang telah termaktub di atas, sebuah pribadi yang sudah wusul kehadirat Sang Illahi Robby. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi. Demikianlah enam tangga (yang disuguhkan Syekh Ibnu Malik al-Andalusy dalam sebuah kitabnya yang berjudul alfiyah ibnu malik) untuk menuju maqom makrifat billah, maqom tertinggi di sisi Allah. Bila manusia sudah menaiki tangga-tangga sebagaimana termaktub di atas, maka manusia pun akan sampai pada maqom ini, dan jika sudah demikian, ia akan merasakan bahwa sudah tidak ada lagi sesuatu di dunia ini melainkan Allah, ia akan menguap, mencair, dan menyatu bersama Gusti, bahkan seluruh ciptaan Gusti pun sudah menyatu dalam dirinya. Bersambung …! Catatan kaki : Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000), hal. 12. 2 Heru Kurniawan, “Etika dan Estetika dalam Sastra Sufi” (Semarang: Wawasan, 22 Mei 2005), hal. 17. 3 Ibnu Malik, “Tashiil al-Qowa’idi wa Takmiili al-Maqoosidi”, (misr: wizaroh el-tsaqofah, 1999), hal 5. 4 Dairoh al-Ma’arif al-Islamiyah (Encyclopedia of Islam) 5 Aleppo adalah nama sebuah kota di utara Syiria. Aleppo juga merupakan sebuah kota tertua di dunia (lihat Wikipedia-Aleppo) 6 Ibnu Malik, “Tashiil al-Qowa’idi wa Takmiili al-Maqoosidi”,op. cit. hal 6. 7 ibid, op. cit. hal 7. 8 Heru Kurniawan, “estetika perpuisian Abdul Wachid B.S.” (sebuah makalah “Mengkritisi Perpuisian dan Kepenyairan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, pada tanggal 8 Februari 2005), hal 3. 9 Abdul Hadi W.M., Hermeneutika, Estetika, dan Religiositas (Yogyakarta: Mahatari, 2004), hal. 33. 10 ibid, hal 34-35. 11 Heru Kurniawan, op. cit, hal 5. 12 ibid, hal 7. 13 Nasr Hamid Abu Zayd, “Isykaliyat al-Qiroah”, maktabah madbouli cairo, 1996, hlm 145. bandingkan Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qurani: antara Teks, Konteks, dan Kontekstualisasi (Yogyakarta: Qalam, 2003), hal. 20. 14 Abdul Hadi W.M. sebuah makalah ilmiyah yang berjudul “Takwil sebagai Asas Teori Sastra dan Bentuk Hermeneutika Islam”, hal 8. 15 ibid, hal 9. 16 Muhammad Iqbal adalah seorang pujangga, filosof muslim dari sialkot, punjab, british raj (daerah pakistan)…lihat (wikipedia muhammad iqbal) 17 Abdul Hadi W.M. sebuah karya ilmiyah yang berjudul “Hermeneutik Modern”. hal 4. 18 ibid, hal 7. 19 “al-Futuuhat al-Makkiyah”, Muhyiddin Ibn Arabi, (1972; Maktabah Usrah, Kairo). j.4/h.345 20 Neils Mulder, “Mistisisme Jawa; Ideologi di Indonesia”, (Yogyakarta, LKiS, 2011). h.78. 21 Ibnu Athaillah as-Syakandari, “al-Hikam al-Athaiyah”, (Kairo, dar wabil ashaid, 2007), h.67. 22 Ibid, h.68 23 HR. Imam Bkhari 24 As-Suyuthi, “al-Asbah wa an-Nadha’ir”, (Kairo, Dar as-Salam, 2010), h.7 25 Achmad Chodjim, “Syekh Siti Jenar; Makna Kematian”, (Yogyakarta, Serambi, 2009), h.45 26 “al-hikam …”, h.34 27 Ibid, h.45 28 Ibid, h.20 29 Dr.Misbah Mansur Musa, “al-Misbah al-Munir”, (Kairo, Maktabah Azhariyah, 2005), h.56 30 “The Crucifixion of a mystic”, Abu Mansur al-Hallaj, terj. Eric Schoroeder, (Oxford University, 1997), h.12 31 “at-Tadbirrat al-Ilahiyyah”, Muhyiddin Ibnu Arabi, (Kairo, Hai’ah Ammah Misriyah, 1977), h.20 32 Selengkapnya bisa di lihat di http://alangalangkumitir.files.wordpress.com/2011/05/serat-suluk-ngabdulsalam.pd

Selasa, 06 Oktober 2015

GUS DUR pandangan sufisme dan pluralisme

Di latar Tugu Proklamasi, sejuta lilin duka dinyalakan mereka yang mencintai Gus Dur, meski dalam rinai hujan yang turun rintik-rintik. Mereka yang hadir malam itu memakai baju keyakinan yang berwarna-warni, bagai pelangi, indah sekali. Semua menunduk, berdo’a ke Hadirat Yang Maha Esa, tak peduli apa nama dan sebutan-Nya, untuk beliau; Gus Dur. Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat dalam ritual-ritual agama atau kepercayaan, tiba-tiba hanyut dalam emosi melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika rasional tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu.
Lihatlah, para bikhu (bhiksu) dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan do’a-do’a. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah seperti ini di manapun. Lihatlah, bendera merah putih berkibar setengah tiang selama tujuh hari, memberi hormat padanya. Para pemimpin dari berbagai belahan dunia menyampaikan belasungkawa, terima kasih dan harapan agar cita-cita Gus Dur diteruskan oleh siapa saja. Do’a-do’a, wirid-wirid dan zikir mereka bergemuruh berhari-hari memenuhi ruang maya, menembus langit demi langit sampai ujung tanpa batas. Bukan hanya Yusuf Kalla, mantan wakil Presiden, tapi juga beribu-ribu orang, yang bersaksi : “Sepanjang sejarah bangsa ini tak ada orang yang kematiannya diantarkan dengan kehormatan dan do’a oleh beragam identitas orang dan dalam jumlah yang begitu masif, kecuali beliau”.
Bagaimana kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur seperti itu? Suara apakah gerangan yang membisikkan dan menggerakkan nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang ini?. Tak ada jawaban rasional. Ia hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi. Saya ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw :
إن الله اذا احب عبدا دعا جبريل .فقال إنى أحب فلانا فأحبه فيحبه جبريل. ثم ينادى فى السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه اهل السماء قال فيوضع له القبول فى الارض. رواه ابو هريرة. أخرجه مالك فى الموطأ, ص 209.
“Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”.
Atau seperti kata Nabi Muhammad Saw :
طوبى للمخلصين الذين اذا حضروا لم يعرفوا, واذا غابوا لم يفتقدوا أولئك مصابيح الهدى تنجلى بهم كل فتنة ظلماء. رواه البيهقى)
“Aduhai, betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal (tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. al Baihaqi).
Atau seperti kata sang sufi besar Ibnu Athaillah al Sakandari :
تسبق انوار الحكماء أقوالهم فحيث صار التنوير وصل التعبير
Cahaya orang-orang bijak bestari mendahului perkataannya. Maka ketika batin telah tercerahkan, kata-kata mereka sampai (ke lubuk hati pendengarnya).
Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya. Maka Dialah yang membimbingnya. Maka mereka mencintainya, karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih dahulu dengan tulus. Maka getaran-getaran cinta itu menebar dan menembus relung-relung jiwa mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang elektrik halus tetapi dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu menjadi terang benderang.
Segera sesudah itu, begitu reflektif dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna padanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih sejuta sebutan lainnya. Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar”. Gus Dur adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan kurang ajar”, kata hati saya, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, katanya menuntaskan. Dan suasana berubah menjadi mengharu-biru.
Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman masing-masing. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pengalaman adalah kebenaran sejati, meski tak bisa diraba, tak bisa dianalisis dengan nalar. Ia melampaui kecerdasan nalar. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar.
Tetapi saya meyakini Gus Dur tak akan pernah meminta diberi sebutan apapun. Ia akan mengatakan “aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Aku hanyalah hamba Allah”. Ia tak pernah terganggu oleh sebutan-sebutan duniawi. Lebih dari 10 gelar kehormatan akademis tertinggi yang diterimanya dari berbagai universitas prestisius dunia, tak pernah dipakainya dan tak pernah disandangnya, bahkan bingkai-bingkainya tak dipasang di rumahnya. Ketika saya, suatu hari, memasuki salah satu kamar di rumahnya, saya melihat, bingkai-bingkai bertuliskan kata “penghargaan” tersebut, hanya ditata rapi di atas meja. Gus Dur tak seperti yang lain yang mengejar gelar-gelar kehormatan itu untuk membesarkan dirinya, bahkan meski dengan membayar berapapun. Gus Dur sudah besar dan terhormat, meski tak diberi sebutan kebesaran dan kehormatan apapun, termasuk Pahlawan. Terhadap penyebutan kehormatan di atas, Gus Dur mungkin akan menyanyikan syair ini :
وكل يدعى وصلا بليلى وليلى لا تقر لهم بذاك
Masing-masing boleh saja mengaku kekasih “Laila”
Tetapi “Laila” tak mengakui semua itu
Gus Dur bebas dan bersih dari keinginan-keinginan rendah dan kini. Ia tak menginginkan apapun dan tak iri hati pada siapapun. Ia tak mengharap-harap dan meminta puja-puji apapun dan dari siapapun. Ia menerima apapun yang terjadi . Ia ridha atas segala yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Jiwanya tak tergantung pada apa-apa dan pada siapa-siapa. Gelar-gelar kehormatan tak menjadikannya lebih besar. Gus Dur hanya akan mengatakan : “Aku sudah bekerja”. “Aku sudah berjuang”. “Aku sudah “berperang”. “Aku sudah membagi cinta” dan “Aku sudah memaafkan”. Itu sudah cukup. Selebihnya terserah Tuhan”.
Itu tentu karena Gus Dur telah membaca al Qur’an dan telah lama merenungkan maknanya : “Katakan (wahai Muhammad): “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.(Q.S. al Taubah,[9:105).
Lalu adakah orang yang memberi makna sebaliknya?. Adakah orang yang membencinya dan senang atas kematiannya, atau paling tidak orang yang tak ambil peduli atas kepergiannya?. Seperti kehidupan yang warna-warni, Tuhan juga menciptakan keanekaragam individu dengan sifat kualitatif yang berbeda-beda. Keragaman ini akan terus ada sepanjang kehidupan belum selesai, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Keragaman adalah niscaya kealaman. Saya membaca di dunia maya beragam komentar sinis terhadapnya. Gus Dur yang sudah selesai menjalani hidup, tetap saja dicaci-maki dan dicemooh oleh sejumlah orang, seperti ketika ia masih dan sedang menjalaninya. Sebagian mereka mengatakan bahwa ia tak pantas dipanggil Gus, karena ini panggilan untuk anak kiyai yang saleh. Lebih tepat ia disebut “Mr. Dur” atau sebutan lain. Bahkan Mr. Dur, kata mereka, tak layak disebut-sebut namanya lagi. Ia telah melukai hati umat dan menjual agamanya. Mereka mengingat apa yang pernah diucapkan dan dilakukan Gus Dur semasa hidupnya yang begitu banyak mengandung kekafiran kesesatan (bid’ah) dan kemusyrikan (menyekutukan Tjuhan). Kehadirannya di sejumlah gereja dan rumah ibadah lain, pendapatnya agar “Assalamu’alaikum” diganti dengan “Selamat pagi” atau “selamat siang”, persahabatannya dengan Yahudi, Israel, pembelaannya kepada non muslim adalah bentuk-bentuk kekafiran dan melukai umat Islam. Begitu juga prakarsanya untuk mencabut TAP MPRS No. XXV/1966 tentang larangan Komunisme, Leninisme dan Marxisme, serta konsistensinya yang luar biasa untuk menghargai keberagaman keyakinan manusia (Pluralisme) dan sejuta soal lainnya. Itu semua, kata mereka, adalah cacat-cacat Gus Dur yang tidak bisa dimaafkan. Untuk soal Pluralisme, mereka mengangap bahwa ia adalah paham yang sesat dan menyesatkan bahkan merupakan kemusyrikan (menyekutukan Tuhan). Ini karena pluralisme, menurut mereka, merupakan pengakuan atas kebenaran semua agama-agama dan semua keyakinan-keyakinan manusia. Dan ini dosa maha besar yang tidak akan diampuni.
Di kutub yang lain lagi, saya melihat ada sejumlah orang yang tak bicara apa-apa ketika Gus Dur wafat. Mereka diam, tanpa kata-kata, tanpa ekspresi dan seakan-akan membiarkan Gus Dur pergi. Apakah makna diam mereka? Ah, dia orang biasa saja!. Peduli amat!. Tak mengerti apa-apa?. Kebencian yang tak bisa meledak?. Luapan senang atas kematiannya yang tersekat?. O, apakah sesungguhnya makna diam mereka?. Simbol terperangah?, terkejut-kejut?, terbengong-bengong? Atau memang karena mereka tak lagi mampu mau bicara apa sesudah menyaksikan peristiwa maha dahsyat itu?. Diam memang menyimpan sejuta makna yang tak bisa kita pahami hari ini. Mungkin kita akan menemukan makna diam mereka kelak. Kita tunggu saja.
Tokoh Besar Sanggup Melawan Luka
Caci maki dan sumpah serapah terhadap Gus Dur, tidaklah membuatnya menjadi rendah, menjadi kecil. Sikap seperti itu justeru semakin menguatkan kebesarannya. Kita sudah membaca sejarah umat manusia, sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradok: dikagumi dan dicemooh. Ka’ab al Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang :
ما كان رجل حكيم فى قومه قط الا بغوا عليه وحسدوه
“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu ada mereka yang mencaci-maki dan mendengki”.
Jalal al Din al Suyuthi, ulama besar, seorang einsiklopedis, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan bahasa yang sedikit berbeda:
ما كان كبير فى عصر قط الا كان له عدو من السفلة. إذ الاشراف لم تزل تبتلى بالاطراف فكان لآدم إبليس , وكان لنوح حام وغيره وكان لداود جالوت واضرابه وكان لسليمان صخر وكان لعيسى بختنصر وكان لابراهيم النمرود وكان لموسى فرعون وهكذا الى محمد صلى الله عليه وسلم فكان له ابو جهل.
“Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dilawan Iblis, Nuh lawan Ham dan lainnya, Daud lawan Jalut dan pasukannya, Sulaiman lawan Sakhr, Isa lawan Bukhtanshir, Ibrahim lawan Namrud, Musa lawan Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad saw. Beliau dilawan Abu Jahal”.
Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarah mereka, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan dan dizindikkan (dituduh ateis) oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri dan buta pada kebenaran yang lain. Imam al Ghazali, sang sufi besar menyebut mereka “orang-orang yang memiliki pengetahuan terbatas. Seharusnya keterbatasan itu hanya bagi dirinya sendiri dan tak boleh dipaksakan kepada yang lain. Mereka tak mengerti bahwa setiap kata-kata suci mengandung beribu makna”.(Baca: Ihya Ulum al Din).
Abd Allah Sahal al Tusturi, sufi agung, bilang :
لو أعطى العبد بكل حرف من القرآن الف فهم لم يبلغ نهاية ما اودعه الله فى اية من كتابه لانه كلام الله وكلامه صفته . وكما ليس لله نهاية فكذلك لا نهاية لفهم كلامه وإنما يفهم كل بمقدار ما يفتح عليه.
الزكشى, البرهان فى علوم القرآن, جزء 1 ص 9
“Andai hamba Tuhan dianugerahi seribu mengerti makna untuk satu huruf al Qur’an, dia tak bisa menjangkau seluruh tanda kehendak Tuhan yang ditinggalkan dalam kitab-Nya. Karena ia adalah “Kalam Allah”(firman) yang adalah Sifat-Nya. Oleh karena Tuhan tak terbatas, maka juga tak ada batas mengerti makna firman-Nya. Setiap orang hanya bisa mengerti sebatas yang diberikan-Nya”.(Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al Qur’an, I/9).
Boleh jadi, mereka yang mengaku benar sendiri sambil menololkan orang lain itu, melukai dan menyerang, sesungguhnya tak lebih dari orang-orang yang gelisah atas kondisi ketakberdayaan diri dan ketakutan yang berlebih.
Lihatlah, tokoh sufi legendaris Abu Manshur al Hallaj. Ia harus berdiri di atas tiang gantungan untuk mengakhiri hidupnya. Hukuman ini dijatuhkan terhadapnya menyusul fatwa sejumlah Ulama yang berkolusi atau berselingkuh dengan para penguasa, konon, demi membela Tuhan. Mereka menilai pandangan al Hallaj tentang “Wahdah al Wujud”, atau “Hulul” (manunggal) sebagai kesesatan, kekafiran dan kemusyrikan yang nyata. Dia antara lain pernah bilang begini :
مزجت روحك فى روحى كما
تمزج الخمرة بالماء الزلا ل
فإذا مسك شيئ مسنى
فإذا أنت أنا فى كل حال
Roh-Mu bercampur rohku
Bagai campuran khamr
dan air tawar bening
Bila sesuatu menyentuh-Mu
Ia menyentuhku
Engkau adalah aku
Dalam segala hal
Teorinya tentang Kesatuan Wujud pada dasarnya juga meniscayakan pengakuan terhadap eksistensi agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, keyakinan-keyakinan, dan pada saat yang sama memprovokasi keharusan untuk mentoleransi seluruh agama-agama yang ada di muka bumi. Al Hallaj kokoh dengan keyakinannya. Tetapi dia membiarkan yang lain punya pikiran atau keyakinan sendiri yang lain. Dia tidak punya minat menyerangnya, malah mendo’akan mereka. Sebelum ajal menjemput, di hadapan ribuan pasang mata yang merah-padam, al Hallaj mengadu kepada Tuhan :
الهى هؤلاء عبادك قد اجتمعوا لقتلى تعصبا لدينك وتقربا اليك, فاغفر لهم فإنك لو كشفت لهم ما كشفت لى لما فعلوا ما فعلوا. ولو سترت عنى ما سترت عنهم لما ابتليت ما ابتليت. فلك الحمد فيما تفعل ولك الحمد فيما تريد.
“O, Tuhanku, mereka adalah hamba-hamba-Mu. Mereka telah berkumpul untuk membunuhku, karena semangat menggebu mereka untuk membela agama-Mu dan ingin dekat dengan-Mu. Ampunilah mereka. Andai saja Engkau singkapkan kepada mereka seperti apa yang telah Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Andai saja Engkau membutakan mataku, seperti membutakan mata mereka, niscaya aku tidak akan mengalami cobaan seperti ini. Hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau putuskan, dan hanya bagi-Mu lah segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Ibnu Arabi, sang Guru terbesar kaum sufi (al Syaikh al Akbar), juga harus menerima beragam tuduhan : kafir, musyrik, murtad dan sebagainya. Ketika sedang berada di pondokannya di Mesir, ratusan orang dengan pedang terhunus di tangan, menyerbunya untuk membunuhnya. Sahabatnya menyelematkan dia. Katanya kepada mereka yang marah: “Muhyiddin memang sedang “gila”. Kalian mau membunuh “orang gila?”. Tuduhan dan serbuan terhadapnya itu, gara-gara Ibnu Arabi mengemukakan pandangan pluralisme keagamaan yang diungkapkan dalam bait-bait puisi menawan. Ia menuliskannya dalam Diwan (kumpulan puisi) nya yang terkenal : “Tarjuman al Asywaq” (Senandung Kerinduan). Di situ ia bersenandung lagu rindu:
لقد صار قلبى قابلا كل صورة
فمرعى لغزلان ودير لرهبان
وبيت لاوثا ن وكعبة طا ئف
والواح توراة ومصحف قرآن
ادين بدين الحب اين توجهت
ركائبه فا لحب دينى وايمانى
Jiwaku telah siap menjemput
Segala fenomena semesta
Padang rumput bagi kawanan rusa
Kuil-kuil para Rahib
Rumah berhala-berhala
Ka’bah orang yang memutarinya
Lempengan-lempengan Taurat
Lembaran-lembaran suci Al Qur’an
O, Akulah penganut setia Cinta
Ke manapun gerobag
pembawa Cinta bergerak
Aku mengejarnya
Aku penganut Cinta-Mu
Abu Yazid al Bisthami diusir dari rumahnya sampai tujuh kali dan disiksa berkali-kali. Dzunnun al Mishri digiring dan diseret dengan tangan dirantai dari Mesir menuju Baghdad. Mereka menuduhnya “zindiq” (atheis). Samnun al Muhib, dilempari tulang belulang kotor kering. Sahl al Tusturi diusir dari rumahnya, dari tanah airnya ke Basrah. Abu al Qasim al Junaidi, berkali-kali dituduh kafir. Dia terpaksa tak keluar rumah selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun sampai kematian menjemputnya. Syeikh Abu al Hasan al Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah, diusir dari Mesir. Dia dituduh atheis. Taj al Din al Subki, ahli fiqh terkemuka, dikafirkan. Dia ditangkap lalu dengan tangan diborgol diarak ramai-ramai dari Syam (Siria) ke Mesir. Ibnu Rusyd al Hafid, diusir dan diasingkan ke Alisan, sebuah kampung dekat Cordoba, yang sempat menjadi perkampungan kaum Yahudi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam al Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Jalal al Din al Rumi, Syuhrawardi al Maqtul, Abu Sa’id al Kharraz, Abu Bakar al Syibli, Abu Bakar al Nablusi, Syeikh Abu Madyan, Izz al Din bin Abd al Salam, dan lain-lain juga mengalami “mihnah” (inkuisisi) dengan cara yang beragam. Mereka, seperti diketahui banyak orang, adalah tokoh-tokoh legendaries, para maha guru, sufi besar, para Imam besar, para Ulama, kaum cendikiawan, para pejuang kemanusiaan.
Dengarlah puisi ini :
وكفروا وزندقوا وبدعوا إذا دعاهم اللبيب الاورع
Mereka yang terbatas
begitu mudah mengkafirkan,
mensesatkan dan memusyrikkan
bila para bijak bestari mengajak
Dengarkan pula puisi elegi sang sufi besar Ali Zainal Abidin ini :
ويا رب جوهر علم لو ابوح به
لقيل لى انت ممن يعبد الوثنا
ولاستباح رجال مسلمون دمى
يرون اقبح ما يأتونه حسنا
Aduhai, betapa banyak mutiara pengetahuan
Andai aku sebarkan
Niscaya aku dibilang: “kau pemuja berhala!”
Niscaya mereka menghalalkan darahku
Mereka kira
Kerja buruk mereka
Adalah kebaikan semata
Meskipun para bijak-bestari itu harus mengalami nestapa karena pandangan-pandangan agamanya yang dinilai sesat oleh keputusan fatwa, atau vonis kekuasaan otoriterian dan despotik, mereka tetap saja tegar dan siap melawan sakit dan menanggung kengerian. Nama mereka tetap hidup sepanjang sejarah, sepanjang masa. Pikiran-pikirannya tak pernah usang dan terus menjadi inspirasi bagi banyak cendekiawan sesudahnya. Buku-buku dan tulisan-tulisan mereka terus dibaca, dikaji, dan didiskusikan atau diseminarkan, berabad dan berkurun-kurun. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang masih dikunjungi dan diziarahi, sampai hari ini dan untuk hari-hari depan yang panjang. Meski telah pergi, mereka tetap memberi berkah dan kegembiraan kepada orang-orang yang datang menjenguk dan yang menjaga pusaranya yang penuh bunga. Demi nilai-nilai yang luhur, demi kebenaran dan kejujuran, demi keadilan dan cinta, mereka melawan tirani dan melawan luka.
Seperti mereka, begitulah eksistensi Gus Dur. Ia dimaknai secara beragam dan controversial, baik ketika ia hadir di muka bumi maupun sesudah ia menghilang untuk pulang dan tak kembali lagi. Ia dikagumi, dicintai dan dihormati oleh begitu banyak manusia dan mereka memperoleh inspirasi dari gagasan-gagasannya. Dalam bahasa santri ; “Mereka memperoleh “barokah” Gus Dur”. Tetapi dalam waku yang sama juga disingkirkan, dikafirkan dan dimusyrikkan oleh orang-orang yang tak mengerti. Rumahnya pernah diteror orang tak dikenal. Alhamdulillah, Gus Dur selamat. “Al Insan A’daa-u ma Jahilu” (manusia memusuhi apa yang tak diketahuinya), kata pepatah bijak.
Pluralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi
Gus Dur adalah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tidak suka dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur agar jika ia kelak wafat, nisannya ditulis “Di Sini dikubur Sang Pluralis”. Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tidak, dan tak peduli masyarakat memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin memandang manusia, siapapun dia dan di manapun dia berada, sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur juga ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhluk-Nya, Gus Dur juga ingin mengasihinya. “Takhallqu bi Akhlaq Allah” (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. Sejauh yang saya tahu, Gus Dur tak banyak bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Qur’an ini : “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”.
“Li Ta’arafu” (saling mengenal), tidak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah dan tubuh yang lain. Saling mengenal adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang berbeda, yang tak sama. Lebih dari segalanya “li ta’arafu” berarti agar kalian saling menjadi arif bagi yang lain.
Yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling taqwa, bukan yang paling gagah atau cantik, bukan yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa bukan sekedar sering datang ke masjid atau ke majlis ta’lim, membaca kitab suci, memutar-mutar tasbih, bangun malam, atau puasa saban hari. Tetapi lebih dari itu taqwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam.
Semua itulah makna taqwa yang dipahami Gus Dur. Maka Gus Dur bukan sekedar menghargai atau menghormati manusia yang berbuat baik, melainkan juga menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Sebaliknya, ia akan menentang siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia akan membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan. Ketika para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bersama mereka. Ketika Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak “jangan”. Ketika Inul Daratisna dihujat ramai-ramai karena dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia “memeluk”nya dengan hangat. Ketika Dorce disoraki karena berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan lembut dan penuh kasih. “Jika itu adalah dirimu, teruslah bekerja”, katanya. Ketika urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diserahkan kepada Negara, ia berdemonstrasi bersama isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama mereka yang menghargai kemanusiaan. Ketika orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. Meski tak bisa melihat dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan. Gus Dur senang.
Seringkali kita melihat sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia harus mempertaruhkan jiwanya. Ia tak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang bikin heboh itu, misalnya, Gus Dur tak menemukan mata lain yang penuh pengertian. Ia berjalan sendiri. Seorang sufi mengatakan “ia yang jiwanya telah mencapai kesadaran yang matang, bantuan eksternal tak lagi diperlukan”. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, karena ia telah matang. “La Yakhaf Laumata Laa-im” (ia tak pernah takut pada mata yang membenci). Kata Gus Dur; “Di tempatkan di urutan manapun, Muhammad bin Abdullah tetap saja sang penghulu para nabi dan utusan Tuhan, Insan Kamil”.
Bagi Gus Dur semua manusia adalah sama, tak peduli dari mana asal usulnya, apa jenis kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat adalah bahwa mereka manusia seperti dirinya dan yang lain. Yang ia lihat adalah niat baik dan perbuatannya, seperti kata Nabi ; “Tuhan tidak melihat tubuh dan wajahmu, melainkan amal dan hatimu”. Gus Dur bukan tidak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tidak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Gus tetap saja nembela mereka. Ia membela karena tubuh mereka diserang dan dilukai hanya karena baju agamanya yang berwarna lain, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan dan kehormatan mereka diinjak-injak. Padahal mereka tak melakukan apa-apa. Membela kehormatan adalah perjuangan besar. Bagi Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, personal, individual, yang dianggap sebagian orang sebagai tak bermoral, tak boleh melibatkan Negara, tak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi harus diselesaikan sendiri oleh masyarakat dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh, sampai khatam dan dengan ketulusan.
Bagi Gus Dur, keyakinan dan pikiran tak bisa dinamai tak bisa diberi tanda. Pikiran adalah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hamba-Nya. Dialah Pemilik nafas setiap yang hidup dan Dialah yang akan menanyainya kelak, bila tiba masanya. Karena itu, hanya Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tidak yang lain. Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi :
ليس فى وسعك إبعاد تلك الفكر عنك بمأئة الف جهد وسعى
“Tak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat”.
Itulah sikap seorang yang telah memiliki batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya mampu menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Kata-kata-Nya memiliki dan menyimpan berjuta makna dan tak terbatas. Pemaksaan atas pikiran dan keyakinan orang tak akan menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya menjadi sakit, menderita, dan menghambat kemajuan orang dan peradaban manusia. Tak ada cara lain untuk menundukkan orang lain kecuali melalui bicara manis, tanpa marah-marah dan dengan otak yang cerdas. Jika tak tunduk, biarkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri, sambil katakan saja : “anda adalah anda dan aku adalah aku. Wassalam”.
Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya telah diajarkan oleh Islam dan para Nabi-nabi sejak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya adalah Al Mustashfa, karya Imam Abu Hamid al Ghazali. Sufi besar ini mengatakan bahwa tujuan aturan agama adalah memberikan jaminan keselamatan keyakinan orang, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al Ghazali menyebut lima prinsip dasar perlindungan ini sebagai “al Kulliyyat al Khams”. Orang sering menyebutnya “Maqashid al Syari’ah” (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada setiap manusia yang tak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah basis fundamental (al rukn al asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur. Meskipun Gus Dur membaca dan mengerti, tetapi ia tidak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, seperti dituduhkan sebagian orang. Ia menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia mampu menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan genuine, sejalan dengan konteks kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang sangat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya : bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan.
Melalui penjagaan atas lima prinsip dasar kemanusiaan universal tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan manusia atas dasar kemanusiaan (ukhuwwah Insaniyyah), tanpa dibatasi sekat-sekat primordial. Ini menurut saya sesungguhnya merupakan gagasan para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, adalah orang-orang yang paling vocal menyuarakan gagasan pluralisme dan persaudaraan universal itu. Tak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tidak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang kehadapan-Nya seluruh yang mawjud tunduk. Dan seluruh yang mawjud (ada) sejak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda.
عباراتنا شتى وحسنك واحد وكل الى ذاك الجمال يشير
Bahasa kita begitu beragam
tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah
Dan kita masing-masing menuju
kepada Keindahan Yang Satu itu
Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini seharusnya tidak menghalangi setiap manusia untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak manusia yang lainnya. Para sufi memandang alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan sebagai “tajalli” Tuhan, perwujudan rahmat dan keagungan-Nya di alam semesta. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Dialah Sang Penciptanya. Ibnu Athaillah, nama sufi besar yang dikagumi Gus Dur, banyak bicara soal Kesatuan Semesta, meneruskan gagasan Ibnu Arabi. Ibnu Ajibah mengomentari gagasan itu dalam syairnya yang indah:
أنظر جمالى شاهدا فى كل إنسان
الماء يجرى نافدا فى أس الاغصان
تجده ماء واحدا والزهر ألوان
Lihatlah Keindahan-Ku
Tampak pada semua manusia
Air mengalir,
menembus
pokok dahan dan ranting
Engkau mendapatinya
Berasal dari satu mata air
Padahal bunga berwarna-warni
Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik raksasa dan primer sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau dibaca tetapi hanya sampai kulit luar, yang tertulis, yang literal, harfiyah, dan tak khatam, tak selesai.

Minggu, 26 Januari 2014

cara membuat batagor bandung

Cara membuat batagor sebenarnya cukup mudah, dan tidak serumit yang kita bayangkan. Jadi yang ingin mencoba membuat batagor sendiri jangan ditunda – tunda. Batagaor adalah kuliner jajanan Indonesia yang sudah dikenal masyarakat luas. Sebenarnya batagor itu adalah kependekan dari bakso tahu goreng, yang merupakan salah satu jajanan khas Bandung. Batagor pada umumnya terbuat dari tahu yang diisi dengan bakso daging atau ikan. Batagor disajikan dengan sambal kacang yang disiram diatasnya dan itulah yang membuat batagor ada citarasa gurihnya.
Batagor sudah terkenal luas di Indonesia. Karena memiliki rasa yang enak dan cara membuat batagor yang terbilang mudah, menjadikan peluang usaha batagor yang cukup menjanjikan. Dan kali ini kita akan berbagi resep batagor dan cara membuat batagor yang nikmat namun mudah.

Bahan – bahan untuk membuat batagor

ikan tenggiri 150 gram dicincang
daging ayam 150 gram  dicincang
tahu putih ukuran besar 5 buah ( potong diagonal bentuk segitiga )
kulit pangsit goreng 9 lembar 
tepung kanji/tapioka 6 sdm
minyak wijen 3 sdm
daun bawang 1 batang ( rajang halus )
telur 1 butir
garam secukupnya

Bahan – bahan untuk sambal kacang

kacang tanah 100 gr  goreng, haluskan.
cabai merah 4 buah  sangrai, haluskan.
gula pasir 1 sdm 
air hangat 125 ml 
cuka 1 sdm 
garam 1/2 sdt 

Cara membuat sambal kacang

Campurkan kacang yang telah dihaluskan bersama cabai goreng, gula, cuka dan garam sampai rata. Tambahkan air hangat untuk mengencerkannya aduk sampai licin dan rata.

cara membuat batagor

Cara membuat batagor

Adonan isi batagor :
Kocok telur lalu masukkan daging ikan dan ayam yang sudah dicincang, minyak wijen, tepung tapioka, rajangan daun bawang dan garam. Aduk rata sampai menjadi adonan yang bisa dibentuk
Keruk isi tahu untuk tempat mengisi adonan bakso. Masukkan adonan isi ke dalam tahu.
Untuk batagor pangsit :
Letakan adonan ke tengah tengah kulit pangsit kemudian satukan sudut kulit pangsit dan tekuk sedikit keluar.
Panaskan minyak dalam penggorengan. Goreng tahu dan pangsit hingga matang kecoklatan. Angkat dan tiriskan.
Potong batagor menjadi 2 atau 3 bagian taruh ke piring saji siramkan saus kacang diatasnya. Batagor bandung enak dan gurih siap dinikmati

Tips membuat batagor


Agar saus kacang lebih tahan lama saat sangrai kacang sampai agak keluar minyak.
Agar saus tidak pucat dan tampak gelap bisa kita tambahkan kecap manis kedalam bumbu saus batagor. Bisa ditambahkan saus tomat agar kemerah merahan. Jika tidak suka gunakan cabai dengan membuang biji cabai.
Cara menggoreng batagor sebaiknya semua bagian tahu dan pangsit terendam minyak ( deep Fried ) agar batagor lebih gurih dan enak.
Cukup mudah kan, diatas sudah saya tuliskan lengkap mulai dari bahan, cara membuat sambal kacang, dan batagornya. Jadi yang ingin membuat batagor untuk jajanan dirumah bisa langsung mencoba resep cara membuat batagor diatas.